Pondok Pesantren Putri Wali Songo Tebuireng

0 538

Pondok Pesantren Putri Wali Songo Tebuireng

Pada awal abad ke 20, orang yang belajar di pondok pesantren (santri), umumnya adalah kaum laki-laki. Tidak ada budaya perempuan mondok. Namun seiring perkembangan zaman, budaya itu lambat laun berubah. Beberapa pesantren mulai membuka pondok putri, seperti Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, di bawah asuhan KH. Bisri Syansuri. Sedangkan Pesantren Tebuireng saat itu belum melakukannya, meskipun tidak sedikit perempuan yang berniat mondok di sana. Sebagai gantinya, Kiai Hasyim meminta Kiai Adlan Aly (adik kandung Kiai Ma’shum Aly Seblak) untuk membuka pondok putri di desa Cukir.

Kiai Adlan Aly kemudian mengumpulkan beberapa orang terkemuka di Desa Cukir dan beberapa Pimpinan Madrasah Ibtidaiyah di sekitar Kecamatan Diwek. Pertemuan itu menyepakati pendirian sebuah lembaga pendidikan khusus putri kemudian dinamakan Madrasah Mu’allimat. Peristiwa bersejarah tersebut dilakukan pada malam hari di tahun 1951.

Dengan tekun dan penuh tanggung jawab, KH. Adlan Aly menjalani tugas mengajar dengan dibantu beberapa orang guru, seperti KH. Syansuri Badawi (Tebuireng), H. Abdul Manan (Banyuarang Jombang), Kholil Mustofa (Tebuireng), K. Abu Hasan (Kayangan Jombang). Mereka bekerja tanpa pamrih, termasuk pamrih materi. Tempat belajarnya di rumah KH. Adlan Aly, dengan waktu belajar sore hari. Kurikulumnya 100 % pelajaran agama. Siswi pertama berjumlah 30 orang, berasal dari Desa Cukir dan sekitarnya. Mereka bersekolah secara gratis.

Satu tahun kemudian, KH. Adlan Aly menambah gedung baru yang terbuat dari bambu, karena semakin banyaknya siswi yang belajar. Sejak saat itu, kegiatan belajar-mengajar dipindahkan pada pagi hari. Untuk siswi yang berasal dari luar daerah dibuatkan asrama khusus. Asrama tersebut ditempatkan di rumah KH. Adlan Aly dan kini dikenal dengan nama Pondok Pesantren Putri Walisongo.

Pada tahun 1955 didirikan Madrasah Ibtidaiyah, dan pada tahun 1957 jenjang pendidikan kelasnya genap menjadi enam kelas. Mulai tahun 1958, atau tujuh tahun setelah berdirinya, dibangunlah gedung sekolah permanen dengan dinding dari batu merah (tidak terbuat dari bambu lagi). Seluruh dana pembangunan berasal dari uang pribadi KH. Adlan Aly. Beliau menyewakan sawahnya selama tujuh tahun untuk membiayai pembangunan gedung tersebut.

Kurikulum pun ditambah dengan materi pelajaran umum, dengan prosentase 60% pelajaran agama dan 40% pelajaran umum. Ditambah pula dengan satu kelas persiapan yang lazim disebut “Voor Klas”. Kelas ini disiapkan untuk siswi-siswi lulusan SD atau SMP yang umumnya belum mengenal pelajaran Agama. Sejak saat itu mulai ada bantuan Guru Negeri dari Pemerintah.

Karena semakin membludaknya siswi, maka pada tahun 1968 dibangunlah lantai II dari lokal kelas yang sudah ada. Salah seorang yang membantu proses pembangunan itu adalah Bupati Jombang, Isma’il. Kemudian didirikan pula Taman Kanak-kanak yang menjadi sa¬lah satu unit pendidikan di Madrasah Mu’allimat

Mulai Tahun Ajaran 1976-1977, Madrasah Mu’allimat VI Tahun dirubah menjadi 2 jenjang, yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Lalu pada Tahun Ajaran 1990-1991, diadakan ujian lisan membaca kitab kuning guna meningkatkan penguasaan siswi terhadap literatur berbahasa Arab.

Source http://jawatimuran.net/ http://jawatimuran.net/2015/07/30/pondok-pesantren-putri-wali-songo/
Comments
Loading...