Rumah Pahlawan Nasional Rasuna Said, Saksi Bisu Sejarah Nan Terlupakan

0 81

Rumah Pahlawan Nasional Rasuna Said, Saksi Bisu Sejarah Nan Terlupakan

Rasuna Said (1910-1965) adalah wanita hebat yang turut serta memperjuangkan kemerdekaan RI. Wanita Minang yang lahir 14 September 1910, di Nagari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Namun hampir semua generasi muda saat ini melupakan perjuangan, sejarah dan asal Bundo Kanduang ini. Termasuk rumah kebesaran dimana ia dibesarkan dan hidup dari kalangan bangsawan dan ulama.

Ia anak dari Muhammad Said dan Syamsiah. Memiliki rumah kayu dua tingkat dan masih berdiri kokoh di Jorong Kubu Baru, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya. Rumah tersebut sudah menjadi Bangunan Cagar Budaya Pemerintah Kabupaten Agam.

Menurut Miftahuddin (50), tokoh masyarakat setempat mengatakan bangunan itu sudah berulangkali dimanfaatkan masyarakat, pasca kepindahan keluarga besar almarhum Rasuna Said ke Jakarta.

“Sejak keluarga besar Rasuna Said pergi meninggalkan kampung halaman, bangunan bersejarah pahlawan nasional itu sempat dijadikan Asrama Tsanawiyah, Sekolah Taman Kanak-kanak Rasuna Said dan kantor Koperasi BMT Nagari Maninjau,” terangnya.

Bangunan ini juga pernah mendapatkan rehap dari bantuan CSR PT. Garuda Indonesia. Cat Ulang, menukar papan di lantai dua serta perbaikan tonggak dan tangga.

Bangunan tua itu dibangun 1917 oleh Muhammad Said, salah seorang ulama dan bangsawan di sana. Beliau juga sempat berjuang dengan Haji Abdulkarim Amrullah (ayah Hamka).

Saat ini katanya, lantai satu bangunan itu dijadikan sarana ibadah atau Mushalla. Meski sudah dijadikan cagar budaya, pihak keluarga dan masyarakat setempat tidak mau diambil alih sebagai aset pemerintah daerah. “Kami bersama keluarga besar Rasuna Said memang merencanakan menjadikannya museum kepahlawanan Ibunda kami. Pihak keluarga sedang mengumpulkan barang-barang berharga milik Rasuna Said. Sebagai Memorial nilai-nilai kepahlawanan Ibunda Kami,” tuturnya.

Sementara itu, Yusna Wirson salah satu keluarga terdekat dari anak kemenakan Rasuna Said mengatakan ia adalah wanita minang pertama yang berjuang dalam ranah politik di tanah air. Sikap dan orasinya yang tegas dan keras terhadap Belanda, sempat dicebloskan dalam penjara. Akibat, 1932 ia dijatuhi hukuman pembuangan dan dimasukan ke penjara wanita “Bulu” selama 13 bulan di Semarang.

Rasuna Said mengecap pendidikan pertama di Sekolah Desa Maninjau. Dan berlanjut ke Diniyah School Putri Padang Panjang. Dimasa itu, kegiatan politik dikalangan guru sangat kental. Sebagai bentuk pergerakan perlawanan terhadap penjajahan. Termasuk Inyiak Rasul atau Haka (Haji Abdulkarim Amrullah), salah satu tokoh ulama dan guru pelopor Islam Pembaharuan di Ranah Minang.

Rasuna Said juga sering belajar mengaji kepada Haka sebagai guru terbaik di Diniyah School Padang Panjang. Dari pengajian tersebut ia memperoleh berbagai ilmu pengetahuan agama dan pergerakan Islam Modern. Ia juga mengikuti pendidikan Meisjes School atau pekerjaan rumah tangga.

Pada tahun 1926, Padang Panjang mengalami gempa hebat dan merusak gedung Diniayah School Putri. Ia akhirnya terpaksa pindah ke Sekolah Thawalib Padang Panjang. Di sini ia sempat menjadi sekretaris Perkumpulan Serikat Rakyat yang kemudian menjadi Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). Suatu organisasi menghimpun kekuatan melawan Belanda.

1930, “Sumatra Thawalib”, merupakan organisasi tempat ia melanjutkan pendidikan berubah menjadi “Persatuan Muslimin Indonesia” atau PMI atau Permi dan sampai menjabat sebagai pengurus besar Permi. Ia terpaksa mundur dari PSII dan tetap bergabung di Permi, karena aturan tidak diperbolehkannya rangkap organisasi atau bergabung diorganisasi lain 1932, Rasuna Said ditangkap dan dijebloskan ke penjara bersama tokoh-tokoh Permi lainnya. Seperti Mokhtar Lutfi, H. Jalaluddin Taib, dan Ilyas Yakob. Ketiga tokoh besar ini dibuang ke Boven Digun Irian Barat (Irian Jaya). Sedangkan Ia sendiri dijebloskan ke penjara wanita, “Bulu” di Semarang.

Selepas keluar dari penjara, Ibu satu anak ini bergabung ke Islam College, salah satu Akademi Islam di Padang. Dan Ia dipercaya memimpin majalah sekolah bernama “Raya”. Tidak lama kemudian, ia pindah ke Medan dan memimpin mingguan bernama “Menara Putri”, terkenal dengan semboyan “Ini dadaku, mana dadamu”. Di samping perjuangan di bidang politik, ia sempat membina perguruan putri. 

Pada masa penjajahan Jepang, Ia kembali ke Padang dan berjuang bersama Khatib Sulaiman mendirikan organisasi pemuda Sumatra Barat dengan nama “Pemuda Nippon Raya” bertujuan membina bibit perjuangan kemerdekaan. Gerakan ini diketahui Jepang dan menangkap kedua pejuang ini dan akhirnya dilepas kembali. 

Rasuna Said dan Khatib Sulaiman pun kembali aktif mendirikan barisan Pembela Tanah Air (Peta) yang kemudian menjadi binaan tentara Jepang yang membentuk Giyu Gun atau tentara sukarela. Laskar ini menjadi sejarah lahirnya Tentara Nasional Indonesia atau TNI. 

Setelah Kemerdekaan RI, Rasuna Said menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatra Barat. Kemudian berturut-turut menjadi anggota KNIP, DPR-RIS dan DPRS. 1959 wanita minang ini diangkat menjadi Anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung). Akibat kangker darah yang dideritanya, Rasuna Said meninggal 2 November 1965 di Jakarta. Ia dimakamkan di Makam Pahlawan Nasional Kalibata. Melalui SK Presiden Nomor 084/TK/Tahun 1974 diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

Source https://prokabar.com https://prokabar.com/rumah-pahlawan-nasional-rasuna-said-saksi-bisu-sejarah-nan-terlupakan/
Comments
Loading...