Prasasti Kranggan

0 260

Prasasti Kranggan

Prasasti Kranggan merupakan salah satu peninggalan purbakala yang ada di wilayah Kabupaten Malang, tepatnya di Dusun Kemuning, Desa Kranggan, Kecamatan Ngajum. Konon, benda bersejarah ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno.

Diperkirakan, prasasti ini sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang eksis sebelum Kerajaan Singhasari yang merupakan cikal-bakal wilayah Malang. Ahli sejarah memperkirakan, Prasasti Kranggan adalah peninggalan sebelum abad XI, tepatnya pada masa Raja Balitong berkuasa di Kerajaan Mataram kuno. Hal ini terlihat dari bahan prasasti yang terbuat dari batu andesit berbentuk segi empat.

Panjangnya sekitar satu meter, lebar setengah meter, ketebalan batu sekitar 15-20 sentimeter. Terdapat tulisan Jawa kuno melingkar dari depan, samping, dan belakang pada bagian atas batu. Menariknya, batu bersejarah ini ditempatkan di atas sebuah gundukan tanah setinggi lutut orang dewasa. Huruf Jawa kuno yang tertera di prasasti itu tidak sama dengan huruf pada zaman Kerajaan Singhasari. Maka tak heran, prasasti itu diperkirakan peninggalan sebelum abad XI pada masa Kerajaan Mataram kuno dikuasai Raja Balitong.

Prasasti Kranggan ini sendiri terletak di kompleks Padepokan Kemuning. Situs Kemuning ini ditemukan oleh seorang Belanda bernama F.D.K. Bosch pada Oktober 1916. Kala itu, Bosch yang berusaha membaca Prasasti Kranggan mendapat kesulitan lantaran batu itu sudah usang nyaris tak terbaca tulisannya. Hanya angka tahunnya saja yang dapat dibaca oleh Bosch, yaitu 1178 Saka (1256 M).

Jika ditelusuri lebih lanjut, tahun tersebut bertepatan dengan masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana dari kerajaan Singhasari. Konon, prasasti tersebut dikeluarkan oleh Rajamuda (Yuwaraja/Kumararaja) Kertanegara (anaknya). Karena selain prasasti, terdapat pula sebuah lingga dan yoni di kompleks situs Kemuning tersebut, diduga peninggalan purbakala ini dulunya merupakan bangunan suci agama Hindu.

Meski tak ada yang bisa menerjemahkannya, kemungkinan besar isi Prasasti Kranggan ini berkaitan dengan ‘Dharma Sima Swatantra’ (daerah tertentu yang bebas pajak). Sebutan itu terdapat pula dalam prasasti Mulamalurung yang satu tahun lebih awal dikeluarkan oleh raja Wisnuwardhana.

Isi prasasti Mulamalurung lempeng IV tahun 1177 Saka (1255 M) adalah “yang menandai (memulai) bangunan suci tanah perdikan di suatu tempat di ‘bumi sebelah timur Kawi,’ oleh yang melaksanakan perintah, yaitu sang apanji Samaka, patih dari raja Kertanegara.

Dusun Kemuning ini berjarak sekitar 18 kilometer dari Kepanjen. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Desa Kranggan, termasuk Dukuh Kemuning di dalamnya, masuk dalam distrik (Kawedanan) Kepanjen, Afdeling Malang, Karesidenan Pasuruan.

Untuk menuju ke dusun ini, Anda harus mengambil arah menuju ke Bendungan Karangkates, melalui Kecamatan Kepanjen. Anda akan melewati wilayah Ngasem, Kranggan, lalu sampai ke Kemuning. Begitu masuk wilayah dusun tersebut, Anda tinggal bertanya pada warga setempat di mana keberadaan situs Kemuning di mana Prasasti Kranggan berada.

Selain Prasasti Kranggan, di situs tersebut terdapat pula bekas reruntuhan candi berbata merah, yoni yang lingganya sudah hilang dicuri, dan arca Lembu Nandi yang tersembunyi di bawah akar pohon beringin. Yoni yang disemen berbentuk segi empat, sementara pecahan hiasan candi di atas yoni dan tebaran fragmen batu bata merah besar menjadi tanda pernah berdiri bekas candi Hindu beraliran Sekte Siwa Siddhanta di area ini.

Menurut Mbah Salam (61) selaku Juru Pelihara situs Kemuning, tempat Prasasti Kranggan yang sekarang berdiri di atas gundukan tanah yang mirip dengan makam itu disebut “Petilasan Mbah Suko”. Sementara itu, di sebelah tempat tersebut terdapat pohon yang tidak terlalu besar yang disekat dengan pagar berwarna hijau dan batu bata pendek berukuran 1 x 1 meter disebut “Petilasan Mbah Mintorogo”.

Dari temuan tersebut, ditarik kesimpulan bahwa daerah Desa Kranggan memiliki fakta historis yang kuat sebagai desa kuno yang sudah dihuni oleh manusia pada masa sebelum Kerajaan Singhasari. Keberadaan situs dan bangunan suci bersama prasastinya di situs Kemuning, menunjukkan bahwa Desa Kranggan merupakan salah satu desa spesial sebagai daerah kekuasaan kerajaan tersebut. Pasalnya, tak mungkin pemerintah kerajaan mendirikan bangunan suci tanpa alasan yang jelas.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2016/12/16/menengok-keberadaan-prasasti-kranggan-ngajum/
Comments
Loading...