Pura Subak Kedangan Bali

0 75

Pura Subak Kedangan

Pura ini terletak di kompleks persawahan Subak Kedangan, Banjar (dusun) Wanayu, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Pura ini disungsung oleh anggota Subak Kedangan, segala biaya pura tersebut (perbaikan dan upacara piodalan) dibebankan kepada anggota subak.

Di pura ini tersimpan dua buah arca Bodhisattwa yang terbuat dari batu padas dalam sikap berdiri (Stutterheim, 1927 : 146; 1929 : 109-110 ; Laporan Balai Arkeologi Denpasar, 1980). Arca ini ditempatkan pada sebuah pelinggih bersama dengan arca lainnya. Untuk memudahkan pembicaraan selanjutnya arca yang terletak di sebelah kiri disebut arca Subak Kedangan No. 1 dan yang di sebelah kanan Subak Kedangan No. 2).

Arca Subak Kedangan No. 1 terbuat dari batu padas, kedua tangan pecah, tinggi arca 124 cm., lebar 32,5 cm., dan tebal 12 cm. Arca ini digambarkan berdiri di atas bantalan, dibelakang tubuhnya tidak terdapat stela, memakai mahkota dalam bentuk kinita bersusun tiga dengan hiasan kepala singa di depan dengan lidah terjulur. Di belakang kepala terdapat sirascakra dalam bentuk bulatan polos.

Pada pangkal lengan atas terlihat gelang dengan hiasan kepala singa, dan kalung (hara)berbentuk pita polos. Memakai kain tebal tanpa hiasan (polos), panjang sampai pergelangan kaki, dan wiru dengan ujung melebar. Ikat pinggul agak miring ke kiri dengan simpul berbentuk kepala singa. Mata digambarkan setengah terpejam, mulut ditarik ke samping (tersenyum) dan telinga panjang.

Arca Subak Kedangan No. 2 terbuat dari batu padas, kepala, lapik, telapak kaki, dan kedua tangan terpotong (Stutterheim, 1927 : 146; 1929 : 109-110; Laporan Balai Arkeologi Denpasar, 1980). Bagian yang terpotong tidak mungkin dapat dibinaulang. Arca digambarakan berdiri dengan ukuran tinggi 90 cm., lebar 30 cm., tebal 19 cm. Pakaian dan perhiasan yang masih dapat diamati seperti kain panjangnya sampai lutut, dan wiru di bagian depan. Di dada terdapat kalung (hara) berhias padma, ikat pinggang (bhana)berbentuk jalinan padma, uncal berbentuk pita, dan sampur melingkar di depan paha dengan simpul berbentuk bunga di samping kanan dan kiri badan.

Arca Subak Kedangan no. 1 mempunyai hiasan lain dari pada yang lain. Secara keseluruhan  arca Buddhisattwa itu mempunyai hiasan yang tidak begitu kaya, dan yang paling menonjol di antaranya adalah hiasan kepala singa yang terdapat pada mahkota, gelang lengan atas, pada ikat pinggang, dan ciri lainnya adalah bibir yang tersenyum.

Hal seperti ini  tidak ditemukan pada arca-arca Boddhisattwa yang lain di Indonesia, Pada umumnya arca Boddhisattwa memakai hiasan yang sangat kaya, seperti pakaian kebesaran seorang raja, seperti arca Boddhisattwa yang terdapat di candi Mendut, mempunyai ukuran yang sangat besar, arca Lokeswara dengan ukuran tinggi 2,40 meter, arca Vajrapani dengan ukuran 2,60 meter yang mengapit arca Sakyamuni yang tingginya tiga meter dan hiasannya sangat mewah (Kempers, 1959; Soediman, 1969 : 27). Di Candi Borobodor dan Candi Sari terdapat arca Boddhisattwa dalam bentuk relative, yang sangat kaya dengan hiasan, demikian juga arca Boddhisattwa yang terdapat di Candi Plaosan hiasannya sangat kaya (Holt, 1967 : 51).

Arca Subak Kedangan no.1 (sebelah kiri) memakai mahkota dengan hiasan kepala  singa yang lidahnya terjulur, mungkin yang dimaksud adalah Boddhisattwa Simhanada-Avalokitesvara, yang sering disebut Simhanda- Lokesvara, yang bertugas menyebarkan dharma dengan suara yang membahana seperti suara singa yang meraung. Biasanya Boddhisattwa ini mempunyai simbol padma, khadga, kala, trisuladan digambarkan duduk di sebelah atau di atas singa yang meraung dan mempunyai hiasan seperti Boddhisattwa yang umum dengan mahkota bertingkat lima dan arca Amithaba kecil di bagian depan mahkota, atau rambut dihias seperti usnisa dan ratna, di sebelah kiri dihias dengan bulat sabit (Getty, 1962 : 60). Bibir ditarik ke samping seperti tersenyum, dapat dibandingkan dengan arca yang berasal dari Khmer (Kamboja), seperti Torso Lokesvara yang disimpan di Brusel merupakan tipe seni  pahat Khmer (Kamboja), dengan cici-ciri mata terbuka, bibir tersenyum (Rowland, 1959 : 390).

Kiranya menjadi lebih jelas sekarang, bahwa arca itu merupakan suatu seni yang mungkin mendapat pengaruh dari Asia Tenggara, khususnya Kamboja, walaupun unsur Indonesia asli masih kelihatan. Arca tersebut digambarkan sebagai arca Boddhisattwa Simhanada-Avalokitesvara dan berasal dari Hindu-Bali (abad 8-10 Masehi).Menurut  Stutterheim, arca Boddhisattwa yang terdapat di Pura Subak Kedangan merupakan gaya yang sama dengan arca di Borobudur yang disebut gaya Ceylon, arca seperti ini ditemukan juga di India Barat. Secara keseluruhan gaya arca Boddhisattwa yang terdapat Subak Kedangan tidak sesuai dengan arca-arca Boddhisattwa di Jawa Tengah, sehingga diperkirakan bahwa arca tersebut mendapat pengaruh dari Kamboja.

Arca dengan bibir tersenyum ditemukan juga di Jawa Barat, yaitu sebuah arca Siwa yang dikatakan mempunyai unsur lokal, dan kemungkinan juga kepala arca yang terdapat di Candi Bima, Dieng juga memperlihatkan bibir yang tersenyum (Satari, 1975). Mantra menyebutkan bahwa arca Boddhisattwa di pura itu mendapat pengaruh Khmer dan digolongkan dari periode Hindu-Bali yang disebut masih bersifat internasional, pada periode itu hasil seni masih dipengaruhi oleh aspek luar yang mungkin langsung datang dari Asia Tenggara dan juga dari India (Mantra, 1962).

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/bukti-bukti-awal-agama-budha-di-gianyar-dan-buleleng-bali-abad-ix-xii/
Comments
Loading...