Pendopo Kabupaten Temanggung

0 37

Pendopo Kabupaten Temanggung

Setelah Raden Temenggung Danuningrat Bupati Magelang wafat Pemerintah Hindia Belanda menunjuk Raden Mas Arijo Danoekoesoemo sebagai Waarnemend Regent van Magelang atau Bupati sementara daerah Magelang dan Raden Ngabehi Djojonegoro sebagai Waarnemend Regent van Menoreh atau Bupati sementara daerah Menoreh, kemudian penetapan keduanya oleh Komisaris Jenderal Hindia Belanda No.11 pada tanggal 7 April 1826.
Sebagai Bupati Menoreh Raden Ngabehi Djojonegoro berkedudukan di Parakan, atas usulan Residen Kedu, tanggal 28 Oktober 1834 Majelis Hindia Belanda menyetujui pemindahan Asisten Residen Probolinggo ke Temanggung dan mengganti Kabupaten Menoreh menjadi Kabupaten Temanggung, Resolusi No. 4 tanggal 10 Nopember 1834 dari Batavia menyebutkan bahwa Pemerintah Hindia Belanda memberikan persetujuan yang berbunyi:
 Te bepalen dat het Regentschap Menoreh, ( Residentie Kedoe ) voortaan den naam zal dragen van deszelfs hoofd plaats Temanggoeng, tooegeveegd personeel, derwaarts zal verplats en intidies voortaan zal worden genaamd adsistents resident van Temanggoeng “ artinya:  Menetapkan bahwa Kabupaten Menoreh (Kresidenan Kedu) semenjak sekarang akan memakai nama dari ibu kotanya sendiri Temanggung, dan bahwa Asissten Residen Probolinggo dengan pegawai yang diperbantukan kepadanya akan dipindahkan kesana dan pada waktu yang tepat dan semenjak sekarang akan memakai nama Asisten Residen Temanggung.
Semenjak itu maka tanggal 10 Nopember 1834 atau penanggalan Jawa 6 Rejeb tahun Jimakir 1762 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Temanggung,  dan berdirilah megah Pendopo Kabupaten di pusat kota Temanggung menghadap ke arah Gunung Sumbing, dengan hamparan aloon-aloon di depannya.
Namun sayang bangunan megah itu tidak dapat kita lihat lagi, karena pada masa jabatan Bupati Raden Soemarsono Noto Widagdo ( 1949 – 1953 ) tepatnya 20 Desember 1949  Pendopo Kabupaten ini dibumi hanguskan oleh para pejuang kemerdekaan bersamaan dengan bangunan penting lainnya untuk mencegah tentara Belanda menduduki obyek-obyek vital, betapa saat itu kota Temanggung menjadi lautan api.
Bangunan-bangunan yang dibumi hanguskan antara lain:
1. Kantor Asisten Residen
2. Kantor Kabupaten
3. Kantor Kawedanan
4. Kantor Pengadilan
5. Kantor Telepon
6. Kantor PLN
7. Kantor Pos
8. Markas ALRI
9. Asrama ALRI
10. Markas Hisbullah
11. Rumah Asisten Residen
12. Pasar Kliwon
13. Stasiun Kereta Api
14. Rumah Pegadaian
15. Penjara
16. Bank Rakyat
17. Gedung NIS
18. Gedung Bioskup
19. SR Aloon-aloon
20. SR Temanggung Lor
21. SR IV
22. SR Sempurna
23. SMP
24. RPCM
25. Rumah Pemotongan Hewan
26. Tempat Penampungan Minyak
27. Pabrik Kertas
28. Jembatan Kali Kuas.
Sejarah boleh membakarnya namun kenangan tak kan terlupakan, akan mengisi setiap cerita dan dongeng orang tua kepada anaknya, pengorbanan para pendahulu kita akan tergores dengan tinta emas di sanubari kita, tanda fisik sejarah boleh hilang, kita telah mematri dalam kenangan, dan tak perlu berkecil hati karena tidak dapat melihat sisa-sisa sejarah itu, karena semua bangunan telah berdiri kembali, dan pada masa jabatan Bupati Drs Sardjono, SH, CN Pendopo Kabupaten tersebut telah di bangun kembali dan tak kalah megahnya, paling tidak nyaris sama dengan bangunan aslinya.
Source http://arcomsoekarno.blogspot.com http://arcomsoekarno.blogspot.com/2011/08/pendopo-kabupaten-temanggung-s-etelah.html
Comments
Loading...