Rumah Pengasingan Bung Karno NTT

0 302

Lokasi Rumah Pengasingan Bung Karno

Rumah Pengasingan Bung Karno terletak di Jl. Perwira Nusa Tenggara Tim., Kel. Kotaraja, Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Rumah Pengasingan Bung Karno

Sebuah Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tertanggal 28 Desember 1933 membuat Bung Karno yang saat itu berusia 35 tahun harus menjalani hukuman pembuangan sebagai tahanan politik di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Di rumah pengasingan ini, Sang Proklamator bersama istrinya Inggit Ganarsih, mertuanya Ibu Amsih, dan dua anak angkatnya Ratna dan Kartika, menghabiskan waktu mereka sebagai tahanan politik. Sempatkan waktu Anda untuk mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno selama berkunjung ke Ende. Rumah beratap seng ini berada di daerah Nggobe tepatnya di Jalan Perwira, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Di sinilah Anda dapat meresapi bagaimana Bung Karno menjalani keseharian hidupnya bersama keluarga diasingkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda selama 4 tahun (1934-1938). Di balik perjuangannya selama pengasingan, Ende telah membenamkan kesan mendalam bagi Bapak Pendiri Bangsa Indonesia ini.

Selama 8 hari pelayaran dari Surabaya dan dikawal dua orang petugas pemerintah, tibalah Bung Karno dan keluarganya di Ende. Ia langsung dimasukkan dalam tahanan rumah milik pemerintah Hindia Belanda hingga akhirnya tinggal di rumah milik Haji Abdullah Ambuwaru.

Ende telah terkenal ke mancanegara jauh sebelum Taman Nasional Komodo dikunjungi wisatawan. Akan tetapi, saat Bung Karno datang ke sini ini dahulu, Ende ibarat kota mati dengan jalanan kecil belum beraspal. Saat itu rumah penduduk pun masih jarang dan wilayahnya masih berupa hutan, kebun karet, dan tanaman rempah-rempah. Belum ada pelabuhan laut apalagi transportasi udara di Ende saat itu.

Rumah yang menghadap ke timur di Pelabuhan Ende ini awalnya milik Haji Abdullah Ambuwaru yang kemudian dikontrak oleh Bung Karno. Luas bangunannya 9 x 18 m², memiliki tiga kamar yang berderet di sisi kanannya. Satu kamar tidur untuk Bung Karno, satu kamar untuk Ibu Inggit bersama Ibu Amsih, dan satu kamar lagi untuk ruang tamu.

Di Ende, Bung Karno kehilangan mertuanya Ibu Amsih yang paling menyayangi beliau. Ibu Amsih wafat tahun 1935 dan dimakamkan di Pemakaman Karara, Ende. Karena sayangnya pada mertua, Bung Karno mengerjakan sendiri makam mertuanya tersebut. Bahkan kini makam itu masih dalam keadaan kondisi sangat baik.

Di belakang rumah ini juga ada sebuah ruangan yang sering digunakan Bung Karno untuk salat dan bermeditasi. Masih membekas dua telapak tangan Bung Karno ketika ia bersujud. Ada juga sebuah sumur yang airnya masih dapat digunakan hingga sekarang.

Tidak banyak yang berubah dari bentuk asli rumah yang dibangun tahun 1927 itu, kecuali saja atap sengnya yang diganti karena bocor. Rumah ini sejak tahun 1954 resmi dijadikan museum dan setelah Indonesia merdeka, Bung Karno sudah tiga kali berkunjung, yaitu tahun 1951, 1954 dan 1957. Tahun 1952 rumah ini pernah dijadikan Kantor Sosial Daerah Flores dan tempat bersidang DPRD Flores.

Di Rumah Pengasingan Bung Karno ini dapat Anda jumpai beragam barang rumah tangga yang dahulu digunakan Bung Karno. Saat Anda berkunjung disarankan Anda dipandu untuk mendapatkan penjelasan dan kisah menarik di baliknya. Bapak Musa adalah seorang penjaga yang dapat Anda sewa sebagai pemandu. Musa adalah cucu Abu Bakar, yaitu seorang pemain sandiwara dari naskah tonil yang dibuat Bung Karno. Saat itu ada 47 anggota dari grup tonil Kelimoetoe yang dibentuk oleh Bung Karno.

Source http://pariwisata.serverjogja.com/home http://pariwisata.serverjogja.com/objek/63-rumah_pengasingan_bung_karno
Comments
Loading...