Pesanggarahan Ambarketawang Yogyakarta

0 69

Pesanggarahan Ambarketawang

Pada saat pendirian kraton Sultan Hamengku Buwana I beserta kerabat dan pendukungnya menempati sementara Pesanggrahan Ambarketawang, di daerah Gunung Gamping. Tempat tersebut pada dasarnya juga merupakan “benteng” atau “istana” yang keberadaannya sudah ada sejak masa Kerajaan Mataram, dahulu dikenal dengan nama Pura Para. Dari nama tersebut dapat dilacak keberadaannya, yaitu “pura” atau sering disebut puri berarti benteng, istana, juga bisa disebut tempat tinggal raja.

Kata “para” berarti datang, mendatangi, dan menghampiri (PJ Zoetmlder, 1995). Dengan demikian Pura Para dapat diartikan, sebagai benteng dan istana untuk persinggahan atau juga sering disebut sebagai pesanggrahan. Nama Pesanggrahan Ambarketawang merupakan nama baru yang diberikan oleh Sultan Hamengku Buwana I, mengandung arti “tempat tinggi (tawang) yang semerbak harum (ambar = ngambar arum = harum).

Kepindahannya ke Ambarketawang, Gamping dilakukan pada hari Kamis Pon, tanggal 3 Sura, tahun Wawu, 1681 (9 Oktober 1755 M). Keberadaannya di Gamping ditandai dengan candra sengkala pak dipa ngupakara anake (1681) (Darmosugito, 1956). Dilihat dari kata-katanya sengkalan tersebut mempunyai makna “pimpinan yang dekat dengan rakyat, yaitu sikap kebapakan di dalam mengelola (ngupakara) rakyat dan kawula”. Di sisi lain, dari kata ngupakara yang diartikan mempunyai watak enam, maka dapat diketahui bahwa pada saat itu Hamengku Buwana I memang baru mempunyai enam putra, yaitu GP. Adipati Anom, GKR. Bendara, BPH. Hangabehi, BRAy. Jayaningrat, GRM. Sundara (Hamengku Buwana II), dan BPH. Demang.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/pesanggrahan-era-hamengku-buwana-i/
Comments
Loading...