Prasasti Balingawan

0 16

Prasasti Balingawan

Prasasti Balingawan (Brandes, Oud~Jav. Oork. XIX ; Damais, art. cit., pp. 42-43 ; Sarkar, Corpus, I No. LVI, pp. 295-305) terdiri dari dua yaitu prasasti batu berbentuk persegi lima dan dilanjutkan di belakang sandaran arca Ganesa (OJO, XIX-XX). Prasasti ini diberitakan berasal dari Singosari lalu dipindahkan ke Batavia oleh Bik. Oleh Brandes dicatat sebagai D 54. Sedangkan arca Ganesanya ditemukan Melville di pekuburan Cina di Malang, yang kemungkinan besar berasal dari Singosari juga. Arca itu lalu disimpan di Museum Nasional dan tercatat sebagai D 109. Prasasti Balingawan ini berangka tahun 813 S atau 13 April 891 Masehi.

Isi prasasti memperingati penetapan sebidang tanah di Desa Balingawan, berupa tanah di tegalan di Gurubhakti, menjadi sīma oleh Ḍapunta Ramyaḥ, Ḍapu Hyaŋ Bharatī, Ḍaman Tarṣa, dan Ḍapu Jala, sebagai anugerah dari Rakryān Kanuruhan pu Huntu. Adapun sebabnya adalah karena rakyat Desa Balingawan dan dukuh-dukuhnya merasa ketakutan karena [keadaan] tegalan tersebut yang menyebabkan mereka itu menderita dan melarat karena senantiasa harus membayar denda atas rāḥ kasawur (darah tersebar berceceran) dan waŋkay kābunan (mayat terkena embun).

Mereka itu lalu mengajukan permohonan kepada Rakryān Kanuruhan melalui tiga orang patiḥ yang membawahi Desa Balingawan. Permohonan itu dikabulkan, agar dengan ditetapkannya tegalan di Gurubhakti itu sebagai sīma keamanan di jalan besar terjamin, dan rakyat Desa Balingawan dan dukuh-dukuhnya tidak lagi merasa ketakutan. Karena itu maka sīma tersebut dinamakan sīma kamulān.

Dari isi Prasasti Balingawan disimpulkan bahwa telah terjadi tindak kekerasan yang meresahkan penduduk Balingawan. Rakyat Desa Balingawan terlalu sering harus membayar denda atas rāḥ kasawur dan waŋkay kābunan. Karena seringnya terjadi perkelahian yang menumpahkan darah dan pembunuhan yang tidak diketahui siapa pelakunya.

Dapat dibayangkan bahwa sering kali rakyat desa itu menemukan darah berceceran dan sesosok mayat tergeletak di tegalan di Gurubhakti pada waktu pagi hari. Mungkin saja mayat itu bukan mayat warga Desa Balingawan, dan pembunuhan terjadi di desa lain pada waktu malam lalu mayat korban oleh pembunuh diletakkan di tegalan di Gurubhakti tanpa ada yang mengetahuinya. Tetapi karena tegalan itu masuk wilayah Desa Balingawan maka rakyat desa itulah yang pertama-tama harus bertanggung jawab dan harus dikenai denda.

Akibatnya penduduk menjadi melarat (durbala) dan berdasarkan analogi dengan isi Prasasti Kinewu yang berangka tahun 829 Saka (OJO, XXVI) dapatlah ditafsirkan bahwa rakyat Desa Balingawan tidak lagi mampu membayar pajak. Karena itu maka rakyat melalui pemuka-pemukanya mengajukan permohonan kepada Rakryān Kanuruhan agar tegalan di Gurubhakti itu dijadikan sima sebagai sumber penghasilan bagi pejabat mula yang bertugas untuk memimpin penjagaan di jalan pada waktu malam. Dugaan yang terakhir itu berdasarkan keterangan bahwa tegalan yang dijadikan sima itu disebut sīma kamulān. Apa motif perkelahian dan pembunuhan itu sama sekali tidak disebut di dalam prasasti. Tetapi karena disebutkan bahwa tujuan penetapan sima itu ialah penjagaan di jalan besar supaya rakyat Desa Balingawan tidak lagi merasa ketakutan dapatlah disimpulkan bahwa di sini kita berhadapan dengan kasus pembegalan dan perampokan.

Adapun nama Balingawan kiranya telah berubah menjadi Mangliawan, yaitu suatu desa di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Proses perubahan nama ini mungkin diawali dari Balingawan menjadi Malingawan, dan akhirnya menjadi Mangliawan. Posisi Desa Mangliawan terletak di antara Kota Malang dan Tumpang yang diketahui memiliki kepadatan tinggalan arkeologi yang cukup tinggi. Selain itu di lokasi desa ini juga ditemukan tinggalan ikonografi yang cukup banyak antara lain yang masih tersimpan di pemandian Wendit (dikenal juga sebagai Wendit Wadon) dan di areal makam (dikenal juga sebagai Wendit Lanang) yang berupa situs bekas candi. Dengan demikian tidak berlebihan bahwa lokasi ini adalah bekas desa yang dulu bernama Balingawan.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/724/prasasti-balingawan/
Comments
Loading...