Penjara Ulin Saksi Bisu Kekejaman Kolonial di Kota Juang Sanga-sanga

0 85

Penjara Ulin Saksi Bisu Kekejaman Kolonial di Kota Juang Sanga-sanga

Penjara Kolonial di Sanga-sanga, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan salah satu saksi bisu kekejaman tentara Kerajaan Hindia-Belanda atau Koninklijk Nederlands-Indisch Leger, disingkat KNIL saat menguasai wilayah yang disebut Kota Juang ini. Hingga kini, bangunan ini masih kokoh berdiri dan menjadi warisan cagar budaya yang bisa dikunjungi warga Indonesia.

Di bangunan ulin 6 pintu dengan masing-masing ruangan berukuran sekira 2 x 2,5 meter inilah ratusan pejuang Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) di masukkan dengan saling berhimpitan. Tak hanya itu, pejuang BPRI pun disiksa dan tanpa jatah makan yang sangat terbatas.

Salah satu peristiwa pilu itu ialah saat perjuangan empat hari, 27 Januari 1947 – 30 Januari 1947, dalam mempertahankan kemerdekaan di daerah yang dulunya juga mempunyai sebutan Kota Minyak ini terpatahkan oleh serangan balik pasukan kolonial.

“Pada saat setelah perebutan kota minyak Sanga-sanga, para pejuang banyak yang melarikan ke daerah-daerah dan hutan-hutan sampai ke hulu Mahakam. Tapi, para pejuang yang dicurigai KNIL, ditangkapi oleh dan di penjarakan di Gunung Selendang. Kurang lebih 200 orang pejuang dimasukkan ke dalam penjara tersebut,” kata Aspian, Ketua Bagian Pemerhati Situs Komunitas Pemerhati Sejarah Sanga-sanga (Kompas) seperti ditulis kliksamarinda.com.

Penjara ini, lanjut Aspian, saat menampung puluhan orang dalam satu ruangan, karena sempitnya ruangan tersebut para tahanan harus berdiri berjejal di dalamnya. Bahkan untuk buang air, para tawanan pun melakukannya langsung di dalam ruangan penjara tersebut.

“Jika sudah waktunya, para tawanan akan dikeluarkan dan digiring ke tempat pembuangan untuk langsung di tembak,” imbuhnya.

Penjara kolonial Sanga-sanga sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dan dilindungi oleh undang-undang nomor 11 tahun 2010  tentang Cagar Budaya. Penjara ini sudah masuk dalam pengawasan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kaltim yang merupakan UPT Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud di daerah.

“Jadi bangunan ini tidak boleh dirusak dan dicuri bagian-bagiannya. Bagi yang melakukan pengrusakan akan mendapatkan pidana dan denda sesuai dengan pasal 105 dan 106 di dalam undang-undang tersebut,” ungkapnya.

Kendati bangunan ini dipergunakan oleh kolonial Belanda, menurut Aspian bangunan ini merupakan buatan Jepang sekira tahun 1942-1945.

“Belum ada informasi mendetail tentang bangunan penjara tersebut. Tapi, kemungkinan bangunan itu buatan Jepang. Seperti bangunan sejarah kebanyakan yang ada di Sanga-sanga,” tuturnya.

Secara detail, penjara ini berada di jalan Masjid, kelurahan Sanga-sanga dalam. Berbentuk persegi dengan enam ruangan atau bilik tahanan terbuat dari kayu ulin. Bangunan berada di sekitar rumah warga dan menghadap ke Sungai Mahakam.

Setiap ruangan mempunyai satu pintu dan dua ventilasi berteralis besi pada bagian depan (atas pintu) dan belakang. Khusus bilik pada kedua ujung bangunan ventilisai terletak di depan dan bagian samping, serta bilik pada kedua ujung bangunan lebih kecil dibanding bilik lainnya.

Pada bagian atas pintu terdapat lubang kecil berteralis besi. Bangunan penjara ini terbuat dari kayu ulin dan berbentuk rumah panggung. Dari permukaan tanah menuju lantai diberi tangga berjumlah dua buah.

Sejak awal, bangunan tersebut belum pernah direnovasi secara keseluruhan. Hanya dilakukan pengecatan ulang dan pemagaran di sekeliling bangunan tersebut.

Dari situs resmi Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya, cagarbudaya.kemdikbud.go.id, bangunan ini didaftarkan menjadi cagar budaya pada 22 Oktober 2016. Bangunan tersebut milik Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan pengelolaannya di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kukar. Dengan status objek lolos verifikasi dan dalam tahap kajian dan penilaian tim ahli.

Source http://www.klikbontang.com http://www.klikbontang.com/berita-16739-penjara-ulin-saksi-bisu-kekejaman-kolonial-di-kota-juang-sangasanga.html
Comments
Loading...