situsbudaya.id

Rumah Pengasingan Bung Hatta Maluku Tengah

0 37

Lokasi Rumah Pengasingan Bung Hatta

Rumah Pengasingan Bung Hatta terletak di ujung pertigaan jalanan Naira, Kepulauan Banda, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Indonesia. 

Rumah Pengasingan Bung Hatta

Rumah itu jauh dari kata mewah karena luas tanahnya yang tidak besar dan bangunannya yang tidak megah. Di pojok depan ada sebuah papan sederhana dengan cat putih yang bertuliskan “Rumah Pengasingan Bung Hatta”.

Mohammad Hatta, atau lebih akrab dipanggil Bung Hatta, pernah diasingkan di Kepulauan Banda tepatnya di Pulau Naira pada tahun 1936-1942. Sebelum dipindahkan kesini, pemerintah kolonial Belanda pernah mengasingkan Bung Hatta di Boven Digoel, Papua. Kecintaan Bung Hatta pada buku-buku dan kepeduliannya pada pendidikan membekas pada bangunan yang sempat menaunginya selama 6 tahun ini. Selama diasingkan, Bung Hatta membuka Sekolah Sore bagi anak-anak Banda yang pengajarannya disampaikan dalam bahasa Belanda. Selain itu, keloyalannya pada negeri inilah yang membuatnya terus menanamkan patriotisme kepada murid-muridnya maupun kepada orang-orang Banda.

Keadaan rumah pengasingan ini semakin membaik saat adanya pemugaran yang dilakukan pada tahun 1981-1983, setelah sebelumnya bangunan ini hancur oleh bom sekutu pada tahun 1944. Sepasang pintu depannya cukup tinggi dengan kaca-kaca yang dihias oleh gorden berwarna putih tulang. Melapisi pintu itu, di bagian terluar terdapat sepasang daun pintu yang terbuat dari kayu yang disusun berbuku-buku. Rumah itu memiliki nuansa khas Eropa dengan ubin-ubin terakota, jendela-jendela yang besar dan langit-langit yang tinggi. Ruang pertama adalah ruang tamu, tempat semua barang-barang Bung Hatta dipamerkan. Ada kursi-kursi kayu lengkap dengan meja kecilnya; beberapa foto lama Bung Hatta yang digantung rapi memenuhi dinding; dan sebuah almari kaca tua berisi benda-benda kecil seperti kacamata, peci, sepasang sepatu, jas, dan tumpukan surat-surat lama.

Di sebelah kanan, terdapat ruang kerja Bung Hatta yang berisi satu set meja dan kursi; diatasnya bertengger sebuah mesin ketik tua. Rak berisi buku-buku koleksi Bung Hatta juga masih tersimpan rapi di dalam ruangan itu. Di bagian belakang rumah, berjajar rapi tujuh pasang meja dan bangku kayu yang menghadap ke sebuah papan tulis kapur. Di atas papannya tersemat tulisan tangan Bung Hatta yang masih membekas “Sedjarah Perdjoeangan Indonesia Setelah Soempa Pemoeda di Batavia Pada Tahun 1928“. Siapa saja yang menatap pemandangan ini tentu akan bergetar, berjanji mati-matian untuk menebalkan kebangsaannya.

Tidak hanya kondang di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara, Rumah Pengasingan ini juga sering dikunjungi oleh peneliti sejarah, baik dalam maupun luar negeri. Meski hanya enam tahun singgah di pulau kecil ini, namun kehangatan Bung Hatta akan selalu terkenang di hati setiap orang-orang Banda. Tentu, cerita mengenai seorang anak bangsa bernama Hatta tidak akan pernah lekang dan hilang dari seribu satu kisah di Banda Naira.

Source http://www.bandaneira.id/ http://www.bandaneira.id/2017/04/07/menebalkan-kebangsaan-di-rumah-pengasingan-hatta/#more-158
Comments
Loading...