Rumah Dinas Rindam IV/Diponegoro

0 20

Rumah Dinas Rindam IV/Diponegoro

Sesudah tahun 1880, ada pergeseran dalam strategi pertahanan di Jawa. Sistem pertahanannya dialihkan kepada musuh dalam negeri dan bukan dari serbuan bangsa Eropa (Portugis, Inggris, dan sebagainya) seperti masa lalu. Untuk menjaga pertahanan di daerah pedalaman P. Jawa maka dipilih kota-kota garnizun pada tiap-tiap provinsi. Malang untuk Provinsi Jawa Timur. Magelang untuk Provinsi Jawa Tengah, dan Bandung dengan garnizun di Cimahi untuk Jawa Barat.

Garnizun secara harafiah berarti kelompok pasukan dalam jumlah besar yang menetap dalam sebuah kota atau benteng. Jadi, Kota Garnizun secara harafiah bisa berarti sebuah kota di mana terdapat kelompok pasukan dalam jumlah besar yang menetap di kota tersebut.

Magelang pada awalnya bukan dirancang sebagai kota militer, tapi baru kemudian hari dijadikan kota garnizun dan sekaligus sebuah pusat pendidikan militer. Di Magelang, kompleks militernya dibangun pada salah satu sisi kota, yaitu di sebelah utara. Kompleks garnizunnya pada tata ruang kota secara keseluruhan tidak mendominasi sebagai kota tersendiri atau bagian kota yang khusus. Hal ini disebabkan oleh karena pada waktu garnizun dibangun, pemerintah setempat telah memutuskan, akan melanjutkan pembangunan berdasarkan karakteristik berdasarkan jalan kota yang sudah ada.

Kompleks militer yang menjadi bagian dari Kota Garnizun di Magelang kini berubah menjadi Kompleks Resimen Induk Kodam IV/Diponegoro, atau yang biasa dikenal dengan Rindam IV/Diponegoro. Rindam IV/Diponegoro adalah komando pelaksana yang bertugas menyelenggarakan pendidikan pertama Bintara/Tamtama, Diktuk Ba Reguler dan Dikspes Ba/Ta, menyelenggarakan dan memberikan asistensi latihan kepada satuan jajaran Kodam IV/Diponegoro. Di samping itu, juga pengajar, pengawas, pengembangan/pengaturan daerah latihan di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta serta membantu pengajar pembinaan satuan jajaran Kodam IV/Diponegoro.

Kompleks militer ini memiliki lahan yang begitu luas sehingga membentuk sebuah kawasan tersendiri. Bila berkunjung ke kompleks militer ini, Anda akan menyaksikan sejumlah bangunan heritage yang di dalam kompleks tersebut. Salah satunya adalah Rumah Dinas Rindam IV/Diponegoro yang terletak di Jalan dr. Koesen Hirohoesodo Timur, RT. 02 RW. 01 Kelurahan Gelangan, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi ini tepat di sebelah timur lapangan Rindam IV/Diponegoro.

Nama Jalan dr. Koesen Hirohoesodo Timur merupakan nama nama jalan baru pengganti dari nama Jalan Kesatrian Wetan yang pada masa Hindia Belanda dikenal dengan Ooster-Kampemenstlaan. Penggantian nama jalan ini diresmikan pemakaiannya oleh Walikota Sigit pada hari Minggu, 17 Agustus 2014 usai upacara HUT RI ke-69 di Kota Magelang. Brigjend Dr. Koesen Hirohoesodo merupakan mantan dokter pribadi Panglima Besar Jenderal Soedirman. Dia selalu mendampingi Jenderal Soedirman selama memimpin perang gerilya melawan Belanda pada tahun 1948 hingga tahun 1950.

Rumah Dinas Rindam IV/Diponegoro ini merupakan salah satu fasilitas militer yang terdapat di kompleks Rindam IV/Diponegoro. Rumah Dinas ini acapkali menjadi perhatian bagi orang yang melintas di timur lapangan Rindam IV/Diponegoro lantaran bentuk arsitekturnya yang khas. Oleh masyarakat sekitar, rumah dinas tersebut dikenal dengan nama Pondok Sriti.

Menurut catatan sejarah yang ada, Pondok Sriti ini dibangun pada tahun 1900-an. Bangunan Pondok Sriti yang sekarang menjadi Rumah Dinas IV/Diponegoro ini dulunya merupakan bangunan de Hoofdwacht Militaire Auditie atau Markas Pengawas Militer di zaman kolonial Belanda.

Bangunan seluas 963 m² ini merupakan bagian dari fasilitas militer yang ada di kompleks militer yang telah dibangun oleh Jenderal Hendrik Merkus Baron de Kock setelah memindahkan markas besar tentara dari Surakarta ke Magelang pada tanggal 13 Maret 1828 guna memadamkan Perang Jawa (1825-1830).

Menilik tahun pembuatannya, bangunan Pondok Sriti manandai gaya arsitektur periode peralihan. Perubahan gaya arsitektur pada zaman peralihan atau transisi (antara tahun 1890 sampai tahun 1915) merupakan peralihan dari gaya arsitektur Indische Empire (abad 18 dan 19) menuju arsitektur Kolonial Modern (setelah tahun 1915). Dalam disertasi Dr. Charles Thomas Nix (1949), yang berjudul Bijdragen Tot Vormleer Van De Stedebouw In Het Bijzonder Voor Indonesia (Sumbangan Tentang Pengetahuan Bentuk Dalam Perancangan Kota Terutama di Indonesia) dijelaskan bahwa gaya arsitektur transisi (1890-1915) itu sebagai jiplakan gaya arsitektur Romantiek di Eropa.

Source http://kekunaan.blogspot.com http://kekunaan.blogspot.com/2015/03/rumah-dinas-rindam-ivdiponegoro.html
Comments
Loading...