Prasasti Widodaren

0 37

Prasasti Widodaren

Prasasti ini diperoleh dengan membeli dari seseorang. Menurut penjualnya prasasti tersebut berasal dari suatu tempat di lereng Gunung Widodaren sehingga kemudian dikenal sebagai Prasasti Widodaren. Gunung Widodaren adalah sebuah gunung kecil di sebelah barat daya Gunung Semeru. Letaknya tidak jauh dari situs Jawar dan secara administratif terletak di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Saat ini Prasasti Widodaren tersimpan di Hotel Tugu Kota Malang dengan nomer inventaris 154. Penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Ninie Susanti berjudul Prasasti dari Desa Widodaren: Suatu Kajian Awal tentang Aksara yang dimuat dalam makalah pada Kongres I dan Seminar Asosiasi Ahli Epigrafi Indonesia 2001.

Prasasti Widodaren ditulis di atas sebuah batu andesit berbentuk lingga semu dengan ukuran tinggi 110 cm, lebar 60 cm, dan tebal 18 cm. Prasasti Widodaren berbahasa Jawa Kuno dan berhuruf Jawa kuno yang sudah bergeser menuju huruf Jawa pertengahan. Demikian pula bahasanya sudah mengarah kepada bahasa Jawa pertengahan. Di bagian depan batu memuat tujuh baris pertulisan yang dapat dibaca dengan baik dan terdapat hiasan berupa dua buah sulur pada bagian atas prasasti. Di tengah kedua sulur itu terdapat sebuah lingkaran kecil, dua buah lingkaran dengan masing-masing dua garis lengkung di dalamnya menghiasi bagian bawah prasasti ini.

Sementara bagian belakang terdapat huruf-huruf yang terputus antara kata yang satu dengan kata yang lainnya, serta terdapat lambang trisula yang dililit oleh tali. Lambang semacam ini menurut informasi salah satu epigraf dari Puslitbang Arkenas mirip dengan lambang yang biasa digunakan pada masa Majapahit akhir (pemerintahan Girindrawardhana). Namun masih belum dapat dipastikan makna lambang tersebut karena pada Prasasti Widodaren jelas bergambar trisula yang dililit tali, sedangkan lambang kerajaan masa Girindrawardhana adalah berupa dua telapak kaki di bawah payung serta di kanan kiri payung terdapat gambar bulan dan matahari.

Menurut tafsiran kalimat yang dapat dibaca pada prasasti ini adalah bagian depannya. Alih aksara prasasti tersebut adalah sebagai berikut:
1. Salêmah kas
2. turi, wêka awêha
3. totohan,
4. dadiha kawula
5. batur sa(ng) pu Tula,
6. mane samake,
7. muwah satêbe

Alih bahasa:
1. Sebumi yang wangi,
2. anak cucu janganlah
3. bermain-main,
4. jadilah hamba
5. sahaya dari sang Pu Tula,
6. dari saat ini,
7. hingga kapanpun.

Kalimat tersebut apabila diartikan secara harfiah akan didapat sebuah pesan yang dalam maknanya. Bunyi pesan itu kurang lebih sebagai berikut: Demi bumi (pertapaan) yang suci. Anak cucu janganlah hidup dalam pertaruhan. Jadilah hamba sahaya dari Sang Pu Tula. Dari saat ini, hingga akhir hayatmu. Melihat kata-kata pesan semacam itu, tentunya dapat diduga bahwa prasasti dibuat oleh sekelompok rohaniwan/pertapaan, yang pada saat itu terkenal dengan lingkungan karesian atau mandala kadewaguruan.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/5449/prasasti-widodaren/
Comments
Loading...