Prasasti Ukir Negara

0 49

Prasasti Ukir Negara

Prasasti Ukir Negara ditemukan oleh pekerja perkebunan Komplek Ukir Negara pada akhir tahun 1974 di Desa Sirah Kencong, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Prasasti itu diserahkan oleh administrasi perkebunan, M.S. Soewandhi, pada 11 Januari 1975. Lempengan ini ditemukan bersama-sama sebuah guci bercuping empat. Prasasti Ukir Negara (Pamotoh) berjumlah 8 lempeng tembaga yang dibagi menjadi 3 bagian, beraksara dan berbahasa Jawa Kuno. Saat ini Prasasti Ukir Negara III tersimpan di Museum Pu Tantular Sidoarjo.

Isi Prasasti Ukir Negara III secara umum prasasti kelompok pertama menyebutkan sejak bulan keempat tahun 1304 saka (1382 M) warga Desa Marinci dibebaskan dari segala macam pajak. Biasanya prasasti ini disebut dengan nama Prasasti Marinci. Prasasti Pamotoh kelompok kedua menyebutkan bahwa pada bulan Posha tahun saka 1120 (1198 M) Sri Digjaya Resi memberi anugerah kepada Dyah Limpa berupa rumah dan tanah dengan ukuran luas dihitung dalam istilah ”jung” disertai keterangan batas-batasnya.

Alasan atau sebab-sebab diturunkannya anugerah tidak disebutkan. Prasasti ini ditulis oleh Mpu Dawaman di Talun. Prasasti Pamotoh kelompok ketiga menyebutkan bahwa Sri Dingkas Resi memberi anugerah kepada Dyah Limpa, Dyah Mgat, Dyah Duhet dan Dyah Rinami, masing-masing diberi tanah sima disertai hak-hak istimewa. Antara lain untuk memberikan budak, makanan-makanan istimewa hak mengatur denda dan lain-lain. Aturan hukum bagi masing-masing. Dyah Duhet mendapatkan sima di Gonggang, Dyah Tinami mendapatkan sima di rumah. Selain itu ada pemberian hadiah kepada rakyat Pamotoh dan lain-lain. Prasasti ditutup dengan kutukan bagi mereka yang melanggarnya.

Disebutkan bahwa salah seorang Rakryan Patang Juru yang bernama Dyah Limpa dan tinggal di Gasek (kini sebuah dukuh di Desa Karangbesuki, Kota Malang) wilayah Pamotoh mendapat hadiah tanah dari Sri Maharaja. Penyerahan ini diwakili oleh Rakryan Pamotoh dan Rakryan Kanuruhan. Tanah yang dihadiahkan itu di antaranya tanah di sebelah timur tempat berburu yang bernama Malang. Di situ tertulis: “… taning sakrid malang akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah limpa makanagaran i …” Artinya adalah: “.. di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang bersama wacid dam macu, persawahan Dyah Limpa yaitu…”

Daerah-daerah lainnya dihadiahkan meliputi kawasan Malang dan sekitarnya, beberapa di antaranya disebutkan juga dalam Pararaton, yaitu Malang, Kabalan, Gadang, Sagenggeng, Talun, Gasek, Wurandungan, Dau, Ayuga, dan Paniwen. Gadang saat ini adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Sukun, Kota Malang. Paniwen mungkin terletak di dekat Sumberpucung atau bisa juga di sebelah barat Bakalan Krajan. Sedangkan nama desa Marinci sekarang menjadi nama sebuah Dusun Princi di Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau. Prasasti ini ditulis di daerah Talun yang saat ini di daerah Klojen terdapat juga nama Talun. Prasasti ini diresmikan pada tanggal 6 bulan Posha (Desember-Januari) tahun 1120 Saka (1198 M), hari Wurukung, Pahing, dan Saniscara. Dari prasasti tersebut Malang merupakan suatu tempat di sebelah timur dari tempat-tempat yang disebutkan dalam prasasti itu dan diperoleh bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada paling tidak sejak abad XII.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/2515/prasasti-ukir-negara-iii-munculnya-nama-malang/
Comments
Loading...