Prasasti Kubu-Kubu

0 29

Prasasti Kubu-Kubu

Prasasti Kubu-Kubu asalnya masih kurang jelas. Prasasti hanya diketahui dari daftar keterangan bahwa asalnya dari koleksi pribadi Prof. Leber di Malang. Baru pada tahun 1952 ketika Damais menerbitkan daftar prasasti-prasasti berangka tahun yang ditemukan di Indonesia, muncul dengan nama Prasasti Kubu-Kubu berdasarkan nama desa yang ditetapkan menjadi sima yaitu Kubu-Kubu. Prasasti Kubu-Kubu ditulis pada tujuh lempeng tembaga, tetapi lempeng keduanya hilang.

Penulisan prasasti dilakukan pada dua sisi yaitu sisi A dan B kecuali lempeng pertama dan ketujuh. Lempeng pertama terdiri dari 5 baris, lempeng ketiga terdiri dari 5 baris pada sisi A dan B, lempeng keempat terdiri dari 5 baris pada sisi A dan B, lempeng kelima terdiri 4 baris pada sisi A dan B, lempeng keenam terdiri dari 4 baris pada sisi A dan B dan lempeng ketujuh terdiri atas 4 baris pada sisi A. Prasasti berangka tahun 827 Saka (17 Oktober 905 M) dan dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rakryan Watukura dyah Balitung.

Ukuran masing-masing lempeng rata-rata panjang 35,8 cm, lebar 5,4 cm dan tebal 2 mm. Menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Kondisi prasasti cukup baik, hanya saja bagian tengah lempeng berlubang. Rupanya dahulu tempat memasukkan tali pengikat lempeng menjadi satu. Huruf-hurufnya masih cukup jelas sehingga dapat dibaca dengan baik.

Prasasti Kubu-Kubu merupakan prasasti tinulad yang disalin kembali pada masa Wawa atau Sindok. Hal ini didasarkan adanya penggunaan kata wulu wulu yang biasanya dipakai sejak masa Wawa dan Sindok. Transkripsi Prasasti Kubu-Kubu secara lengkap dilakukan oleh Antoinette M. Barret Jones (1984) dalam Early teenth Century Java from the Inscription: A Study of Economic, Social, and Administrative Condition in the First Quarter of the Century dan Boechari (1985) dalam Prasasti Koleksi Museum Nasional Jilid I.

Prasasti Kubu-kubu dikeluarkan pada tahun 827 Śaka (17 Oktober 905 M). Prasasti ini memperingati pemberian anugerah kepada Rakryān Hujung dyah Mangarak dan Rakryān Matuha Rakai Majawuntan berupa sebidang tanah tegalan di Desa Kubu-kubu yang dijadikan sīma. Pembatasan daerah sīma itu dilakukan oleh Dapunta Mañjala, Sang Manghambin, Sang Diha, Sang Dhipa, dan Dapu Hyang Rupin.

Adapun sebabnya kedua orang itu mendapat anugerah raja ialah karena mereka itu telah berhasil mengalahkan Bantan. Sampai saat ini masih belum jelas di mana letak Bantan tersebut. LC. Damais pernah mengemukakan dugaan bahwa Bantan adalah Bali. Alasannya karena beberapa nama tempat dan jabatan di dalam prasasti tersebut terdapat juga di dalam prasasti-prasasti Bali, seperti Batwan, Burwan, Air Gangga, Sang Bukit, Kulapati, dan Rĕke. Kata Bantan sendiri memiliki arti ‘korban’, sedangkan Bali berarti ‘persembahan’.

Nama Hujung sebagai daerah lungguh Rakryān Hujung, dan Majawuntan, bentuk krama dari Majawuri, daerah lungguh Rakai Majawuntan sering ditemui di dalam prasasti di Jawa Timur. Daerah Kubu-kubu mungkin di sekitar Jawa Timur, karena desa-desa sekelilingnya (tpi siring) yang mengirim wakil-wakil sebagai saksi pada waktu desa tersebut ditetapkan sebagai sima, yaitu desa-desa Batwan, Barsahan, Tal-tal, Unggah Śrī, Kasu(gi)han, Pañjara, Buñjal, Wṛnwang, Katuhaburwan, Skarpaṇḍan, sebagian besar di antaranya terdapat di dalam prasasti-prasasti di Jawa Timur. Menurut beberapa sejarawan, nama desa Kubu-Kubu diidentifikasi sebagai Kebonagung di Kecamatan Pakisaji sekarang. Salah satu desa yang disebutkan sebagai tetangga desa Kubu-Kubu adalah Desa Batwan, yang bisa jadi merupakan desa kuno yang kini berlokasi di Batu.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/4096/prasasti-kubu-kubu/
Comments
Loading...