Prasasti Sugih Manek (Limus)

0 49

Prasasti Sugih Manek (Limus)

Prasasti Sugih Manek ditulis di atas batu berukuran tinggi 94 cm, lebar 72 cm dan tebal 18 cm, bertuliskan 30 baris di depan dan 31 baris di belakang. Prasasti ini ditemukan di wilayah Singosari dan disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris D.87. Prasasti ini berangka tahun 837 Saka atau 13 September 915 M. Prasasti ini diterbitkan oleh Brandes dalam OJO XXX, 1913: 37-42. Damais menerbitkannya dalam EEI IV: 50-51. Sarkar menerbitkannya dalam Corpus vol. II, 1972: 145-160.

Bagian yang tampaknya berhubungan dengan bangunan suci telah rusak dan tidak dapat dibaca. Dari isi prasasti disebutkan pemberian anugerah dari Sri Maharaja Sri Daksottamabahubajrapratipaksaksaya kepada Rakai Kanuruhan untuk menjadikan desa di daerah Limus dan Tampuran sebagai daerah perdikan untuk bangunan suci di Sugih Manek (dharma Rakryan prasada kabikwan i Sugih Manek), di mana pemujaan dewa harus dilakukan setiap harinya (bagian depan baris ke-7). Setelah beberapa kata yang keliru diterjemahkan (oleh Brandes) kita menemukan “kapujan Bhatara Sangsasisa”, tapi kelanjutannya telah aus (sekitar setengah dari sembilan baris pada sisi depan batu). Sisi belakang prasasti batu juga sangat aus sehingga banyak huruf yang tidak terbaca atau sangat sulit untuk dibaca.

Dari apa yang masih dapat diuraikan ada hal-hal yang menarik. Baris 17 menyatakan: tanamman cihnānyan mapatih kasīmānikaing i Limus mwang ing Tampuran sīma punpunana bhaṭāra i prāsāda i Sugiḥ Manek. Sehubungan dengan “sang hyang teas” yang didirikan (pinratista) perlu didahului oleh sebuah ritual (tlas krtasangskara). Dari hal tersebut kemungkinan bahwa “sang hyang teas” bukanlah dewa atau gambar – meskipun pratista biasanya mengacu pada gambar – melainkan batu untuk menandai sima yang didirikan di pusatnya.

Kutipan yang dikutip di atas bisa berarti: (batu sima) yang didirikan menandakan bahwa mapatih telah memerintahkan agar (situs) akan dijadikan sima dari Limus dan Tempuran, seluruh hasilnya dipersembahkan untuk Bhatara Sang (yang bertahta) di hyang prasada di Sugih Manek. Akhirnya muncul “Rakryan dharma prasada Kabikwan i Sugih Manek” di sisi depan dan “bhatara i prasada i Sugih Manek” di sisi sebaliknya memberikan kesan bahwa ternyata dharma tersebut adalah “biara” dengan prasadanya didirikan pada suatu bhatara terdahulu yang telah diabadikan. Ini bisa menjelaskan mengapa kedua desa Limus dan Tampuran dibuat bersamaan menjadi sima.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/1917/prasasti-sugih-manek-limus/
Comments
Loading...