Rumah Dinas Bupati Sintang, Warisan Zaman Penjajahan Belanda

0 29

Rumah Dinas Bupati Sintang, Warisan Zaman Penjajahan Belanda

Pendopo Bupati Sintang akan dijadikan sebagai cagar budaya. Bangunan peninggalan penjajahan Belanda ini, sudah berdiri sejak tahun 1882 sebagai rumah Asisten Residen Belanda.

Pondasi khas bermaterial kayu belian,kokoh menopang Rumah Jabatan Bupati Sintang ini. Arsitektur bangunan yang sangat kentara bernuansa klasik tersebut, merupakan warisan kompeni di era penjajahan silam.

Konon pada tahun 1822, rumah dinas bupati yang tak asing disebut pendopo itu, pernah didiami oleh eks Asisten Residen Belanda.

“Gaya arsitektur pendopo itu hingga sekarang, sama sekali belum pernah dirubah. Bahkan segala ornamen interiornya masih asli. Ini dibuktikan dengan hasil perbandingan, foto dokumentasi di buku yang ditulis oleh anak dari Asisten Residen Belanda yang pernah dikirimkan,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Disdik Sintang, Siti Musrikah.

Menurut Siti, dari buku yang dikirmkan itu, terlihat gambar di foto-foto tersebut sama persis dengan kondisi yang ada sekarang. Semuanya masih asli. Warisan Belanda itu pun, direncanakan akan dijadikan sebuah situs cagar budaya.

Agar keberadaannya tetap lestari. Sebab memiliki nilai-nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, melalui proses penetapan nantinya. “ini sudah kita usulkan untuk dijadikan cagar budaya,” katanya.

Menurutnya, di Kabupaten Sintang sendiri mempunyai banyak potensi cagar budaya yang belum bisa di eksplorasi.

Sementara untuk situs cagar budaya yang sudah di konservasi, yakni ada sembilan situs. Di antaranya, Masjid Jamik, Keraton Kadriah, Muka Lingga, Batu Lembu, Dara Juanti, Rumah Betang Inside, Makam Pangeran Kuning dan Apang Semangai.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sintang, Marchues Afen merincikan lokasi cagar budaya di Sintang menyebar di sejumlah kecamatan.

Lokasinya antara lain di Sepauk, Ketungau, Kayan, dan dalam kota Sintang. Peninggalan cagar budaya di Sepauk, misalkan berupa patung situs jejak agama Hindu di Sintang.

Afen pun membenarkan, Pendopo Bupati Sintang sendiri, merupakan bangunan kolonial Belanda. Namun saat ini, di komplek pendopo tersebut sudah terdapat beberapa bangunan tambahan baru. “Namun bangunan asli tetap dipertahankan, dan tidak sama sekali dirubah,” katanya.

Sejatinya memang, kelestarian cagar budaya mestinya dijaga. Supaya anak cucu nanti tidak hanya mendengar cerita, namun juga dapat melihat peninggalan sejarah itu secara nyata.

Source https://www.suarapemredkalbar.com http://lensakalbar.com/2018/12/08/mengulang-sejarah-bupati-jarot-inginkan-desainnya-kembali-ke-bentuk-asli/
Comments
Loading...