Rumah Adat Rambu Saratu Sulawesi Selatan

0 85

Rumah Adat Rambu Saratu

Rumah Adat Rambu Saratu merupakan salah satu rumah adat yang ada di kabupaten Mamasa dan memiliki persamaan dengan rumah (Tongkonan) di Kabupaten Tana Toraja, baik dari segi bentuk, ragam hias maupun latar belakang sejarah pendiriannya, hal ini sangat memungkinkan karena keduanya berasal dari satu rumpun nenek moyang. Atap Rumah Adat Rambu Saratu menjorok kedepan dan dipikul oleh 2 (dua) tiang (panulak) dan longa bagian belakang agak rendah dan pendek yang hanya dipikul oleh 1 (satu) tiang (panulak pada) dengan tinggi 15 meter dan berdiameter 280.

Bangunan Banua Layuk terbagi atas tiga bagian; bagian kaki (kolong), bagian badan rumah dan bagian atas (atap). Ketiga bagian tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh meski terdapat pemisahan diantara ketiga bagian tersebut, Pemisahan tersebut mengandung arti bahwa masing-masing bagian tersebut dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri. Jumlah anak tangga yaitu tujuh buah. Pemasangan anak tangga yang bersusun dua berfungsi sebagai isyarat dari bunyi anak tangga yang diinjak maka tuan rumah dapat mengetahui bahwa mereka kedatangan tamu. Selain itu tangga dan anak tangga dibuat harus dari jenis kayu memungkinkan untuk tahan lama. Tangga yang demikian hanya terdapat pada rumah-rumah bangsawan.

Jumlah tiang Banua Layuk 107 buah dan dibuat sangat sederhana karena peralatan yang digunakan sangat sederhana pula, lantai Rumah Adat Rambu Saratu dibagi atas dua bagian dan pembagian ini mempunyai fungsi masing-masing yaitu; salipollo (bagian lantai sebelah bawah) tempat duduk rakyat biasa dan Sali panguluan (lantai sebelah atas) tempat duduk para bangsawan. Kedua lantai tersebut dibatasi oleh balok kayu yang disebut pata. Fungsi utama dari pata adalah sebagai tempat membuang sampah, selain itu berfungsi sebagai pembatas antara bangsawan dengan rakyat biasa dalam mengadakan musyawarah. Dinding Rumah Adat Rambu Saratu mempunyai ukuran yang besar karena pada zaman dahulu masih sangat mudah mengambil bahan-bahan tersebut dari alam sekitar. Bentuk ventilasi rumah adat ini yang sangat keci bila dibandingkan dengan besarnya ukuran rumah, ukuran jendela dibuat kecil dengan maksud agar anak gadis yang berada di atas rumah tidak dilihat oleh orang lain. Rumah Adat Rambu Saratu terdiri dari empat ruangan yaitu; Tado sebagai ruang penerima tamu; Ba’ba sebagai ruang tidur untuk tamu; Tambing ruang tidur untuk tuan rumah, dan tempat untuk menyimpan benda-benda pusaka; Lombon yang berfungsi sebagai dapur.

Pintu Banua Layuk ada dua yaitu pintu masuk (pintu tado) dan pintu dapur (pintu lombon) letaknya berada disamping rumah. Para ba’ba berfungsi menahan angin, tempat bertumpuhnya kaso sule dan memperindah rumah. Para-para terletak pada samping rumah yang terdiri dari empat bagian dan keempat bagian ini tidak sama rata makin ke belakang makin tinggi. Bila kita perhatikan antara ruangan rumah dan para-para adalah sama (adanya peninggian ruangan) maka dapat disimpulkan bahwa para-para adalah merupakan maket dari ruangan rumah. Fungsi praktis para-para adalah tempat beristirahat, tempat bertumpunya tangga dapur disampin itu berfungsi sebagai jalan menuju dapur.

Ragam hias yang terdapat pada Rumah Adat Rambu Saratu ada 31 dan masing-masing mengandung arti yang berbeda-beda yaitu; Tolobeko, melambangkan Bhineka Tunggal Ika artinya rantai merantai tidak pisah satu sama lain. Palawa maksudnya untuk mengusir apa yang tidak baik. Toalo sebagai dasar dari ukiran dan dilambangkan dengan penghidupan manusia bahwa harus berusaha barulah dapat hidup sempurna.

Balambang melambangkan bahwa memang dapat menjaga keamanan masyarakat. Pamalin dengan maksud sebagai penjaga bila ada orang yang akan menyerang. Pamalin baranak maksudnya hampir sama dengan, Pamalin, hanya boleh dipakai oleh bangsawan. Bulintong melambangkan bahwa manusia di bumi ini akan berkembang secara terus menerus dan menjadi pewaris dari generasi sebelumnya. Dotiilangi melambangkan kebangsawanan. Doti lipa melambangkan bahwa manusia dalam hidup bermasyarakat mempunyai tingkat yang berbeda-beda.

Doti wai melambangkan suatu kepercayaan bahwa kerbau asalnya dari air. Paetong melambangkan segala yang dijadikan tuhan atau yang ditakdirkan mempunyai hubungan satu sama lain. Tekken api melambangkan pakaian adat yang dipakai dalam berperang. Rante bati melambangkan bahwa kita hidup di dunia saling membutuhkan dan setiap sesuatu yang hendak diputuskan harus melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. Tida-tida, melambangkan bahwa bangsawan itu mempunyai kelebihan tersedniri dibandingkan dengan rakyat biasa. Sura seleng, melambangkan cara mempersunting seorang wanita. Bai-bai melambangkan bahwa babi itu dianggap binatang yang paling baik.

Doti sirue, melambangkan bahwa bangsawan memilih jodoh anaknya tidak boleh sembarang. Batalauan melambangkan bangsawan itu terdiri dari keluarga besar. Sura mawa melambangkan pakaian kerajaan dalam rangka pesta kematian dan pesta perkawinan. Sura To’sadan, melambangkan bahwa antara Toraja dan Mamasa masih satu rumpun. Batalauan dua randanan, bahwa perkawinan yang terjadi antara bangsawan akan melahirkan keluarga besar dan luas. Sora-sora, melambangkan bahwa pada masyarakat Mamasa terdapat stratifikasi sosial.

Somba-somba melambangkan orang yang suka bermalas-malasan kurang rejeki. Buah barelu melambangkan bahwa sirih dipakai untuk menjemput tamu (suguhan pertama bagi para tamu). Kadang-kadang melambangkan bahwa masyarakat Mamasa mempuyai persatuan yang tinggi, gotong-royong dan tolong menolong satu sama lain. Tanduk siluang melambangkan kekuatan melawan musuh. Sassang marobei melambangkan bangsawan yang sangat kaya. Barana, melambangkan bangsawan pintar. Bawan-bawah melambangkan bangsawan yang pintar dan bijaksana. Bura sengkang melambangkan tempat menyimpan hal-hal yang penting. Barrio allo melambangkan kebangsawanan.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/category/info-budaya/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/evaluasi-hasil-konservasi-rumah-adat-rambu-saratu-kabupaten-mamasa-sulawesi-barat/
Comments
Loading...