Rumah Bekas Tahanan Bung Hatta dan Syahrir di Sukabumi

0 29

Rumah Bekas Tahanan Bung Hatta dan Syahrir di Sukabumi

Perjalanan sejarah mencatat bahwa dua orang founding fathers Indonesia pernah tinggal di Sukabumi, Jawa Barat, yaitu Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Tidak kurang selama 3,5 bulan menghuni Sekolah Polisi yang sekarang diabadikan sebagai Rumah Bekas Tahanan Bung Hatta dan Syahrir. Lokasinya di Jalan Bhayangkara No. 156 A, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi.

Berstatus tahanan yang dipindahkan, Bung Hatta dan Syahrir harus menempuh perjalanan yang berputar-putar dari Maluku hingga Surabaya, lalu ke Jakarta, kemudian menuju Sukabumi. Perjalanan mulai 1 Februari 1942 melalui Banda Neira dengan pesawat Catalina, diteruskan ke Tunjungan, dan selanjutnya menumpang kereta api ke Stasiun Gambir, keesokan sorenya baru tiba di Sukabumi. Kedatangan Hatta dan Syahrir dengan pengawalan ketat kepolisian Hindia Belanda. Meski Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menghormati kedua tokoh ini, statusnya tetap “interniran”.

Keberadaan Bung Hatta dan Syahrir di Sukabumi lebih seperti delegasi dari kaum Pergerakan Nasional, daripada interniran atau orang yang diasingkan. Bahkan ketika Jepang telah merapat ke Jakarta melalui Banten dan Pemerintahan Hindia Belanda mengungsi ke Bandung, Bung Hatta diharapkan menyuarakan penentangannya terhadap serbuan tentara Jepang melalui radio Hindia Belanda.

Tinggal di Kompleks Sekolah Polisi, di rumah para inspektur buatan tahun 1926, Bung Hatta dan Syahrir kerap dikunjungi para tokoh nasional. Memiliki ruangan dan kamar sendiri-sendiri, serta ditemani oleh tiga anak angkatnya, Lila, Mimi, dan Ali. Dua bangunan yang ditempati Hatta dan Syahrir dipisahkan oleh deretan dapur, kamar mandi, dan WC. Peraturan waktu itu, tahanan boleh keluar asal tetap di dalam kota. Salah satu tokoh yang masih tinggal di Sukabumi setelah bebas interniran adalah dr. Tjipto, ia tinggal di daerah Selabintana.

Pemimpin Pergerakan Nasional yang pernah berkunjung ke rumah tahanan seluas lebih dari 170 m2 ini adalah Mr. Soejitno dan Mr. Amir Syarifuddin. Mereka membawa keyakinan bahwa Jepang tidak akan bisa menang dengan sekutu dan menyarankan Bung Hatta serta Syahrir terbang ke luar negeri. Negera yang akan dituju adalah Australia. Pada waktu itu Bung Hatta setuju dengan syarat, biaya perjalanan dari pergerakan rakyat. Namun waktu itu, Syahrir tidak setuju meninggalkan Indonesia.

Empat hari kemudian, Mr. Amir Syarifuddin mengusulkan agar Bung Hatta dan Syahrir mengumumkan kepada rakyat untuk mendirikan Komite Nasional pada setiap daerah yang memiliki seorang pemimpin. Hal itu menegaskan kepada tentara Jepang bahwa tujuan Pergerakan Nasional adalah untuk Kemerdekaan Indonesia. Rakyat Indonesia tidak akan ikut campur dengan peperangan pihak Jepang yang terjadi di Asia Timur Raya dengan pihak Belanda. Maklumat tersebut disebar di beberapa daerah dengan membuat cetakan sebanyak 10.000 lembar.

Tidak lama setelah itu, pada 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada tentara Jepang di Kalibata. Lagu Wilhelmus berkumandang dari radio Bandung untuk terakhir kalinya. Pemerintah Belanda masih akan meminta rumah tahanan itu untuk dikembalikan ke Sekolah Polisi, namun ditolak dengan alasan akan dibicarakan dengan pihak Jepang apabila tiba di Sukabumi. Baru pada 21 Maret 1942 rumah tersebut ditinggalkan Bung Hatta dan dihuni Perwira Polisi.

Bung Hatta berangkat ke Jakarta untuk berunding dengan Kolonel Ogura mengenai Pemerintahan Militer Jepang. Sebelumnya, Hatta dan Syahrir diminta ke Bandung sebagai Pusat Tentara Jepang dengan tujuan diajak bekerjasama menjaga keselamatan rakyat dari serangan sekutu. Perundingan demi perundingan digulirkan oleh tokoh-tokoh Pergerakan Nasional demi memuluskan Indonesia Merdeka, bebas dari cengkraman penjajah, baik pihak Belanda maupun Jepang. Kesejukan alam Sukabumi menjadi saksi pertempuran pikiran tokoh-tokoh pendiri Indonesia dalam memperjuangkan kebebasan ibu pertiwi.

Dalam Buku Memoar Mohammad Hatta yang ditulis puterinya, Meutia Hatta, disebutkan bahwa masa-masa yang singkat di Sukabumi mejadi saat terindah dalam hidupnya, karena keindahan alam yang asri. Sampai saat ini pun, Rumah Bekas Tahanan Bung Hatta dan Syahrir masih tampak asri dengan pepohonan yang tinggi dan lebat. Rumah selalu tampak bersih dan terawat, meskipun terkadang terkunci rapat dengan gembok tanpa ada yang menjaga. Rumah ini masuk Benda Cagar Budaya yang dipelihara oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Wilayah Kerja Provinsi Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Lampung.

Source http://info.pikiran-rakyat.com http://info.pikiran-rakyat.com/?q=serial-konten/rumah-bekas-tahanan-bung-hatta-dan-syahrir-di-sukabumi
Comments
Loading...