Pura Ukur-ukuran Bali

0 36

Pura Ukur-ukuran

Pura ini terletak di Desa Sawa Gunung, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar (peta no. 7). Di pura ini terdapat dua buah arca Boddhisattwa yang terletak pada sebuah pelinggih (bangunan) di halaman tengah yang disebut Pelinggih Ratu Pujangga (Stutterheim, 1972 : 140; Laporan Balai Arkeologi Denpasar, 1978/79). Untuk mempermudah pembicaraan selanjutnya, arca tersebut disebut arca Ukur-ukuran no. 1 (sebelah utara) dan arca Ukur-ukuran no. 2 (sebelah selatan). Arca ukur-ukuran no. 1 tingginya 79 cm., terbuat dari batu padas, digambarkan duduk dalam sikap lalitasana di atas bantalan berbentuk padmaganda dengan sandaran (prabhamandala) di bagian belakang badan, dan tempat di belakang kepala terdapat sirascakra berbentuk bulatan polos.

Memakai mahkota berbentuk kirita dan di bagian depannya terdapat jemang yang dihias dengan untaian permata dan di atasnya terdapat bunga padma. Hidung pecah, mata digambarkan setengah terpejam, dan mulut tertutup. Pada kedua telinganya terdapat hiasan (kundala) yang berupa kuncup padma, bertangan empat, kedua tangan depan patah hingga siku, tangan kiri belakang memegang camara, tangan kanan belakang tidak jelas (aus), terdapat hiasan kelat lengan, dan memakai gelang (kankana) satu buah polos.

Di dadanya terdapat kalung (hara) dihias dengan sulur-suluran meruncing di bagian tengah, ikat pinggang (udarabhadra) berupa pita polos, upavita berupa tali pilin melingkar dari bahu kiri ke pinggang kanan. Arca digambarkan memakai kain panjang sampai pada asana. Pada lutut kanan terlihat potongan aksamala.

Arca Ukur-ukuran no. 2 terbuat dari batu padas, tingginya 59 cm., wajah arca rusak, bagian mata, hidung, dan mulut rata. Kedua tangan depan patah, paha dan sandaran pecah. Arca digambarkan duduk dalam sikap lalitasana di atas bantalan berbentuk padmaganda dengan sandaran (prabhamandala) di bagian belakang badan dan di belakang kepala terdapat siracakra berbentuk bulat polos. Memakai mahkota dalam bentuk kirita dan jamang, tetapi bagian depan pecah. Pada kedua telinganya terdapat hiasan kundala berupa bunga dengan benangsari menjulur ke bawah hingga bahu.

Arca ini bertangan empat, kedua tangan depan patah, tangan kanan belakang patah dan tangan kiri belakang memegang camara (kebut lalat). Pada tangannya digambarkan juga mengenakan kelat lengan atas (keyura) berupa untaian permata dan dihias dengan bentuk simbar dan memakai gelang (kankara) tunggal polos. Di dadanya terdapat kalung (hara) berupa sulur-suluran dan dibagian tengah berbentuk simbar. Ujung sampur panjang hingga menyentuh padmasana. Selain itu arca digambarkan memakai kain panjang menutupi mata kaki, dan terdapat wiru di bagian depan. Ujung wiru panjangnya hingga menyentuh kaki. Ikat perut bersusun dua berhias segitiga.

Karena tidak jelas atribut (laksana) dari arca Ukur-ukuran no. 1, maka sangat sulit untuk mengetahui Boddhisattwa yang dimaksud. Dari keempat tangan arca yang masih tampak utuh hanya tangan kiri belakang. Atribut yang dipegang pada tangan tersebut adalah camara (kebut lalat), sedangkan atribut lainnya tidak jelas, demikian juga mudranya. Mungkin arca ini merupakan Avalokitesvara yang mempunyai atribut tasbih. Padma, dan mudranya, disebutkan varamudra pada tangan kanan dan vitarka pada tangan kiri (Getty, 1962 : 59). Pada tangannya digambarkan mengenakan kelat lengan atas (keyura) dihias dengan simbar dan memakai gelang (kankana) sulur-suluran tiga polos.

Di lehernya terdapat tiga guratan, di dada tergantung kalung (hara) berbentuk sulur-suluran ilak. Ikat pinggang (udarabhanda) berupa pita lebar, dan dibagian depannya dihias segitiga (simbar). Arca digambarkan memakai kain panjang hingga di atas mata kaki, bagian depan kain dilipat-lipat berbentuk wiru. Ikat pinggang berupa pita dengan untaian permata, dan bagian depannya diikat, uncal dengan ujung berjuntai ke bawah. Sampur melingkar di depan dengan simpul di samping badan, ujungnya terurai serta menjadi satu dengan sandaran.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/bukti-bukti-awal-agama-budha-di-gianyar-dan-buleleng-bali-abad-ix-xii/
Comments
Loading...