Rumah Kapiten Cina Ng Hi Tam Rokan Hilir

0 12

Rumah Kapiten Cina Ng Hi Tam Rokan Hilir

Bangunan ini merupakan rumah hunian yang dibangun oleh Ng Hi Tam seorang Kapiten Cina (Kapiten der Chinezen) Bagan Siapiapi pada tahun 1930. Kapiten Cina ini merupakan jabatan yang diberikan oleh pemerintah kolonial (Belanda) kepada warga Tionghoa.

Kapitan adalah Pejabat yang diangkat oleh Pemerintahan Kolonial Belanda dan biasanya dipilih atas dasar ketokohan dan kekayaan serta pengaruh dalam masyarakat pedagang Tionghoa, Kapitan Tionghoa pada umumnya merupakan orang-perorang yang sangat kaya diantara komunitas masyarakat Tionghoa dan kekayaan menjadi bagian dari parameter penghargaan yang tinggi dan pengaruh ketokohannya pada komunitas masyarakat Tionghoa yang dipercayai penuh berperan menjembatani kepentingan ekonomi, politik, dan sosial antara Pemerintah Kolonial Belanda dengan Komunitas Tionghoa, membuat catatan daftar kelahiran, kematian, pernikahan, kedatangan atau migrasi mereka serta kegiatan kebudayaan atau tradisi komunitas masyarakat Tionghoa.

Kapiten/Kapitan yang memiliki bangunan ini bernama Ng Hi Tam tokoh etnis Tinghoa dari marga NG. Ng Hi Tam dibunuh oleh Belanda pada tahun 1940. Sampai sekarang rumah ini masih difungsikan sebagai rumah hunian oleh keturunan Ng Hi Tam. Sekarang penghuni rumah ini merupakan keturunan (generasi) ketiga dari Kapiten Cina Ng Hi Tam. Secara keseluruhan tidak banyak perubahan yang dilakukan terhadap bangunan.

Bangunan ini terdapat di areal pemukiman masyarakat dengan bentang lahan datar. Secara keseluruhan tidak banyak terdapat perubahan pada bangunan. Bangunan berdenah empat persegi panjang, orientasi arah barat. Bangunan rumah kapiten ini termask dalam tipe rumah panggung, dengan adanya kolong sebagai bagian perantara tanah dan bangunan inti. Pondasi bangunan terbuat dari bahan bata, semen. Secara arsitektural, bangunan merupakan perpaduan arsitektur bangunan kuno gaya Tradisional Tionghoa-Melayu.

Arsitektur Melayu terlihat pada bagian kolong/panggung, bentuk pintu, jendela, teras rumah. Sedangkan arsitektur Cina (Tionghoa) terlihat pada sandi pada bagian atas tiang, ukirannya. Sedangkan bahan bangunan secara umum terbuat dari kayu dan atap dari seng. Bahan yang dipakai lebih banyak menggunakan bahan kayu, baik untuk dinding, lantai, pintu, jendela, kerangkan atap.

Bangunan terbagi atas tiga ruang, ruang utama pada bagian ini merupakan kamar tidur (2 buah kamar), ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang keluarga dan ruang belakang yang berfungsi sebagai ruang makan. Pada dinding ruang bagian dalam juga banyak terdapat ukiran-ukiran bahkan sampai dengan plafon bangunan yang bermotif flora. Bangunan dilengkapi dengan 1 pintu masuk di sisi barat, 4 jendela bagian depan, 4 jendela samping kanan, dan 4 jendela samping kiri. Pada bagian depan terdapat tangga masuk yang terbuat dari beton dengan jumlah anak tangga 9 buah. Selain itu, pada dinding pada bangunan dipenuhi dengan ukiran dan lukisan dengan berbagai motif seperti, manusia, hewan, sulursuluran, dan geometris. Ornamen tersebut ada yang bermakna religi dan ada juga yang sebagai hiasan bangunan.

 

 

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Rokan-Hilir-BPCB.pdf
Comments
Loading...