Pesanggrahan Ambarrukma Yogyakarta

0 115

Pesanggrahan Ambarrukma

Pesanggrahan Ambarrukma terletak di daerah timur laut kota, direnovasi dan dikembangkan oleh Hamengku Buwana VII pada tahun 1825 Jw (1895) dan diselesaikan pada tahun 1827 Jw (1897 M). Nama Ambarrukma berasal dari kata “ambar” yang berarti harum dan “rukma” yang berarti emas, kemilau. Dengan demikian, makna nama itu yaitu sebuah tempat yang harum yang luhur kemilau laksana emas. Pesanggrahan tersebut dahulu bernama Harja Purna yang pembangunannya dirintis oleh Hamengku Buwana VI pada tahun Alip, 1787 Jw (1859) dan diselesaikan pada tahun Ehe, 1788 Jw (1860 M).

Nama Harja Purna, berasal dari kata “harja” yang berarti kesejahteraan dan “purna” berarti kesempurnaan, sehingga makna nama itu, yaitu keselamatan atau kesejahteraan yang sempurna. Pada awalnya fungsi pesanggrahan ini adalah tempat untuk menyambut para pejabat Belanda dari Kasunanan Surakarta yang datang ke Kasultanan Yogyakarta. Hal itu dilakukan pada saat jaringan jalan kereta api belum ada. Pesanggrahan Ambarrukma direnovasi sebagaimana yang terlihat sekarang ini berkaitan dengan pemanfaatannya sebagai tempat istirahat raja beserta keluarga dan para sentana.

Pada tanggal 19 Jumadilawal, tahun Alip, 1851 Jw (30 Januari 1921 M) Pesanggrahan Ambarrukma mulai menjadi tempat kediaman tetap bagi Hamengku Buwana VII bersama permaisuri GKR Kencana. Kepindahannya dari kraton ke Ambarrukma dilakukan setelah Hamengku Buwana VII “pensiun” sebagai sultan (lereh keprabon) pada tanggal 18 Jumadilawal, tahun Alip, 1851 Jw (29 Januari 1921 M). Menetap di Kedhaton Ambarrukma sampai dengan waktu mangkat (wafat), yaitu pada malam Jumat Kliwon, 29 Rabingulakhir, tahun Ehe, 1851 Jw (30 Desember 1921) dan dimakamkan di Pasareyan Saptarengga, Pajimatan, Imagiri, Kabupaten Bantul. Sedangkan GKR. Kencana tetap menetap di Kedhaton Ambarrukma sampai dengan wafat pada tahun 1931. Kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwana VII setelah lereh keprabon kemudian digantikan oleh putranya, yaitu GPH. Purubaya yang kemudian bergelar Hamengku Buwana VIII pada 29 Jumadilawal, tahun Alip, 1851 Jw (8 Pebruari 1921) (Mandoyokusumo, 1958: 51).

Pada Juni tahun 1949 sampai dengan Maret 1950 tempat tersebut dipinjamkan untuk tempat pendidikan Inspektur Polisi Republik Indonesia dan kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman pada tahun 1947 sampai dengan 1964. Pada tahun 1964 halaman samping pesanggrahan didirikan sebuah hotel hasil dana perampasan perang dari jepang: bahkan pengembangan hotel tahun 1970 di sisi baratnya dibangun dengan membongkar gandhok kiwo (kiri) pesanggrahan. Di samping itu, bagian halaman depan pesanggrahan kemudian digunakan untuk jalan besar dan bagian sisi utara gerbang dahulu untuk kerajinan. Sedangkan di kebun sebelah barat pendapa, dalem, dan bale kambang pada tahun 2004 dibangun sebuah plaza atau mall yang megah, sehingga keberadaan pesanggrahan berada di tengah-tengah bangunan bertingkat (mall dan hotel).

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/pesanggrahan-era-hamengku-buwana-vi-s-d-hamengku-buwana-viii/
Comments
Loading...