Pondok Pesantren Darunnajah

0 104

Pondok Pesantren Darunnajah

Pondok Pesantren Darunnajah dibangun di atas tanah wakaf seluas + 2,5 Ha. Dengan batas area sebelah barat dan utara lahan persawahan + 250 Ha. sedang sebelah timur dan selatan lokasi perumahan. didirikan pada tanggal, 13 Oktober 1983 dengan tokoh pendirinya KH. Hudan Dardiri salam dan dibantu oleh Al-Marhum H. ZAINUDIN.

Pada tahun 1980 Kyai Dardiri telah mengawali perintisan berdirinya Pondok Pesantren Darunnajah sejak pindah dari Pondok Pesantren Darussalam Blokagung. Perjuangan Kyai Dardiri dimulai dari Musholla milik Mbah Sarji yang sebelumnya sudah berdiri. Mula-mula beliau mengajarkan membaca Al Qur’an dan beberapa kitab dasar kepada para pemuda masyarakat sekitar, dan diikuti pula oleh para santri yang dulu pernah diajar di Pondok Pesantren Darussalam Bloakagung.

Di Musholla ini para santri disamping belajar ilmu juga tidur didalamnya. Setelah beberapa bulan musholla tersebut tidak dapat lagi menampung para santri yang ingin belajar kepda Beliau, akhirnya H. Zainuddin (mertua KH. Hudan Dardiri salam) Bersama pemuka masyarakat membangun sebuah Mushola dan asrama yang tidak jauh dari musholla pertama. Selama kurang lebih tiga bulan, musholla tersebut juga tidak mampu menampung para santri yang semakin banyak.

Melihat kondisi yang demikian, Kyai Dardiri merasa prihatin sehingga berkeinginan untuk pindah rumah dekat asrama dan mushola yang telah dibangunnya atas nasihat Kiyai Mukhtar syafaat. Dalam tempo setahun, jumlah santri yang belajar bertambah banyak sehingga rumah beliau yang dikususkan untuk bermukim santri putri ini juga tidak mampu menampung mereka.

Kemudian munculah ide dari Kyai Dardiri untuk mendirikan Musholla putri yang lebih besar untuk keperluan Sholat dan belajar kusus santri putri. Kemudian beliau memerintahkan para santri untuk mengumpulkan bahan – bahan bangunan seperti kayu, batu, pasir dan bata merah yang kesemuanya itu atas jerih payah santri sendiri. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 16 Januari 1984.

Sedangkan asrama santri putri baru dibangun kemudian hari setelah jumlah santri yang ingin belajar semakin banyak. Pendirian asrama santri putri juga menggunakan cara-cara yang dipakai ketika pendirian musholla, yaitu para santri disuruh menyediakan bahan – bahan bangunan seperti dulu. Selama pembangunan belangsung, Kyai Dardiri bersama mertuanya selalu memberikan bimbingan dan dorongan bahwa setiap pembangunan apa saja hendaknya dilakukan sendiri semampunya, dan apabila sudah tidak mampu barulah meminta bantuan kepada orang lain yang lebih ahli.

Sikap demikianlah yang ditanamkan Kyai Dardiri dalam upayanya untuk menumbuhkan sikap mandiri para santri. Mula-mula pendidikan yang dilaksanakan di pondok ini tidak menggunakan sistem klasikal, semua santri berkumpul menjadi satu, baik tua, remaja maupun anak-anak untuk memperoleh pelajaran dari Kyai Dardiri dengan materi yang sama. Lama kelamaan santri yang menetap maupun santri pindahan semakin hari semakin bertambah melebihi fasilitas yang ada.

Melihat kenyataan ini, Kyai Dardiri memerintahkkan kepada santri tertua Nur Ihsan dan Qormain untuk mengatur sistem pengajaran yang lebih efesien dan praktis. Akhirnya di bentuklah sistem klasikal. Ketika itu dibagi menjadi tiga kelas yang terdiri dari awwal, tsani, dan tsalis. Kemudian pada tahun 15 Januari 1992 secara resmi Pondok Pesantren Darunnajah telah berbadan hukum berbentuk Yayasan, yaitu dengan nama “YAYASAN PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH” dengan akte notaris Heru Ismadi SH. Nomor : 15 tahun 1992. Kemudian pada tahun 2011, mulai mendirikan Sekolah Formal (SMP Plus Darunnajah) dan tahun 2014 mendirikan Madrasah Aliyah yang hingga sekarang masih masuk tahun ke 2.

Source http://www.laduni.id http://www.laduni.id/post/read/38066/pesantren-darunnajah-banyuwangi.html
Comments
Loading...