Prasasti Himad-Walandit

0 24

Prasasti Himad-Walandit

Prasasti Himad-Walandit, diterbitkan pertama oleh Dr. J.G. de Casparis dalam Inscriptie van Nederlandsh Indie, 1940, halaman 50-60. Sayangnya Prasasti Himad-Walandit ini tidak berangka tahun, tetapi diperkirakan pada masa awal Hayam Wuruk memerintah Majapahit. Disebutkan bahwa saat itu Gajah Mada menjabat sebagai rakryan mapatih di Janggala dan Kadiri.

Bahkan mungkin juga prasasti tersebut dikeluarkan dalam masa pemerintahan Ratu Tribhuwanottunggadewi (1328—1351 M), pada masa itu Gajah Mada telah menjadi patih di Majapahit dengan julukan Patih Janggala-Panjalu, dua daerah inti kerajaan Majapahit. Prasasti ini tidak diketahui pasti tempat penemuannya, tetapi bila dibandingkan dengan nama-nama desa yang disebutkan dengan prasasti yang lainnya diperkirakan berasal dari daerah Singosari dan sekitarnya.

Pada intinya prasasti ini berisi perebutan hak pengelolaan atas sebuah dharma kabuyutan (candi leluhur) dan juga pengawasan terhadap patirthān yang banyak dikunjungi oleh para peziarah. Dharma kabuyutan dan patirthān tersebut berada di wilayah Walandit dan daerah itu telah menjadi swatantra berdasarkan sekeping prasasti logam dari masa pemerintahan Pu Sindok pada abad ke-10 Masehi. Sebaliknya penduduk Himad merasa bahwa Walandit adalah bagian dari wilayah desanya. Penduduk Walandit berhak atas pemeliharaan bangunan suci, dan juga segala penghasilan dewa diperuntukkan bagi kemajuan dan kemakmuran bangunan suci tersebut.

Untuk selengkapnya persengketaan itu terjadi antara para rāma di Walandit melawan para dapur di Himad mempermasalahkan kedudukan dharma kabuyutan dan status Desa Walandit terhadap Himad. Semula Desa Walandit adalah daerah swatantra, penduduknya mendapat tugas untuk memelihara dharma kabuyutan di Walandit. Mereka hanya mengakui kekuasaan dharma kabuyutan atas lembah dan bukit di sekitar Desa Walandit.

Akan tetapi, dalam perkembangan sejarah, para pejabat Desa Himad menguasai Walandit. Sebagai sebuah daerah watak, Himad memiliki hak untuk memungut pajak atas tanah desa-desa bawahannya, lebih-lebih Walandit pernah merupakan wilayah kewatakan Himad, sehingga para dapur Himad ingin memperoleh kembali pajak-pajak atas Walandit. Penduduk Walandit enggan mengakui kekuasaan pejabat-pejabat Himad dan menuduh mereka mencampuri urusan Desa Walandit.

Para rāma di Walandit mempunyai bukti bahwa terdapat sebuah prasasti dari masa Sindok yang berisi ketetapan bahwa Sang Hyang Dharmma Kabuyutan berstatus swatantra. Demikian juga terdapat kesaksian dari orang-orang cacat yang bekerja di dharma kabuyutan yang menguatkan para rāma di Walandit (maka wyakti hanang praśasti seṇḍok lanchita, makarasa magěhakěn sang hyang dharma kabuyutan, an swatantraděg rining [baca: ringgit] jataka punpunan hetu).

Demikian pula dikatakan bahwa Desa Walandit mendapat kewajiban untuk melakukan pemujaan di dharma kabuyutan serta memeliharanya, juga mengawasi orang-orang yang mandi dan mengambil air suci di tempat suci itu. Kemudian ditegaskan bahwa Walandit bukan merupakan punpunan dari Himad. Sebaliknya para dapur Himad memberikan kesaksian bahwa kundi thani yang ditempatkan di Walandit berasal dari Himad, dan dari para dapur Himad-lah para rāma di Walandit mengetahui akan kerusakan Sang Hyang Dharmma Kabuyutan. Kesaksian para rāma di Walandit dianggap lebih kuat, sehingga perkaranya dimenangkan.

Dalam sengketa di Prasasti Himad-Walandit ini sama sekali tidak disinggung kitab perundang-undangan Kutaramanawadharmasastra tentang sahasa atau perampasan hak, mungkin karena keputusan itu diambil di luar pengadilan oleh para pejabat tinggi kerajaan, di antaranya Rakryan Patih Gajah Mada (Rake Mapatih ring Janggala Kadiri Pu Mada). Keputusannya berupa piagam yang disusun oleh Pamegat Tirwan bernama Wangsapati atas nama Samgat Jamba, Samgat Pamotan, Empu Kandangan, Rakryan Patih Empu Mada dan Sang Arya Rajadhikara.

Dalam sengketa itu, para pejabat Himad dikalahkan. Orang-orang Walandit tetap menjalankan pekerjaannya seperti sediakala berdasarkan prasasti Raja Sindok yang dibubuhi lencana. Tak ada yang lain selain Sang Hyang Dharmma Kabuyutan yang berhak atas Desa Walandit dan segala jenis pajak, terutama tahil (….tan hana ning len sangke sang hyang dharmma kabuyutan pramāņe walandit muang sarikpurihnya saprakāra makāding tahil ..).

Hasil keputusan atas sengketa ini dikatakan sebagai berikut, “kune[ng] yan hana thanyang-ruddha, kewalapageha ri kahayuakna sang hyang dharma kabuyutan mangkanatah prawrttyacara mpu rama ri walandit anung sayogya wruhe sama-manana sang hyang dharma, sangsiptanya labdhapageh pgat pramaneriya, n[a]h[a]r[a]wruh ri saniwedya sang hyang dharma kabuyutan man[g]kanat[a]h paksa mpu dapur i himad nimittanyan sor balawan paksa mpu rama ri walandit…”

Terjemahannya lebih kurang sebagai berikut: “Adapun jika ada penduduk desa yang berbuat jahat (merusak), lindungilah keselamatan Sang Hyang Dharma Kabuyutan, begitulah tugas dari rāma (kepala desa) Walandit terhadap sang hyang dharma yang selayaknya diketahui. Pendek kata telah diterima dengan kokoh bahwa kekuasaan telah memutuskan berdasarkan pengetahuan dan bukti [bahwa] Sang Hyang Dharma Kabuyutan [milik Walandit], begitulah upaya pihak penduduk Himad telah kalah melawan pihak rāma Walandit…”

Nama Walandit telah disebutkan dalam beberapa prasasti dari zaman Pu Sindok antara lain dalam prasasti OJO. XXXIX, XLIII, dan LI. Nama Walandit disebutkan juga dalam prasasti yang berangka tahun 1405 yang menyebutkan adanya pemujaan kepada Gunung Bromo (Yamin 1962: 86). Lokasi desa-desa itu sangat mungkin di lereng Pegunungan Bromo-Tengger di daerah Wonorejo. Epigraf J.G. de Casparis menganggap Walandit terletak di daerah Pegunungan Tengger, yaitu Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Desa Wonorejo dulunya bernama Balandit. Pada peta topografi lembar XLII 54-D:1918-1923 masih dijumpai sebuah dukuh bernama Blandit, dan masih bagian dari wilayah Desa Wonorejo.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/1426/prasasti-himad-walandit/
Comments
Loading...