Rumah PDRI Sumpur Kudus

0 16

Rumah PDRI Sumpur Kudus

Pada tanggal 14-16 Mei 1949, PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) di bawah ketua Mr. Syafruddin Prawiranegara mengadakan rapat besar yang berlokasi di rumah Wali Nagari Perang Silantai, yang bernama Bapak Hasan Basri. Rumah tersebut berada di Nagari Silantai, Kecamatan Sumpur Kudus, kurang lebih 4 km dari Sumpur Kudus arah Utara, berada persis di tepi Jalan Ampong, menghadap ke Utara. Rumah tersebut sampai saat ini masih baik dan masih didiami oleh keluarga Bapak Hasan Basri. Rumah ini terbuat dari bahan dasar kayu dengan atap dari bahan seng. Di halaman rumah dipasang papan nama tempat Kabinet PDRI, 14-16 Mei 1949, dan terbuat dari bahan kayu. Bentuk rumah sampai saat ini masih asli, hanya ada penambahan ruang samping dan ruang penghubung antara rumah depan dengan dapur, yang semula terpisah.

Bagian dalam rumah mempunyai ruang tengah berbentuk tanda tambah, dengan ruang tamu berada di depan, yang diteruskan dengan ruang tengah, di antara kamar-kamar yang berjumlah tiga buah. Satu di sisi Timur, bersebelahan dengan ruang tamu, dua buah lagi berada di kanan kiri ruang tengah. Luas keseluruhan rumah adalah, panjang 15,85 m, dan lebar 9,40 m, berbentuk persegi dengan variasi dua buah ruang menonjol ke depan dengan sisi timur paling menonjol, disusul dengan ruang tamu atau pintu masuk tepat di tengah, disambung dengan sebuah ruang lagi yang menjorok ke belakang. Pintu keluar berada di sisi Timur yang menuju ke arah sungai, sekitar 200 m di arah Tenggara. Pada waktu digunakan untuk rapat PDRI, ruang tengah dikosongkan dan para pejabat yang rapat duduk di bawah/lesehan. Dari belakang, ruang dapur yang dulunya terpisah, yang berfungsi sebagai tempat makanan dan minuman disajikan oleh ibu-ibu yang berkoordinasi oleh Ibu Nursani, istri Bapak Hasan Basri (Walinagari Perang Silantai).

Terdapat beberapa peralatan yang sampai saat ini masih disimpan dan dulunya pernah digunakan oleh para anggota rapat PDRI, antara lain meja dan 2 buah kursi dari kayu, sepasang meja tamu dari rotan, 2 buah almari, dan sebuah tongkat Mr. Syafruddin Prawiranegara yang sekarang disimpan oleh keluarga Hasan Basri. Sedangkan saksi-saksi sejarah yang secara langsung terlibat di dalam rapat PDRI yang ketika itu berdomisili di Silantai adalah Bapak Hasan Basri, yang pada waktu peristiwa diatas menjabat sebagai Walinagari Perang Silantai (meninggal tahun 1996), Bapak Bahrudin yang saat itu merupakan anggota Angkatan Tjilik Republik Indonesia (ASTRI) yang ikut mengawal jalannya rapat, dan ibu Nursani, istri Bapak Hasan Basri, sebagai Ketua Konsumsi Badan Penyantun Korban Perang (BPKP). Di samping rumah Walinagari Perang Silantai yang dijadikan tempat rapat PDRI, ketika istirahat mereka akan menempati sebuah surau di tepi Sungai Batang Said sekitar 300 m arah Tenggara dari tempat rapat PDRI atau di pinggir dusun berbatasan dengan daerah persawahan. Surau tersebut menghadap ke Timur berjarak sekitar 5 m dari sungai, dikenal dengan nama Surau Tabing. Di surau ini dulu Mr. Syafrudin Prawiranegara menginap di salah satu kamar di ruang tengah. Sayang sekali bahwa saat ini kamar tersebut telah rusak, sehingga surau sekarang tinggal ruangan kosong dengan sebuah mihrab di sisi Barat. Surau tersebut masih berdiri hingga kini.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Kabupaten-Sijunjung.pdf
Comments
Loading...