Prasasti Manjusri Malang

0 67

Prasasti Manjusri

Prasasti ini dipahat pada arca Mañjuśrī dengan aksara Jawa Kuno dan bahasa Sanskerta. Pada awalnya ditemukan di Candi Jago di Desa/Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Saat ini arca Manjusri ini tersimpan di Museum Ethnology Berlin. Sedangkan duplikatnya tersimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris D. 214. Transkripsinya telah dibahas oleh H. Kern dan diterbitkan dalam karya J.L.A. Brandes, Tjandi Singasari (1909). Prasasti ini terdiri dari dua bagian, pertama terdapat di bagian muka di atas Boddhisattwa yang terdiri dari tiga baris tulisan.

Bagian kedua dipahat pada bagian belakang arca dengan tujuh baris tulisan. Prasasti ini berangka tahun 1265 Śaka (sekitar 25 Januari 1343-14 Maret 1344 M). Prasasti ini telah dibahas oleh F.D.K. Bosch dalam De Incriptie op net Maňjuçrī beeld van 1265 Çaka (BKI, 77, 1921: 194-201). Peneliti lain yang telah membahas prasasti ini antara lain R. Pitono (1966) dan Machi Suhadi (1990). Candi Jago tersebut mula-mula didirikan atas perintah raja Kertanagara untuk menghormati ayahandanya, raja Wisnuwardhana, yang mangkat pada tahun 1268 M.

Isi prasasti ini tentang penempatan sebuah arca Mañjuśrī oleh Adityawarman di tempat pendarmaan Jina pada tahun Śaka 1265. Menurut penafsiran Bosch dari prasasti tersebut, kemungkinan Adityawarman mendirikan candi tambahan di lapangan Candi Jago tersebut, atau mungkin pula candi yang didirikan tahun 1280 M sudah runtuh dan digantikan dengan candi baru. Tidak adanya sisa-sisa bangunan besar di samping Candi Jago yang sekarang, sehingga menunjukkan penjelasan yang kedua lebih masuk akal. Menurut analisis Stutterheim, gaya relief dan ukiran pada candi tersebut, membuktikan bahwa candi yang sekarang ini lebih baru daripada berasal dari abad XIII.

Manjusri adalah Bodhisattwa, biasanya diwujudkan sebagai seorang pemuda, yang memegang pedang terhunus di tangannya yang satu, dan sebuah buku di tangannya yang lain. Pedang itu dimaksudkan sebagai alat untuk membrantas penasaran dan kepalsuan, sedangkan buku mengandung ajaran tentang sepuluh laku utama, cita-cita Bodhisattwa, disebut paramita.

Pada umumnya, uraian di atas, sesuai dengan wujud arca Manjusri dari Singosari, tetapi ada juga perbedaannya. Arca Manjusri dari Singosari berupa seorang bangsawan, bermahkota tinggi, duduk bersila, tangan kanannya memegang keris, tangan kirinya ditempelkan pada dada, buku paramita terletak di pangkuan. Pada keempat sudut sandaran tempat duduknya terdapat arca yang sama dalam bentuk kecil-kecil. Daun teratai menghiasi sisi kanan dan kiri sandaran tempat duduknya. Sebagian dari piagam menghiasi bagian atas.

Mungkin tokoh yang diarcakan sebagai Manjusri itu ialah Pu Adityawarman sendiri. Karena ia adalah seorang bangsawan, berpangkat wreddha mantri dalam pemerintahan Tribhuwanatunggadewi, saudara sepupu mendiang Jayanegara, dan hubungan kekeluargaannya dengan Rajapatni didasarkan atas garis keturunan ayahnya yang bernama Adwayawarman, seperti dinyatakan pada Prasasti Kubur Rajo. Kiranya Adwaya itu dapat disamakan dengan Adwayabrahma, seorang mahamenteri dari Singhasari, yang tercatat pada piagam Jawa Kuno Amoghapasa tahun 1286 M. Piagam tersebut memperkuat dugaan bahwa Mahamenteri Adwayabrahma adalah keluarga Kertanegara. Dengan sendirinya mempunyai hubungan kekeluargaan yang masih dekat dengan Rajapatni. Persembahan arca Manjusri adalah sangat tepat karena baik Adityawarman maupun Rajapatni adalah pemeluk agama Budha.

Nama Adityawarman mulai tercatat pertama kali dalam Prasasti Blitar bertarikh 1330, yang menyebutkan bahwa Arya Dewaraja Pu Aditya sebagai wreddha mantri. Nama Pu Aditya masih tercatat sebagai wreddha mantri dalam Prasasti Nglawang (O.J.O. LXXXIV atau D.38) yang berasal dari sekitar tahun 1345 M. Dalam prasasti itu, disebut dalam kelompok para tanda, Rakryan sang wreddhamantri Sang Arya Dewaraja Pu Aditya dan Sang Arya Dhiraja Pu Narayana.

Lalu diikuti penyebutan sang panca Wilwatikta yang dikepalai oleh Rakryan patih Majapahit Pu Gajah Mada dan Rakryan Patih Kahuripan. Dalam Prasasti Manjusri, disebutkan bahwa Adityawarman menjabat sebagai menteri praudhatara. Boleh dipastikan istilah praudhatara sama dengan wreddha mantri pada Prasasti Blitar dan Prasasti Nglawang di atas, dan Adityawarman sama dengan Pu Aditya.

Diduga Adityawarman adalah keturunan Dyah Dara Jingga dari perkawinannya dengan Mahamenteri Adwaya. Adityawarman adalah saudara sepupu Jayanegara, yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan raja-raja Singhasari. Mungkin itulah sebabnya ia diangkat sebagai wreddha mantri. Dalam Pararaton disebutkan bahwa Dara Jingga dikawinkan dengan seorang “dewa” (ksatria), beranak Tuhan Janaka yang bergelar Sri Marmadewa dan kemudian menjadi raja di Malayu dengan gelar abhiseka Aji Mantrolot. Raja Malayu yang bergelar Aji Mantrolot itu oleh para ahli diidentifikasikan dengan Adityawarman. Pada tahun 1347 M Adityawarman itu telah menjadi raja Malayu. Diduga ia menikahi seorang saudara sepupunya sehingga singgasana dengan mudah diperolehnya.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/4684/prasasti-manjusri/
Comments
Loading...