Rumah Adat Baloy Mayo: Bukti Kuatnya Tradisi Suku Tidung di Tarakan

0 197

Rumah Adat Baloy Mayo: Bukti Kuatnya Tradisi Suku Tidung di Tarakan

Di ujung utara Pulau Kalimantan, terdapat sebuah pulau kecil bernama Tarakan. Di pulau seluas 250 kilometer persegi itu, tinggal kurang lebih 250 ribu jiwa. Di antara mereka, suku Tidung adalah masyarakat asli daerah sana. Namun, jumlah mereka tak begitu banyak. Para pendatang dari Jawa dan Bugis justru banyak menghuni wilayah ini.

Meski begitu, suku Tidung di sana terkenal begitu kuat memegang akar tradisi. Dalam sebuah rumah adat bernama Baloy Mayo, para pemimpin adat dari seluruh penjuru Kalimantan berkumpul di sana. Mereka berkumpul membahas permasalahan adat yang ada di wilayahnya.

Dari segi bangunan, rumah adat Baloy Mayo berbentuk rumah panggung dengan bahan utama kayu ulin. Dalam bangunan utama, terdapat tiga sisi yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Ada yang menjadi serambi khusus pertemuan adat, penghakiman, dan juga serambi khusus untuk memberi nasihat.

Warna emas tampak mendominasi perabotan yang ada dalam rumah adat, dari mulai kursi hingga bilik singgasana. Di dinding bangunan yang berwarna coklat, terpajang foto-foto para keturunan raja.

Bila keluar dari bangunan utama ini, terlihat bangunan-bangunan lebih kecil berjajar di sampingnya. Di antara bangunan itu, ada yang difungsikan sebagai pusat oleh-oleh khas Kalimantan.

Kemudian, bila berjalan keluar, kolam-kolam ikan menjadi pemandangan apik yang banyak menarik pengunjung. Bangunan semacam balai rakyat juga berdiri di belakangnya. Masyarakat setempat bisa menggunakan balai tersebut untuk berbagai macam kebutuhan. Yang teranyar, balai tersebut akan digunakan sebagai tempat perpisahan murid taman kanak-kanak.

Rumah adat Baloy Mayo nyatanya menyimpan kesakralan tersendiri. Menurut penuturan Saparudin, bagi siapa pun yang memiliki indra keenam akan bisa melihat wujud leluhur kepala adat duduk di singgasana.

“Yang duduk di situ adalah raja pendahulu. Kalau ada yang punya indra keenam dia bisa melihat. Kalau saya katakan memang tidak akan percaya. Tapi, kalau ada, itu bisa,” ungkap Saparudin.

Selain raja, di samping singgasana itu duduk seorang putri dan juga pengawal yang masih menjaga rumah adat ini. Memang, saat kumparan berkunjung tidak tampak pemandangan tiga tokoh yang disebutkan tadi, mungkin karena tidak punya indra keenam.

Jarak sekitar dua meter dari singgasana, ada semacam sesajen yang diberikan untuk para terdahulu itu. Ada kopi dan juga bunga dalam sebuah gelas berisi air. Di kanan kiri sesajen ada guci-guci dari segala ukuran dan warna.

Selain itu, juga ada sebuah patung perempuan berbaju kuning. Menurut Saparudin, patung tersebut hadiah dari Ratu Elizabeth dari Inggris. Sementara, di depan patung tersebut juga berdiri seekor patung ular.

“Ini ular dibuat dari kayu melambangkan kelincahan yang dimiliki seorang raja,” tutur Saparudin.

Source https://kumparan.com https://kumparan.com/@kumparantravel/rumah-adat-baloy-mayo-bukti-kuatnya-tradisi-suku-tidung-di-tarakan
Comments
Loading...