Radio Swasta Tertua Di Sulawesi Selatan

0 111

Radio Swasta Tertua Di Sulawesi Selatan

Sekilas bangunan berlantai dua di Jln. Masjid Raya No. 100 Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan itu seperti kurang terawat. Cat temboknya terkelupas di sana sini. Beberapa dindingnya bahkan diselimuti lumut. Di ruang tamu teronggok satu set sofa tua dan beberapa meja kerja. Beranjak lebih ke dalam, berbaris empat ruangan yang dipakai sebagai gudang dan ruang mesin, ditambah dua ruangan befungsi sebagai ruang siar. Gedung ini adalah kantor Radio Suara As’adiyah (RSA), radio swasta tertua di Sulawesi Selatan, bahkan di Sulawesi.

Ternyata di balik kebersahajaan penampilannya, radio milik Pondok Pesantren As’adiyah ini telah mengudara 40 tahun lebih. Ini adalah prestasi fantastis bagi sebuah radio swasta, apalagi milik pesantren, yang hanya bisa ditandingi oleh radio milik pemerintah seperti Radio Republik Indonesia (RRI). Dengan tujuan menyebarkan gagasan keIslaman yang menghargai dinamika masyarakat Sulawesi Selatan yang sangat plural, RSA yang berada pada frekuensi 86.4 AM ini didirikan pada 1967 oleh ulama kharismatik, Gurutta Haji Muhammad Yunus Martan (1906 – w. 1986).

Sejak berdiri, RSA mampu menyampaikan pandangan keagamaan Pesantren As’adiyah, sebagai salah satu pesantren terbesar di Indonesia bagian timur. Didirikan oleh KH. Muhammad As’ad pada 1928, Pesantren As’adiyah adalah pelopor gerakan Islam tradisionalis moderat di Sulawesi Selatan. “KH. Muhammad As’ad ini sahabat Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari ketika belajar di Makkah. Karena itu cara pandangnya seperti NU yakni ahlussunnah wal jamaah,” jelas Direktur RSA Drs. Ahmad Muktamar, MA kepada Subhi Azhari dari the WAHID Institute. Sedang Gurutta Yunus Martan, imbuh Muktamar, adalah tokoh yang paling sukses memimpin Pesantren As’adiyah. Selain berkembangnya cabang-cabang Pesantren As’adiyah, pendirian radio adalah ide cemerlang yang belum terpikirkan oleh siapapun.

Karena itu dulu orang menyebut Gurutta Yunus Martan sebagai kyai yang lahir sebelum zamannya. “Artinya ketika orang lain belum memikirkan radio sebagai media dakwah, beliau sudah memikirkannya. Beliau dirikan radio ini bersama Dr. Rafi Yunus, H. Badruddin Abduh dan H.M. Yahya,” tambah Muktamar yang memimpin RSA sejak 2003 ini. Dikisahkan Muktamar, pada pertengahan 1970 terjadi kebakaran besar yang menghanguskan hampir seluruh bangunan Pesantren As’adiyah, tak ada satupun yang bisa diselamatkan kecuali RSA. Hal itu karena Gurutta Yunus Martan memerintahkan agar lebih dulu menyelamatkan barang-barang milik RSA. “Begitu pentingnya media radio ini bagi Gurutta Yunus Martan,” lanjut pria kelahiran Sengkang 12 Juni 1969 ini. Selain sebagai alat pembinaan 400 cabang As’adiyah yang tersebar di berbagai provinsi, RSA juga berjasa menyebarkan dakwah Islam yang damai.

Sebab itu, salah satu program radio yang siarannya menjangkau Sulawesi Tenggara, beberapa kabupaten di Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, ini adalah Dialog Interaktif Islam dan Pluralisme. “Di sini kita menghadirkan mereka yang selama ini terpinggirkan seperti Komunitas Tarekat Khalwatiyah, Komunitas Maccera Tapareng, Komunitas Bissu dan lain-lain. Mereka bicara dan masyarakat bebas menanggapinya,” papar Koordinator Program Dialog Interaktif Islam dan Pluralisme Subair Umam.

Menurut Nurdin, yang sudah 20 tahun menjadi penyiar di RSA, radio tempatnya bekerja menjadi trend setter masyarakat Wajo. “Untuk menentukan waktu shalat, masjid-masjid raya yang berada dalam jangkauan RSA seolah tidak lagi percaya pada jam. Kalau RSA adzan baru mereka adzan. Begitu pula dalam penentuan zakat fitrah. Meskipun sudah ada pengumuman dari pemerintah, mereka tetap menunggu pengumuman dari RSA,” ungkap Nurdin. Bahkan, apabila radio mengalami gangguan siaran atau terlambat mengudara, maka redaksi akan menerima ratusan telpon dari pendengar menanyakan hal tersebut. “RSA bagi masyarakat Wajo dan sekitarnya seperti garam dalam sayur. Merekasudah tak bisa ke lain hati,” tutur Nurdin bangga.

Source http://asadiyahpusat.org http://asadiyahpusat.org/2013/11/radio-swasta-tertua-di-sulawesi-selatan/
Comments
Loading...