Pemakaman Muslim Gang Meliau

0 88

Pemakaman Muslim Gang Meliau

Makam atau kuburan merupakan suatu bentuk identitas bagi individu atau kelompok masyarakat. Dari bentuk, letak atau juga warna makam kita bisa mengetahui siapa yang di makamkan, alur cerita juga silsilahnya kemudian. Makam juga dapat melambangkan suatu bentuk peradaban dari masa ke masa.

Makam Muslim Kampung Melayu Gang Meliau (sekarang Jalan Meliau) di Jalan Tanjungpura tak terlepas akan hal itu. Pemakaman ini konon merupakan salah satu makam tertua yang berada di kota Pontianak. Dan yang jelas ia punya cerita dan sejarahnya. Di tanah pemakaman ini terdapat beberapa makam anak-cucu Sultan Syarif Abdurrahman Al Kadri, dari jalur putra beliau, Sultan Usman Al Kadri.

Berdasar batu nisan, di pemakaman ini diantaranya terdapat makam Syarif Muhammad Bin Syarif Ali Alhinduan. Meningggal pada hari minggu Pukul 9, 28 Rejab 1306 H/ 127 Tahun lalu. Makam Syarifah Maryam Binti Alwi Assegaf, yang merupakan salah satu Permaisuri Sultan Muhammad Al Kadri, Bergelar Ratu Seberang. Wafat pada 24 Syawwal 1384 H. Makam Syarif Ahmad Bin Pangeran Temenggung Syarif Abubakar Alqadri, yang meninggal jam 9 pagi, Hari Jumat tanggal 27 Shafar, 1310 H. Makam Syarifah Thalhah Alqadri Seri Paduka Yang Maha Mulia Maha Ratu Besar Kerajaan Pontianak. Yang meninggal pada setengah 6 Pagi , hari minggu, Jumadil Akhir, 1326 H. Beliau merupakan Istri Pertama Sultan Muhammad bin Yusuf Al Kadri, sultan Pontianak ke-6 . Ayahnya bernama Hb. Saleh bin Muhammad Al Kadri , bergelar Pangeran jaya, cucu Sultan Usman bin Abdurrahman Al Kadri.

Juga terdapat makam Syarif Abdurrahman Bin Muhammad Alhinduan, meninggal pada hari Selasa tanggal 3 Rabiul Awwal 1370 H atau bersamaan 13 September 1950 M, pada sekitar jam 11.45. Beliau merupakan Guru Tareqat Qadariah Naqsabandiyah yang mempunyai murid tersebar di Pontianak, sei Kakap, Tanjung Saleh, Teluk Pakedai hingga Sepok Laut. Selain mereka juga dimakamkan beberapa kerabat Kesultanan Pontianak lain seperti Sy. Alwi bin Muhammad Al Kadri ( bergelar Pangeran Jaya ) mertua Hb. Abdurrahman Hinduan dari istri pertama beliau Sofia binti Alwi.

Di Pemakaman ini juga terdapat makam Habib Ahmad bin Husein Al Kadri, yang dikenal dengan sebutan Tok Amad Ende. Beliau ini adalah guru dari Habib Abdurrahman Al Hinduan yang berasal dari Ende, NTT. Juga terdapat makam Syarif Ali bin Sultan Hamid I Al Kadri, gelar Pangeran Putra yang nisannya bersebelahan dengan putra Hb. Abdurrahman Hinduan, yaitu Hb. Hamid Alhinduan.

Sampai saat ini makam yang paling tua yang dapat diidentifikasi di tempat ini adalah makam dengan tarikh 1306 H atau tahun 1886 masehi (127 tahun yang lalu). Namun, hampir sebagian besar nisan-nisan tuanya di beberapa bagian pemakaman tidak terdapat nama orang yang dimakamkan. Tentunya hal ini bukanlah suatu kemustahilan untuk kemudian dapat diidentifikasi. Sedangkan untuk nisan makam yang relatif lebih baru seperti yang telah di marmer sebagian besarnya telah diberia nama. Terutama dalam huruf Latin.

Begitu panjang dan bernilainya sejarah keberadaan dan orang-orang yang di makamkan disini. Namun, dilihat dari kondisinya, pemakaman muslim Gang Meliau saat ini sungguh memprihatinkan. Genangan air, limbah dari kawasan serta ilalang yang semakin tinggi di beberapa bagian menjadi satu sisi cerita juga. Sebagai salah satu pemakaman tertua dengan sejarahnya yang panjang tentunya hal tersebut perlu di perhatikan keberadaannya.

Source https://pontianakheritage.wordpress.com https://pontianakheritage.wordpress.com/2015/05/11/pemakaman-muslim-gang-meliau/
Comments
Loading...