Pesarean Eyang Jugo Di Gunung Kawi Malang

0 12

Pesarean Eyang Jugo Di Gunung Kawi

Pesarean Eyang Jugo terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Kawasan yang terletak di lereng pegunungan Kawi ini berjarak sekitar 50 kilometer ke arah barat daya dari Kota Malang dan berada di ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut. Pegunungan Kawi yang oleh masyarakat Kota Malang disebut juga pegunungan Putri Tidur, karena bentuknya menyerupai seorang putri yang tidur berselimut sutera biru, di posisi kepala sang putrilah petilasan ini berada.

Ada beberapa pilihan rute yang bisa dijangkau oleh pengunjung. Jika dari Kota Malang, bisa naik angkutan dari terminal Gadang dengan jurusan Kepanjen dan turun di terminal. Perjalanan dilanjutkan naik angkutan pedesaan menuju Desa Wonosari. Sedangkan dari Kota Blitar, dapat naik bus jurusan Malang turun di pertigaan Desa Talangagung. Perjalanan dilanjutkan naik angkutan pedesaan warna biru menuju ke Wonosari. Dari dua rute ini, dapat disaksikan pemandangan yang masih alami. Setelah sekitar 2 jam dari Kota Malang, baru dapat disaksikan Desa Wonosari. Kemudian pengunjung akan memasuki pintu gerbang pertama menuju lokasi petilasan. Setelah itu sebuah jalan bertangga sepanjang satu kilometer yang menyerupai lorong panjang sampai di pusat petilasan.

Petilasan yang luasnya kurang lebih 3 hektar ini memiliki beberapa kompleks bangunan permanen. Bangunan pertama adalah padepokan Eyang Jugo. Lokasi yang lebih atas lagi pengunjung akan melihat sebuah kompleks klenteng yang berdiri berdampingan dengan sebuah masjid. Di kompleks klenteng ini terdapat tiga buah bangunan utama yaitu kuil Kwan Im, kuil yang dipercaya untuk mohon berkah; kuil Ciam Si, kuil untuk meramal nasib; dan kuil Tek Kong, kuil ini umumnya untuk bersembayang.

Di dalam klenteng ini terdapat belasan lilin berukuran raksasa. Akhirnya kita menuju gerbang utama, tempat ini memiliki posisi tertinggi dalam kompleks petilasan. Di sini terdapat dua bangunan utama yang merupakan bangunan induk petilasan. Bangunan pertama, yaitu bangunan yang paling ramai dikunjungi orang, memiliki penerangan yang remang-remang, terdapat dua makam. Makam pertama adalah makam Eyang Jugo atau Kanjeng Panembahan Jugo dan makam kedua adalah makam Imam Sujono yang wafat pada hari Selasa Wage malam Rabu Kliwon 8 Februari 1876. Sedang bangunan kedua adalah sebuah masjid.

Tiap hari kompleks makam Eyang Jugo ini dikunjungi oleh para peziarah dan wisatawan dari berbagai daerah di luar Kabupaten Malang. Namun para peziarah itu sangat meningkat jumlahnya pada hari Kamis Pon malam Jumat Legi. Puncaknya pada bulan Suro tanggal 12 penanggalan Jawa, pengunjung bisa mencapai ribuan dengan mengendarai mobil pribadi atau berombongan menggunakan bus. Tanggal dan bulan itu merupakan hari kelahiran (haul) dari Eyang Jugo. Pengunjung yang datang bukan saja dari Malang, Surabaya, Blitar, namun juga datang dari seluruh Indonesia bahkan mancanegara dan dari berbagai tingkatan sosial masyarakat.

Situs makam ini utamanya berisi makam Eyang Jugo atau Kyai Zakaria I dan makam R.M. Imam Sujono. Kyai Zakaria I adalah putra Kyai Zakaria I, cucu Pangeran Diponegoro. Sedangkan R.M. Sujono menurut prasasti yang dibuat tahun 1985 adalah putra Raden Ayu Tumenggung Notodipo, cucu Pangeran Haryo Blitar, buyut Sri Sultan Hamengkubuwono I. Menurut surat keterangan yang dikeluarkan oleh pengageng Kantor Tepas Darah Dalem Kraton Yogyakarta Hadiningrat nomor 55/TD/1964 yang ditandatangani K.T. Danoehadiningrat, dijelaskan bahwa Kanjeng Kyai Zakaria I adalah putra Bandoro Pangeran Haryo Diponegoro. Kyai Zakaria berputra R.M. Soeryokoesoemo atau R.M. Soeryoatmodjo. Karena kemampuannya yang luar biasa di bidang agama, Susuhunan Pakubuwana V memberi nama (peparing dalem asma) seperti ayahandanya yakni Kyai Zakaria II.

Setelah Perang Jawa (1825-1830) berakhir dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro di Magelang, para pengikutnya beserta keluarga melakukan eksodus besar-besaran ke daerah-daerah baru di pedalaman Jawa bagian selatan. Para pengikut itu kemudian membangun pemukiman baru dan membentuk desa-desa, termasuk yang datang di daerah Kabupaten Malang bagian selatan.

Pemukiman-pemukiman baru itu umumnya diberi nama menurut asal-usul daerah para pemukim itu berasal. Itu sebabnya, di Kabupaten Malang bagian selatan terdapat nama-nama desa atau pedukuhan yang sama dengan nama daerah di Jawa Tengah seperti Purworejo, Mentaraman, Pekalongan, Wonorejo, Wonosari dan sebagainya. Bahkan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh warga Kabupaten Malang bagian selatan lebih dekat ke bahasa Jawa logat Jawa Tengah yang lebih halus dibanding bahasa yang digunakan warga Kabupaten Malang bagian utara.

Keberadaan pasarean Eyang Jugo tidak banyak diketahui detail sejarahnya. Masyarakat sekitar hanya meyakini bahwa Eyang Jugo dan Eyang R.M. Sujono adalah dua tokoh yang memiliki berbagai kekeramatan di mana setelah mereka berdua wafat, makamnya dijadikan pusat ziarah untuk mencari berkah dan meminta sesuatu sesuai niatnya. Meski masyarakat yakin bahwa kedua makam itu bisa memberi berkah dan mengabulkan segala permintaan peziarah, namun masyarakat umumnya menganggap kekeramatan makam itu, terutama Eyang Jugo, berkaitan dengan kekayaan. Dan umumnya, mereka yang merasa berhasil dengan ziarah ke makam Eyang Jugo adalah masyarakat keturunan Tionghoa.

Petilasan Eyang Jugo pada dasarnya bukan sekedar kompleks makam yang sudah dibangun sedemikian rupa megahnya hingga menghilangkan unsur kekunoannya, melainkan terdapat pula bekas padepokannya yang terletak di bagian bawah kompleks makam yang juga sudah dibangun sangat megah. Sementara tempat mandi Eyang Jugo dan R.M. Imam Sujono yang dikenal dengan nama mata air Sumber Urip dan Sumber Waras, terletak di bawah kompleks makam, sampai sekarang diyakini peziarah dapat memberi berkah. Selain petilasan Eyang Jugo, masih di lokasi Gunung Kawi, terdapat pula tempat pemandian alam Sumber Manggis, Kendogo. Tempat yang banyak dikunjungi pengunjung untuk keperluan mencari kekayaan atau pesugihan adalah keraton yang lokasinya di atas Desa Wonosari.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/1865/pesarean-eyang-jugo-di-gunung-kawi/
Comments
Loading...