Prasasti Gulung-gulung Malang

0 25

Prasasti Gulung-gulung

Prasasti Gulung-gulung ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang. Nama lainnya dari prasasti ini adalah Prasasti Singosari V. Prasasti Gulung-gulung merupakan prasasti tertua dari masa Sindok dan dibuat dari batu. Huruf dan bahasa yang digunakan adalah Jawa Kuna. Prasasti Gulung-gulung dikeluarkan pada hari Selasa Pahing, tanggal 9 Suklapaşa, bulan Waiśaka, tahun 851 Śaka atau tanggal 20 April 929 M.

Pada saat itu Rakryān Hujung pu Maduraloka memohon kepada Śrī Mahāraja Rake Halu Pu Siṇḍok Śrī Iśānawikrama Dharmottuṅgadewa agar diperbolehkan menetapkan sebidang sawah di Gulung-gulung yang telah dihadiahkan kepadanya seluas 7 tapak dijadikan sima. Juga ia memohon tambahan, yang berupa sebagian hutan yang terletak di Bantaran agar juga dijadikan śīma. Tujuannya untuk dijadikan tanah wakaf (dharma ksetra), berupa tanah sawah di Kuśāla bagi bangunan suci Rakryān Hujung, yaitu sang hyang mahāprāsāda di Desa Hemad.

Penghasilan sawah itu akan dijadikan persembahan bagi sang hyang kahyaṅan Paṅawan. Persembahan itu berupa seekor kambing dan 1 pada beras yang diberikan setahun sekali, yaitu pada waktu upacara pemujaan bagi bhatāra yang ada di Desa Paṅawan. Hal itu disebabkan karena dulu kahyaṅan di Desa Paṅawan ada di Gunung Waṅkědi. Jadi, sebenarnya hanya ada satu bhatāra yang dipuja, baik yang ada di Desa Hemad maupun Desa Paṅawan. Jika sedang diadakan pemujaan di Desa Paṅawan, maka penduduk di Desa Hemad juga mengikuti upacara tersebut, begitu pula sebaliknya. Upacara pemujaan di kedua bangunan bangunan suci dilakukan pada saat matahari melintasi garis khatulistiwa pada bulan Maret dan September.

Selain itu, ada simā lain yang terdapat di Desa Batwan, Desa Guru, Desa Air Gilaṅ, dan Desa Gapuk. Desa-desa itu berkewajiban untuk memberi persembahan kepada sang hyang prasāda di Desa Hemad, dengan rincian kewajiban yang telah ditentukan oleh masing-masing desa. Raja mengabulkan permintaan tersebut dan kedua desa itu pun dijadikan sima yang tidak diwajibkan membayar pajak. Sesudah upacara peresmian selesai, maka Rakryan Hujung Pu Maduraloka membagikan hadiah kepada para pejabat kerajaan dan para saksi yang turut menyaksikan upacara tersebut.

Dalam Prasasti Gulung-gulung ini disebutkan beberapa nama tempat yang kemungkinan besar berada di daerah Malang. Nama Bantaran saat ini masih ada sebagai nama sebuah kampung berada di Kecamatan Lowokwaru. Disebutkan juga seorang patih dari Tugaran, yang di kemudian hari banyak disebut dalam Pararaton, diduga sekarang menjadi Tegaron di daerah Gunung Buring. Juga disebut-sebut sebuah gunung suci bernama Wangkedi.

Disebutkan bahwa terdapat suatu bangunan suci yang besar berjuluk kusala rakryan hujung mahaprasada i hemad dan sang hyang kahyangan i pangawan. Kedua bangunan itu suci itu dikatakan berasal (turunan) dari Gunung Wangkedi yang merupakan mula kahyangan (tempat bersemayam hyang yang pertama atau utama). Mungkin nama Wangkedi adalah nama asli Gunung Bromo di kemudian hari. Alih aksara dan pembahasan prasasti dimuat di dalam Tiga Prasasti Batu Jaman Raja Sindok; OJO XXXVIII: 63-9; EEI IV: 104-105. Prasasti Gulung-gulung sekarang disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D. 88.

Pada saat itu Rakryān Hujung pu Maduraloka memohon kepada Śrī Mahāraja Rake Halu Pu Siṇḍok Śrī Iśānawikrama Dharmottuṅgadewa agar diperbolehkan menetapkan sebidang sawah di Gulung-gulung yang telah dihadiahkan kepadanya seluas 7 tapak dijadikan sima. Juga ia memohon tambahan, yang berupa sebagian hutan yang terletak di Bantaran agar juga dijadikan śīma. Tujuannya untuk dijadikan tanah wakaf (dharma ksetra), berupa tanah sawah di Kuśāla bagi bangunan suci Rakryān Hujung, yaitu sang hyang mahāprāsāda di Desa Hemad.

Penghasilan sawah itu akan dijadikan persembahan bagi sang hyang kahyaṅan Paṅawan. Persembahan itu berupa seekor kambing dan 1 pada beras yang diberikan setahun sekali, yaitu pada waktu upacara pemujaan bagi bhatāra yang ada di Desa Paṅawan. Hal itu disebabkan karena dulu kahyaṅan di Desa Paṅawan ada di Gunung Waṅkědi. Jadi, sebenarnya hanya ada satu bhatāra yang dipuja, baik yang ada di Desa Hemad maupun Desa Paṅawan. Jika sedang diadakan pemujaan di Desa Paṅawan, maka penduduk di Desa Hemad juga mengikuti upacara tersebut, begitu pula sebaliknya. Upacara pemujaan di kedua bangunan bangunan suci dilakukan pada saat matahari melintasi garis khatulistiwa pada bulan Maret dan September.

Selain itu, ada simā lain yang terdapat di Desa Batwan, Desa Guru, Desa Air Gilaṅ, dan Desa Gapuk. Desa-desa itu berkewajiban untuk memberi persembahan kepada sang hyang prasāda di Desa Hemad, dengan rincian kewajiban yang telah ditentukan oleh masing-masing desa. Raja mengabulkan permintaan tersebut dan kedua desa itu pun dijadikan sima yang tidak diwajibkan membayar pajak. Sesudah upacara peresmian selesai, maka Rakryan Hujung Pu Maduraloka membagikan hadiah kepada para pejabat kerajaan dan para saksi yang turut menyaksikan upacara tersebut.

Dalam Prasasti Gulung-gulung ini disebutkan beberapa nama tempat yang kemungkinan besar berada di daerah Malang. Nama Bantaran saat ini masih ada sebagai nama sebuah kampung berada di Kecamatan Lowokwaru. Disebutkan juga seorang patih dari Tugaran, yang di kemudian hari banyak disebut dalam Pararaton, diduga sekarang menjadi Tegaron di daerah Gunung Buring. Juga disebut-sebut sebuah gunung suci bernama Wangkedi. Disebutkan bahwa terdapat suatu bangunan suci yang besar berjuluk kusala rakryan hujung mahaprasada i hemad dan sang hyang kahyangan i pangawan.

Kedua bangunan itu suci itu dikatakan berasal (turunan) dari Gunung Wangkedi yang merupakan mula kahyangan (tempat bersemayam hyang yang pertama atau utama). Mungkin nama Wangkedi adalah nama asli Gunung Bromo di kemudian hari. Alih aksara dan pembahasan prasasti dimuat di dalam Tiga Prasasti Batu Jaman Raja Sindok; OJO XXXVIII: 63-9; EEI IV: 104-105. Prasasti Gulung-gulung sekarang disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D. 88.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/3295/prasasti-gulung-gulung/
Comments
Loading...