Rumah Besar Buntoi

0 137

Rumah Besar Buntoi

Rumah Besar Buntoi atau dahulu disebut Rumah Adat Singa Jala terletak di Desa Buntoi No. 81 RT.2 Kecamatan Kahayan Hilir Kabupaten Pulang Pisau dengan letak geografis koordinat UTM 50 M 0188847 MT – 9689068 MU. Rumah Betang Buntoi didirikan pada tahun 1867 – 1870, dimana bahan bangunan didatangkan dari daerah Taringen Manuhing dari Manen Paduran Kahayan. Rumah ini dikerjakan oleh para budak dan tukang bangunan dari Banjar, difungsikan untuk Upacara Adat Balian Balaku Untung. Di zaman Revolusi fisik Kemerdekaan Republik Indonesia pada Tahun 1945 – 1950 telah berfungsi sebagai Markas Pangkalan Divisi IV ALRI untuk daerah Kahayan Hilir/Kuala di bawah pimpinan Bapak Ulek Handuran (cucu Singa Jala) yang berstatus juga sebagai pemilik rumah ini yaitu cucu angkat dari Singa Jala.

Rumah Betang Buntoi terletak di tepi Sungai Kahayan sebelah kanan milir, tepatnya di Desa Buntoi , Kecamatan Kahayan Hilir sekarang wilayah Kabupaten Pulang Pisau. Ada berbagai pilihan untuk mencapai daerah tersebut. Menggunakan speedboat 200PK carteran selama 2 jam dari Palangka Raya atau lewat darat , atau melalui jalur darat dari kota Palangka Raya dengan jarak + 100 Km selama 1 jam perjalanan. Dan dapat dari Pulang Pisau menghilir selama setengah jam. Desa Buntok terletak di daerah pasang surut dan tingginya hanya 1 meter di atas permukaan laut. Dahulu desa tersebut bernama Petak Bahandang dan untuk Kecamatan Kahayan Hilir termasuk desa tua, terlihat dari banyaknya Sandung dan Sapundo di daerah ini. Sayangnya benda bersejarah tersebut tidak pernah dipelihara oleh para ahli warisnya.

Menyesuaikan dengan alam lingkungan dan segi keamanan yang merupakan suatu keharusan masa itu menghindarkan diri dari serangan asang atau kayau, rumah Betang Buntoi berbentuk panggung bertiang tinggi dan menghadap kearah sungai ( Sungai Kahayan). Terhadap Percampuran dua pola rumah tradisional yakni Rumah tradisional Banjar berupa anjungan di sana sini dengan dengan fungsi sebagai ruang kediaman, serambi dan dapur, sedangkan unsur tradisional Dayak terlihat dari profil bangunannya yang memanjang, tiang-tiang bangunan dari kayu log berdimeter besar dan henjan ( tangga naik) dari batang kayu bertakik serta pola tata ruangnya.

Bangunan utama berukuran dua belas setengah meter kali sembilan meter dan dinding dipasang tegak. Kesemua bahan didominasi oleh kayu ulin dan dinding dari jenis kayu Meranti dan ruang di bawah rumah dengan tinggi kolongnya sekitar empat setengah meter.

Menurut informasi yang ada rumah besar ini bangun oleh Tamanggung Jala ( Bapa Sari, karena anaknya bernama sari) sekitar abad XIX. Bahan untuk itu didatangkan atau diramu jauh dari pedalaman sungai Kahayan ( Tumbang Pajangei), Rumah selesai secara gotong royong selama dua tahun. Dari hasil perkawinnya dengan Handura , Sari Memperoleh lima anak. Dua orang laki – laki yakin olek dan tunik serta tiga perempuan yaitu sela,dempak ,dan senai, semasa revolusi fisik peranan rumah betang buntoi cukup besar, karena digunakan sebagi markas ALRI Divisi IV Wilayah Kahayan Hilir dengan para pejuang antara lain Underson Uda dan lain – lain.

Karena itulah maka Ditjen Kebudayaan Depdikbud selama tiga tahun anggaran melaksanakan pemugaran bangunan sampai pemagaran lingkungannya. Saat ini kerusakan berat melanda bagian atap bangunan Rumah Betang Buntoi ini.

Source http://junsca.blogspot.com http://junsca.blogspot.com/2018/03/sejarah-kawasan-betang-buntoi.html
Comments
Loading...