Rumah Gadang Muh. Soleh Pariaman

0 32

Rumah Gadang Muh. Soleh

Pariaman adalah sebuah kota pelabuhan (entrepot) yang sudah tua usianya. Kota ini pernah melahirkan seorang pedagang besar pada abad ke-19, yaitu Moehammad Saleh Datoek Orang Kaya Besar Moehammad Saleh lahir tahun 1841 di Desa Pasir Baru, Pariaman. Ayahnya, Peto Rajo, juga seorang pedagang, adalah penduduk Pariaman asli. Namun, ayah Peto Rajo adalah keturunan seorang raja di Rigah, Rantau Duabelas, Aceh Barat. Tarus, Ibu Moehammad Saleh, berasal dari Guguak Ampek Koto, dekat Bukittinggi. Mungkin keluarga Tarus telah hijrah ke Pariaman akibat Perang Padri. Usaha Moehammad Saleh dirintis dari seorang penghela pukat di Pantai Pariaman sampai akhirnya menjadi seorang pedagang besar yang mempunyai beberapa perahu. Saleh mempunyai beberapa toko di Pariaman dan Padang Panjang. Anak buahnya di darat dan di laut mencapai puluhan orang.

Bahan dagangannya berupa hasil bumi. Moehammad Saleh juga dipercaya oleh Belanda untuk mendistribusikan garam ke darek. Selama hidupnya Moehammad Saleh menikah sebanyak 14 kali. Gelar kebesarannya (bahasa Minang: Datuak Urang Kayo Basa) diperoleh pada bulan Oktober 1877, dalam upacara khitanan anak pertamanya, Moehammad Taib (lahir pada tgl. 6 Syaban 1281 H dari istri yang kedua, Banoe Idah). Kekayaan Moehammad Saleh dapat dikesan dari dua rumah besar (yang satu bernama rumah batu tinggi) milik keluarga besarnya di Pariaman. Moehammad Saleh meninggal di Pariaman tahun 1922 dalam usia 81 tahun. Sampai sekarang cerita mengenai Moehammad Saleh tetap hidup di kalangan generasi tua di kota Pariaman. Bangunan rumah gadang ini sendiri dibangun sekitar tahun 1889 yang dibangun oleh Mohammad Sholeh. Sedang pertokoan yang berada disisi barat bangunan rumah gadang dibangun sekitar tahun 1901. Berdasarkan angka tahun 19-6-1901 di tembok pertokoan diperkiraan pertokoan ini dibangun tahun 1901.

Bangunan Rumah Gadang Mohammad Sholeh berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu dengan ukuran panjang 30 meter dan lebar 10,5 meter. Arsitektur dari rumah gadang ini merupakan perpaduan arsitektur tradisional dengan arsitektur kolonial. Arsitektur tradisional tercirikan pada bentuk bangunan yang berupa rumah panggung serta ukiran-ukiran yang dipergunakan, sedangkan ciri bangunan kolonial dapat diamati pada bagian jendela dan pintu dengan ukuran yang besar. Untuk menaiki rumah ini terdapat dua akses yang dapat dilalui yaitu tangga yang terdapat di kiri dan kanan beranda, beranda yang besar ini pada kiri dan kanannya terdapat dua buah kamar.

Masuk ke dalam pertama kali ditemui adalah ruang tamu yang dapat diakses melalui tiga buah pintu pada bagian depan, kemudian satu buah pintu menghubungkan antara ruang tamu dengan ruang keluarga yang cukup besar yang dikelilingi oleh empat buah kamar, di bagian belakang terdapat dapur yang dindingnya sudah terbuat dari susunan bata berplester dan langsung berbatasan dengan jalan M. Jamil. Bersama dengan bangunan utama terdapat bangunan lainnya antara lain yang berada di sisi selatan yang dahulu berfungsi sebagai gudang. Bangunan ini memiliki gaya arsitektur kolonial dengan tiang-tiang dibagian terasnya, saat ini difungsikan sebagai rumah kontrakan.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Kota-Pariaman.pdf
Comments
Loading...