Petilasan Jendral Besar Soedirman di Kota Angin Nganjuk

0 128

Petilasan Jendral Besar Soedirman di Kota Angin Nganjuk

Jika membahas tentang perjalanan Jendral Besar yang satu ini pasti tidak akan cukup ribuan kata untuk mengungkap sejarah dan misteri yang pernah ada. Hampir seluruh kota di pulau jawa pernah beliau singgahi dalam rangka melakukan gerakan perlawanan terhadap tentara belanda pada masa itu.

Jendral besar mantan didikan militer tentara jepang (PETA) adalah salah satu putra terbaik bangsa yang pernah di miliki oleh ibu pertiwi, bahkan di negeri sakura pun patung Jendral Soedirman berdiri dengan gagahnya dan sangat di hormati (tentunya patung ini beridiri tanpa sikap memberi hormat). Kedekatan beliau dengan jepang inilah karena yang membuatnya mudah untuk melucuti senjata-senjata tentara jepang tanpa harus terjadi perlawanan.

Semangat juang dan harga dirinya yang tinggi sebagai seorang prajurit membuatnya tetap semangat dalam megemban taktik perang grilya yang berhasil membuat lawan kewalahan, bahkan pihak penjajah (Belanda) harus meminta-minta pada persiden saat itu untuk meredam aksi Jendral Besar Soedirman.

Kali ini Nganjuk, kota yang dikenal dengan sebutan kota angin menjadi lokasi yang saya kunjungi dalam napak tilas sejarah Jendral Soedirman. kota yang dikenal dengan hembusan angin yang kencang tersebut ternyata tak luput juga dari pijakan kaki sang jendral dalam melakukan perang grilya.

Terletak di bawah kaki gunung wilis, sebuah bangunan permanen yang didominasi warna cat hijau nampak kokoh berdiri bersebelahan dengan gapura pintu masuk wisata air terjun Roro kuning. Di halaman depan bangunan sejarah ini nampak pula beberapa patung berwana ke emasan yang berwujud sang jendral bersama beberapa rekannya kala mengatur sebuah strategi perang.

Lereng gunung wilis sendiri memang di kenal dengan rute perjalanan grilya Jendral Soedirman. Pada beberapa sumber menyebutkan ada beberapa kota yang sempat di singgahi saat menapapaki rute lereng wilis ini di mulai dari kota Malang,Kediri,Nganjuk,Trenggalek dan juga Pacitan.

Halaman yang di penuhi dengan bunga mawar ini seakan menyambut ramah kedatangan para generasi muda yang masih peduli akan sejarah bangsa. Pada bagian dalam banguan terdapat sebuah almari kayu, lukisan Jendral Soedirman, bendera merah putih dan juga replica bangunan asli saat itu.

Jika di lihat pada replica yang ada bangunan sejarah ini dulunya adalah sebuah rumah sederhana yang terbuat dari bamboo dan kayu. Sayangnya pada kesempatan kali ini saya tidak berkesempatan masuk karena sang pembawa kunci tidak berada di lokasi petilasan ini.

Dihalaman samping rumah singgah ini juga tak kalah dalam memberikan potongan sejarah dari Sang Jendral. Pada halaman samping itu seakan di bawa kembali ke masa lalu, dimana pada sebuah pinggiran sungai Pak Dirman juga mengatur beberapa strategi perang dan melakukan sholat lima waktu. Lokasi sholat Pak Dirman yang berada di tepi sungai lengkap dengan sebuah pancuran alam sebagi tempat wudhu seakan menambah rasa haru dan khidmat saat mengunjungi lokasi petilasan.

Jika melihat dari beberapa catatan sejarah yang ada, bisa di simpulkan bahwa Pak Dirman berada di lokasi ini cukup lama. Karena tentu dalam menyusun sebuah rencana perang tidak cukup hanya dengan satu atau dua hari saja.

Di kancah dunia internasional hanya ada tujuh orang yang pernah mencapai prestasi tetinggi dalam dunia militer yakni jendral bintang lima, tiga diantaranya berasal dari Indonesia yakni Jendral Soedirman, Jendral A.H Nasution dan Jendral Soeharto. Tentunya hal tersebut akan membuat kita semakin bangga menjadi warga Negara Indonesia dan juga semakin menghormati jasa para pahlawan Indonesia.

Source www.jejaknoe.ne http://www.jejaknoe.net/2018/01/petilasan-jendral-besar-soedirman-di.html
Comments
Loading...