Prot Meisjeschool Tomohon

0 81

Prot Meisjeschool Tomohon

Bangunan tua zaman Belanda yang terletak di Kelurahan Matani I, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, itu menjadi saksi sejarah kelam pendudukan Jepang di Tomohon pada masa Perang Dunia II.

Prot Meisjeschool Tomohon, demikian plang nama tua dari kayu zaman Belanda terpampang di sisi kiri gedung yang terletak di Jalan Raya Tomohon-Tondano itu.

Bangunan menyimpan kisah pilu itu kini berganti keceriaan para bocah-bocah SD yang mengenyam pendidikan. Bangunan Meisjesshool kini berada di bawah pengelolaan Yayasan AZR Wenas dan difungsikan sebagai Sekolah Dasar (SD) GMIM 3 Tomohon.

Namun, saat Jepang menguasai Tomohon bangunan sekolah untuk wanita itu difungsikan menjadi kamp tahanan wanita Eropa. Sejarah mencatat para tahanan wanita menjadi korban perkosaan. Hari-hari dilewati dengan siksaan fisik dan batin.

Ben Palar, sejarawan Minahasa, mengungkap, sejarah yang melatarbelakangi berdirinya Meisjesschool dimulai pada 1854. Berawal ketika Belanda menciptakan semacam golongan bangsawan bagi kepala distrik atau ukung tua di Minahasa.

Belanda menggelar pesta payung, sebuah acara khusus pemberian hak khusus bagi ukung tua yang pro Belanda. Hak khusus itu menjadi semacam tanda pengenal yang belakangan dianggap oleh para kepala distrik sebagai ‘tiket’ sebagai seorang bangsawan.

“Cara ini menjadi alat Belanda mengubah Minahasa,” ungkap penulis buku Sejarah Minahasa ini kepada Tribun Manado.

Merasa seperti bangsawan, anak-anak para ukung tua pun layaknya harus menerima pendidikan. Maka itu kemudian dibangun fasilitas pendidikan disebut Hovden School atau sekolah raja di Tondano untuk pendidikan anak laki-laki. Untuk perempuan didirikanlah Meisjesschool.

Pada 1916 Meisjesschool dipindahkan ke Kaaten, Tomohon, oleh Pdt Louwerierau, sehingga disebut juga Louwerierau School atau Sekolah Nona.

Meisjesschool dimulai saat masa Perang Dunia II. Ketika itu Jepang masuk ke Minahasa mengambil alih kekuasaan Belanda.

Sejak 25 Maret 1942, selama dua tahun Meisjesschool dijadikan kamp tahanan wanita bangsa Eropa. Tak terkecuali para biarawati, istri para pegawai Belanda hingga anak-anak perempuan ditahan di kamp tersebut.

Sedikitnya 315 wanita dan anak ditambah 58 biarawati dari Biara Walterus dipindah ke kamp tahanan ini. Mereka menempati lima ruang kelas sebagai ruang tidur, dapur dan rumah sakit. Tiap ruangan dijejali hingga 60 orang. Untuk mencegah tahanan kabur kamp dikelilingi tenda bambu dan pagar kawat.

Catatan sejarah mengungkap kepedihan para wanita Eropa. Catatan itu, kata Ben Palar, diperoleh dari lembaran kertas, semacam buku harian ditulis para wanita yang sehari-hari melewati penderitaan baik fisik maupun batin.

Tiga bulan pertama saat kamp dijaga serdadu Jepang, kata Palar, kerap terjadi perkosaan terhadap wanita tanpa pandang usia.

“Mau mengadu justru disalahkan dan dihukum,” katanya.

Tahanan hidup di bawah siksaan. Jika salah dipukul atau dijemur di terik matahari. Keadaan di kamp pun serba terbatas. Para tahanan kerap kekurangan makanan dan pakaian bersih.

Ben Palar mengungkap, para tahanan juga mendapat teror mental. Ada satu catatan tersembunyi dari biarawati menggungkap teror dimaksud.

Dalam catatannya terungkap pada waktu itu kira-kira awal Januari atau Februari tahun 1942 para suster berjumlah puluhan dibawa menggunakan truk keluar lokasi kamp. Mereka dibawa ke suatu tempat, lokasinya kira-kira di belakang SMA Kristen Tomohon. Para wanita malang itu harus menyaksikan eksekusi mati tahanan perang.

“Jepang akan memancung tahanan, dan para suster dibawa untuk menyaksikan langsung eksekusi itu,” sebutnya.

Disaksikan para suster justru menjadi kekuatan moril para tawanan menghadapi eksekusi mati. “Itu ditulis sendiri oleh para suster yang hadir dalam eksekusi itu,” ungkap Ben Palar.

Keadaan jadi lebih membaik setelah kamp dijaga tentara Jepang asal pribumi atau disebut Heiho. Penderitaan sedikit lebih ringan.

Pada 28 Oktober 1944 penggunaan kamp tahanan Meisjesschool berakhir. Para tahanan dipindahkan ke barak-barak di Airmadidi. Namun, kata Ben, penderitaan belum langsung berakhir. “Lain kolam lain riak, lain kamp lain derita,” katanya.

Setelah era kemerdekaan RI, fungsi Meisjesschool dikembalikan seperti sebelumnya sebagai tempat mengenyam pendidikan dan sudah bernuansa Republik Indonesia. Kini gedung itu dijadikan SD GMIM 3 Tomohon.

Bangunan asli Meisjesschool tetap dipertahankan. Menurut sejarawan Minahasa, bangunannya termasuk jenis rumah meiwangin yakni rumah tiang rendah. Sisa peninggalan Belanda yang masih bertahan yakni papan nama Meisjesschool.

Sesuai penelitian arkeologi, bangunan itu diklasifikasikan sebagai banguna indis gaya Eropa tradisional Minahasa. Konstruksi dindingnya dari nibong, semacam kayu kelapa dengan atap kayu sirap.

Setelah melewati zaman, bangunan pun direnovasi. Kata Ari Karwur, Kepala Sekolah Dasar GMIM 3, sebagian besar bangunan masih mempertahankan konstruksi lama. Atap, cat dan bagian bawah bangguna sudah direnovasi.

“Terutama di bagian bawah bagian kolong karena dari kayu sudah lapuk maka diputuskan dibangun beton,” katanya

Source http://manado.tribunnews.com http://manado.tribunnews.com/2016/05/29/meisjesschool-kaaten-di-tomohon-kamp-tahanan-bagi-wanita-eropa?page=all
Comments
Loading...