Persinggahan Syekh Siti Jenar di Desa Lemahbang Kulon Banyuwangi

0 18

Persinggahan Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar salah satu wali yang dianggap kontroversial karena ajaran ‘Manunggaling Kawulo Gusti’. Konon beliau pernah singgah di Banyuwangi. Tepatnya di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh. Hingga kini, kedatangan Syekh Siti Jenar itu dibekukan dalam simbol nama desa.

“Beliau lahir di Lemah Abang Cirebon. Setiap tempat yang pernah disinggahi beliau pasti akan dinamai lemah abang atau tanah abang,” ungkap Turin, juru kunci Lastono Petilasan Syekh Siti Jenar Lemah Abang, kepada media ini.

Lastono Petilasan Syekh Siti Jenar merupakan tempat makam-makam para bangsawan Kerajaan Blambangan yang mencapai luas 17 hektare. Penemuan ini bermula saat banyak warga yang mencangkul di area Lastono, lantas menemukan fondasi dan makam. “Namun sekarang yang dijaga dalam pagar ini luasnya 30 meter persegi,” ujarnya.

Di areal makam yang ditemukan warga pada tahun 1468 Masehi itu sebagian besar tertimbun tanah. Sedangkan Syekh Siti Jenar sendiri lahir pada tahun 1426 Masehi. Di dalam bangunan itu, ada makam para abdi dalem Syekh Siti Jenar. Kalau yang itu makam kuno tahun 1913. Zaman Belanda saat mbangunnya. Bahan bakunya sama dengan fondasi rel.

Turin sendiri mengakui tahu sekilas sejarah Blambangan dan kedatangan Syekh Siti Jenar ke Banyuwangi melalui cerita turun-temurun. “Ceritanya ya dapat dari embah. Secara tutur tinular,” ujarnya.

Dia mengatakan, kedatangan Syekh Siti Jenar di Banyuwangi bukan untuk menyebarkan agama. Melainkan untuk bertapa dan menenangkan diri. “Syekh Siti Jenar ke sini pengen mencari kesejukan, ketenangan. Dia datang dari Bintoro, Demak. Jadi, tempat ini sangat disakralkan,” ujarnya.

Lastono Petilasan Syekh Siti Jenar Lemah Abang setiap hari tidak pernah sepi pengunjung. Turin selalu meminta kepada khalayak yang berkunjung untuk mengisi buku tamu. Sejak 2004 menjaga, dia mengaku sudah menghabiskan tiga buku tebal berisi daftar kunjungan tamu.

Rata-rata kedatangan mereka untuk nguri-nguri (berdoa). Ada yang dari Lumajang, Banten, Kebumen, Kalimantan, Sumatra, Aceh, Bali, Flores. Kadangkala, sering juga mereka nginap sampai seminggu lamanya. Tempat tersebut bebas untuk dikunjungi siapa pun. Dan tidak ada syarat khusus bila ingin berkunjung. Dengan sendirinya petilasan tersebut bisa menjadi wisata sejarah sekaligus untuk berdoa.

Hari-hari yang paling ramai, setiap malam Jumat manis dan saat bulan Suro (Jawa). Tidak seperti area makam umumnya, di sini sudah terdapat fasilitas tempat duduk seperti gazebo, warung dan toilet. Ada juga satu pohon beringin yang sangat besar, membuat tempat ini selalu sejuk dan nyaman dikunjungi.

Source http://m.jatimtimes.com http://m.jatimtimes.com/baca/151234/20170215/121429/inilah-persinggahan-syekh-siti-jenar-di-desa-lemahbang-kulon-banyuwangi/
Comments
Loading...