Prasasti Wurandungan

0 21

Prasasti Wurandungan

Prasasti ini dikabarkan berasal dari Malang, tetapi tempat temuannya tidak diketahui. Menurut Cohen Stuart prasasti ini disebut Prasasti Kawi XXX. Prasasti ini diterbitkan dalam OJO L: 105-8 dan juga dalam K.O. Dalam OJO L (B) angka tahunnya dibaca 865 Saka (943 M). Menurut pembacaan L.G. Damais dalam EEI IV hal. 170-172 adalah tahun 870 Saka (22 Februari 948 M). Prasasti ini adalah prasasti tinulad, maka banyak terdapat kesalahan dalam menyalin prasasti aslinya. Misalnya saja gelar Sindok yang seharusnya Śrī Iśānawikrama Dharmottuṅgadewa telah disalin i Sira Iśānawikramadharmatsaha. Alih aksara prasasti di dalam OJO L: 105-8; EEI IV: 170-2. Keberadaan prasasti saat ini tidak diketahui.

Prasasti dipahatkan di 7 buah lempeng tembaga dan dikeluarkan pada hari Rabu Wage, tanggal 10 Suklapakşa, bulan Phalguna, tahun 865 Śaka atau tanggal 7 November 944 M. Adapun isinya Śrī Mahāraja Rake Halu Pu Siṇḍok Śrī Iśānawikrama Dharmottuṅgadewa memberi anugerah kepada Dang Puryyat berupa tanah yang meliputi seluruh wilayah Kanuruhan. Seluruh tanah itu dijadikan sīma, terutama tempat bangunan suci sang hyang dharma kahyangan i wurandungan berada. Begitu pula agar semua penduduk yang pekerjaannya memelihara bangunan-bangunan suci itu dibebaskan dari kewajiban membayar pajak kepada raja.

Di dalam Prasasti Wurandungan disebutkan adanya ‘gugusan kahyangan’ (bangunan-bangunan suci) yang ada di wilayah Kanuruhan. Yang pertama dan utama dari segala bangunan suci tersebut adalah Sang Hyang Wurandungan, dan setelah itu berikutnya adalah Sang Hyang Mahulun, Sang Hyang Panghawan, Sang Hyang Kaswaban (dalam prasasti lain disebut Kaswangga), dan Sang Hyang Kagotran. Wurandungan dapat dikenali kembali sebagai Pelandungan (atau disebut juga Kelandungan), sebuah pedukuhan di Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Di tempat tersebut hingga sekarang masih dapat dijumpai situs bekas bangunan candi, di seberang barat Sungai Metro.

Beberapa di antara istilah-istilah untuk menyebut bangunan suci itu diketahui arti katanya, seperti mahulun ‘yang mempunyai hamba’ yaitu raja, kagotran, dari kata gotra, ‘wangsa, keluarga’. Tetapi kurang jelas yang dimaksud dengan kaswaban, yang tentunya berasal dari kata swab ‘memiliki (?)’. Sementara nama Panghawan sering disebut dalam beberapa prasasti zaman Pu Sindok sebagai Pangawan, antara lain terdapat dalam Prasasti Linggasutan dan Gulung-gulung. Menurut Suwardono nama Panghawan identik dengan Mangliawan, sebuah desa di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Untuk ketiga tempat suci lainnya, yaitu Mahulun, Kaswaban (Kaswangga), dan Kagotran belum dapat teridentifikasi secara memuaskan. Nama Kagotran dapat dijumpai kembali dalam Prasasti Piling-piling yang ditemukan di daerah Dinoyo sebagai pejabat penerima hadiah, yaitu Rakryan Gotra.

Di dalam Prasasti Wurandungan B disebutkan bahwa Rakryan Kanuruhan atas perintah raja Sindok memberikan beberapa bidang tanah di Panawijen untuk kepentingan bangunan suci bagi pemujaan kepada Sang Hyang Rahyangta. Saat ini Panawijen adalah Kelurahan Polowijen di Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Dikatakan pula bahwa kondisi Panawijen merupakan daerah tanah kering, sehingga tanaman padinya pun berupa padi gogo atau sawah tadah hujan. Terdapat pula kata suwakan yaitu lahan yang mendapatkan airnya dari sungai yang disobek. Suwardono menduga sungai yang disobek tersebut sekarang menjadi Kali Mewek.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/3207/prasasti-wurandungan-i/
Comments
Loading...