Pesanggrahan Ngeksiganda Sleman

0 109

Lokasi Pesanggrahan Ngeksiganda

Pesanggrahan Ngeksiganda terletak di kawasan dataran tinggi Kaliurang, Pakem, Sleman, Yogyakarta.

Pesanggrahan Ngeksiganda

Pada masa Hamengku Buwana VIII membuat sebuah pesanggrahan dengan nama Ngeksiganda. Nama Ngeksiganda berasal dari kata “Ngeksi atau eksi” berarti mata dan “ganda”, berarti bau harum. Dengan demikian, Ngeksiganda mempunyai arti “mata harum” atau nama lain dari Mataram. Bangunannya dahulu merupakan milik seorang warga Belanda, yaitu sebagai tempat peristirahatan yang dibangun pada awal abad XX. Tempat peristirahatan tersebut kemudian pada tahun 1927 dibeli oleh Hamengku Buwana VIII. Akhirnya dimodifikasi dan dilengkapi untuk dijadikan sebagai tempat pesanggrahan kraton.

Bangunan Pesanggrahan Ngeksiganda bercorak indis sebagaimana bangunan orang-orang Belanda di Kota Yogyakarta umumnya dan Kaliurang khususnya. Akan tetapi, di beberapa bagian bangunan menampakkan adanya perubahan dan penambahan, hal ini setelah dipakai untuk pesanggrahan. Penambahan-penambahan bangunan salah satunya yaitu untuk fasilitas ruang gamelan di depan bangunan induk dan pagar seketheng yang dilengkapi dengan kelir. Perbedaan dengan pesanggrahan-pesanggrahan masa Hamengku Buwana VI-VII, yaitu corak dan tata ruangnya. Pada masa itu bangunan pesanggrahan masih bercorak tradisional Jawa, dengan struktur bangunan, antara lain pendapa, pringgiran, dalem, gadri, gandok, dan pawon, kemudian dilengkapi dengan pemandian atau pasiraman.

Pada masa revolusi fisik atau perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1947-1948 (clash I) oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX Pesanggrahan Ngeksiganda tersebut dipinjamkan untuk fasilitas penginapan peserta perundingan. Perundingan dilaksanakan mulai tanggal 29 Oktober 1947 dalam rangka penyelesaian konflik antara pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Hindia Belanda. Penyelesaian konflik antara Republik Indonesia dengan Hindia Belanda diprakarsai dan sekaligus bertindak sebagai tim mediator, yaitu Komisi Tiga Negara (KTN), anggotanya terdiri dari wakil tiga negara, yaitu Amerika Serikat (FP. Graham), Australia (Richard C. Kirby), dan Belgia (Paul van Zeeland) (Yudhastawa M., 1996).

Beberapa pesanggrahan tersebut di atas, juga perlu dijaga kelestariannya dengan melakukan langkah-langkah pengamanan, pemeliharaan, dan perlu dilakukan inventarisasi, dokumentasi, serta publikasi. Untuk yang belum diketemukan kembali keberadaannya perlu dilakukan pelacakan dengan melakukan penelusuran dari berbagai sumber, baik kepustakaan maupun survei lapangan.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/pesanggrahan-era-hamengku-buwana-vi-s-d-hamengku-buwana-viii/
Comments
Loading...