Pura Melanting Bali

0 23

Pura Melanting

Pura ini terletak di Desa Tatiapi, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, berada di sebelah kanan jalan menuju Desa Tatiapi dari Desa Pejeng ke arah barat. Di sebelah barat agak kebawah terdapat sungai Penyembulan, dan di sebelah utaranya sawah. Di pura ini terdapat sebuah pelinggih (bangunan) dan tersimpan dua buah arca Buddha yang terbuat dari batu padas, yaitu Padmapani (arca Melanting no. 1) dan Boddhisattwa (arca Melanting no. 2) (Stutterheim, 1925 : 160; Laporan Balai Arkeologi Denpasar, 1978/1979).

Arca Melanting no. 1 ini mukanya rusak dan kedua tangannya terpotong. Digambarkan duduk (lalitasana) di atas bantalan berbentuk padmaganda, di bawahnya terdapat lapik segiempat. Kaki kanan diangkat dan telapak kaki menginjak bantalan (padmaganda), sedangkan kaki kiri berjuntai menginjak lapik. Terdapat stela (prabhamandala) di belakang badan, dan bentuknya bertingkat yang paling ujungnya membulat, dan di belakang kepala terdapat sirascakra serta prabawali. Bagian lain yang dapat diamati, ialah kain panjangnya sampai pergelangan kaki, upawita berbentuk pita lebar tanpa hiasan, ikat perut (udarabanda) berhias bunga padma, selain itu terdapat uncal dan sampur.

Arca Melanting no. 2 (Arca Padmapani) ini mempunyai persamaan dengan arca Boddhisattwa Padmapani di Pura Galang Sanja, terutama mengenai perhiasan dan gaya. Pada arca ini tidak terlihat adanya padma yang menyerupai ciri-ciri arca Padmapani, tetapi dari gayanya dapat diperkirakan dari jaman yang sama dengan arca Padmapani di Pura Galang Sanja.

Arca Melanting no. 2 digambarkan dalam sikap duduk padmaganda dan di bawahnya terdapat lapik berbentuk segiempat. Arca ini berukuran tinggi 70 cm., lebar 40 cm. Stutterheim, 1924 : 169; Laporan Balai Arkeologi Denpasar, 1978/79). Bagian muka rusak; bagian mulut, mata dan hidung rata; kedua tangan rusak (patah). Rambut diikat ke atas dengan untaian permata dan usnisa di atasnya, di dadanya tergantung kalung (hara), bagian atas berupa untaian permata, sedangkan di bawahnya berupa sulur-suluran dan ujungnya meruncing. Di belakang daun telinga di bawah mahkota terdapat hiasan ikal (sesimping) di bawah ketiak dan ujungnya ke atas terlihat menjadi satu dengan sandaran.

Upawita berupa tali, ikat perut (udarabanda) di hias dengan sulur-sulur ikal. Ujung kain bagian atas berada di bawah pusar dengan ikat pinggang berupa pita polos. Panjang kain sampai pergelangan kaki, gelang (kankana) dengan untaian permata berhias simbar, dan gelang kaki susun dua polos. Kedua tanga ditarik ke belakang sejajar, dan pergelangan tangan diletakkan di depan dada. Dari posisi itu dapat diduga bahwa sikap tangan ini adalah dharmacakramudra.

Dalam buku “The Gods of Nothern Boddhism” tidak disebutkan Boddhisattwa, dengan dua tangan dalam sikap dharmacakramudra, tetapi mudra tersebut dijumpai pada Boddhisattwa yang bertangan empat. Boddhisattwa tidak selalu sikap tangan dharmacakramudra, tetapi ada juga dalam sikap vitarkamudra. Apabila arca Boddhisattwa di Pura Melanting, tetapi dalam sikap dharmacakramudra seperti yang disebutkan oleh Stutterheim, maka dapat diperkirakan bahwa Boddhisattwa itu adalah Avalokitesvara. Hal itu belum dapat diketahui secara jelas karena selain mudra, usnisa dan mahkota yang berhias gambar arca Amitabha kecil tidak dapat diketahui dengan jelas (Getty, 1962 : 59).

Pura Melanting tempat penyimpanan arca itu sekarang mungkin tidak merupakan tempat yang asli, karena pura tersebut merupakan tempat pemujaan Dewi Melanting (Dewi Pasar). Penempatan ke dua arca tersebut di pura itu kemungkinan karena arca tersebut ditemukan tidak jauh dari tempat itu. Pada waktu agama Buddha berkembang di daerah Bedulu dan Pejeng mungkin arca tersebut dipergunakan sebagai media pemujaan yang ditempatkan pada bangunan suci agama Buddha (vihara), mengingat tidak jauh dari tempat ini, ditebing sungai Penyembulan terdapat vihara yang terdiri atas ruangan yang berbentuk bujur sangkar dengan beberapa ceruk, dan bagian tengah terdapat altar (Kempers, 1956 : 73). Kemungkinan kedua arca Boddhisattwa yang disimpan di Pura Melanting berasal dari vihara tersebut, yang dipergunakan sebagai media pemujaan oleh umat Buddha pada masa itu.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/bukti-bukti-awal-agama-budha-di-gianyar-dan-buleleng-bali-abad-ix-xii/
Comments
Loading...