Rumah Patih Lumajang RM Singowigoeno

0 7

Rumah Patih Lumajang RM Singowigoeno

Rumah itu terletak di Jalan Mayor Kamari Sampurna, Dukuh Krajah, Desa Curahpetung, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi rumah lawas itu berada di selatan TK Dewantara, atau tepatnya berada di belakang Kantor Pemasaran Kavling Kedungjajang Pacific Land.

Raden Mas Singowigoeno diangkat sebagai Patih Zelfstandig Loemadjang pada tanggal 23 Januari 1890, dan purna tugas pada tanggal 10 Mei 1920 dengan Surat Keputusan Purna Tugas atau Besluit Gouvernement Kolonial Belanda Nomor 10 tanggal 10 Mei 1920. Jadi, ia menjabat sebagai patih di Lumajang (Patih van Loemadjang) selama 30 tahun 3 bulan 17 hari. Sebelum menjadi patih di Lumajang, RM Singowigoeno menjabat sebagai Patih Afdeeling Kraksaan selama 4 tahun lamanya.

Pada awal abad ke-19, Lumajang masih merupakan desa kecil. Kemudian pada tahun 1882 wilayah Lumajang berubah menjadi distrik (setingkat kecamatan) yang dipimpin oleh seorang Wedana. Lalu, sejak 1886 status wilayah ini dinaikkan menjadi Afdeeling, yaitu setingkat kabupaten dengan kepala pemerintahannya adalah seorang Patih Afdeeling. Jabatan inilah yang pertama kali dipegang oleh RM Singowigoeno.

Pada waktu menjabat sebagai Patih Zelfstandig Loemadjang itu, RM Singowigoeno mendirikan rumah kediaman di lokasi ini, yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Alun-alun Lumajang. Saya belum menemukan literature mengapa Sang Patih membangun kediamannya agak jauh dari pusat pemerintahannya yang berada di dekat alun-alun, tapi malah dekat dengan Stasiun Grobogan yang hanya berjarak sekitar 50 meter.

Kediaman yang dibangun di Desa Curahpetung ini, oleh masyarakat setempat dikenal dengan Ndaleman. Ndaleman merupakan istilah yang berasal dari bahasa Jawa dari kata “dalem”, yang artinya tempat tinggal atau rumah. Kata ini umumnya digunakan untuk menunjuk kepada kediaman priyayi yang berkuasa pada saat itu.
Yang menarik dari bentuk rumah Sang Patih ini adalah struktur bangunannya yang tidak berbentuk joglo berbahan kayu seperti lazimnya yang dimiliki oleh seorang penguasa pribumi waktu itu, namun rumahnya bergaya arsitektur Indis.

Arsitektur Indis merupakan asimilasi atau campuran dari unsur budaya Barat terutama Belanda dengan budaya Indonesia khususnya dari Jawa. Bentuk rumah bergaya Indis seperti Rumah Patih Lumajang ini, sepintas tampak seperti bangunan tradisional dengan atap berbentuk Joglo Limasan namun bahan bakunya kebanyakan dari tembok yang terdiri dari campuran batu bata dan pasir yang dicampur dengan batu kapur. Bagian depan berupa selasar terbuka sebagai tempat untuk penerimaan tamu, dan kolomnya sudah digantikan oleh besi berbentuk pipa, atau tidak lagi mengggunakan pilar-pilar besar. Pintu muka terletak di tengah diapit dengan pintu-pintu lainnya pada sisi kiri dan kanan. Kamar tidur terletak pada bagian tengah, di sisi kiri dan kanan, sedang ruang yang terapit dulunya difungsikan untuk ruang makan atau perjamuan makan malam. Bagian belakang terbuka untuk minum teh pada sore hari sambil membaca buku atau mendengarkan radio.

Menurut warga setempat, rumah itu sudah lama tidak ditempati sehingga menjadi tidak berpenghuni dan terlantar. Dari bentuk bangunannya masih terlihat kemegahannya, hanya saja terlihat kurang terawat. Sungguh disayangkan, jika rumah yang memiliki perjalanan sejarah Lumajang dibiarkan begitu saja.

Source http://kekunaan.blogspot.com http://kekunaan.blogspot.com/2018/08/rumah-patih-lumajang-rm-singowigoeno.html
Comments
Loading...