Patok Menturo

0 16

Patok Menturo

Patok kecil berbentuk persegi dengan sudut lembut setia berdiri di pinggir jalan Desa Menturo, tak jauh dari kediaman keluarga Cak Nun dan rumah kepala desa. Tepat di depan pagar sebuah rumah kuno bergaya Belanda, patok batu yang sekilas terlihat seperti batu biasa setinggi sekitar betis bawah orang dewasa itu sebenarnya menyimpan sejarah tentang rangkaian kisah Majapahit yang tercecer.

Patok batu sederhana di Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang ini disinyalir merupakan salah satu penanda jalan masuk menuju ibukota Majapahit. Menturo juga diyakini sebagai salah satu pesanggrahan putra-putri kerajaan di masa itu.

Menurut kisah penduduk setempat, patok berbahan batu andesit ini dipercaya sebagai tambatan perahu di era Majapahit. Layaknya sebuah perahu yang bersandar di dermaga, tambangnya pasti dikaitkan di sebuah patok supaya perayu tidak hanyut terbawa arus.

Tentunya, kisah mengenai patok sebagain tambatan perahu ini tidak muncul dengan sendirinya. Entah darimana cerita rakyat ini berasal, pastinya sudah menjadi kisah turun-temurun yang diceritakan dari generasi ke generasi. Melihat keberadaan tugu batu di Dusun Menturo dan Dusun Tugu yang letaknya masih dalam satu kawasan, berarti sebaran patok-patok itu membentang dari utara ke selatan.

Apabila kisah itu benar, bentangan itu memunculkan gambaran adanya sungai yang cukup lebar dimana patok-patok batu tersebut diletakkan di tepiannya. Sungai itu membentang dari utara ke selatan dan bermuara di Sungai Brantas di bagian utaranya.

Yang menjadi pertanyaan, kini dimanakah eksistensi sungai itu berada? Dengan adanya sebaran patok batu itu, dipastikan dulunya terdapat sungai kuno yang kini telah hilang. Entah apa penyebab hilangnya sungai itu, apakah disebabkan bencana alam yang melanda Majapahit hingga keruntuhannya ataukah akibat sudetan Sungai Konto yang dilakukan Belanda tahun 1914.

Menurut pakar sejarah Nurhadi Rangkuti, dulunya patok ini mencapai tinggi 127 cm dengan pahatan tulisan jawa kuno yang tidak terbaca di salah satu sisinya. Btw mungkin ada yang bisa bantuin baca?? Bentou patok di bagian bawah segi empat, dan bagian atasnya segi delapan. Segi delapan adalah bentuk khas era Majapahit yang mungkin terinspirasi dari logo Surya Majapahit dengan bintang delapannya. Mirip dengan umpak-umpak Grobogan yang juga berlekuk serupa.

Penasaran dengan sejarah Kerajaan Majapahit yang penuh misteri, menggelitik para peneliti untuk melakukan penelusuran. Eskavasi yang dilakukan balai arkeologi Yogyakarta tahun 2005 yang dipimpin langsung oleh Pak Nurhadi Rangkuti menghasilkan temua yang mengejutkan. Penggalian patok batu di di depan rumah keluarga Cak Nun dipenuhi oleh pasir dan kerang sungai. Sedangkan kotak gali bahkan mengeluarkan air hanya dari kedalaman satu meter, meski penggalian dilakukan saat musim kemarau.

Penduduk setempat bahkan berkisah bahwa sering mendengar suara air di bawah lantai sungai mereka. Cerita penduduk setempat itu menguatkan bahwa air tanah yang ada di kawasan Menturo berada tak jauh dari permukaan. Dimana bila air tanah itu tak terlalu dalam, berarti ada aliran sungai bawah tanah. Bisa jadi air tanah itu merupakan sisa sungai kuno Menturo yang hilang.

Sungai Brantas memang tidak dapat dipisahkan dari hiruk pikuk aktivitas Kerajaan Majapahit bahkan juga kerajaan-kerajaan pra-Majapahit seperti Kahuripan dan Mataram Kuno. Sungai terbesar di Jawa Timur ini merupakan penggerak perekonomian dan jalur transportasi utama kala itu. Dermaga, penyeberangan dan desa-desa pelabuhan yang ramai seperti disebutkan di Prasasti Berangka terbitan Raja Hayam Wuruk.

Setelah melayari Sungai Brantas, perahu memasuki Sungai Watudakon ke arah selatan menuju Menturo, Tugu dan Badas. Setelah tiba di Badas, Yoni Naga Raja Badas yang merupakan tapal batas kota yang kini ‘hilang’, menyambut para tamu kerajaan. Dari Badas, dilakukan jalur darat menuju Ibukota Majapahit yang ada di Madyopuro.

Dalam ekspedisi Nurhadi Rangkuti itu, ditemukan pula sisa pemukiman kuno berupa tembikar, uang kuno, dan keramik yang diperkirakan berasal dari abad 13 hingga 15 yang kualitasnya tak jauh berbeda dengan yang ditemukan di Trowulan. Istimewanya, fragmen-fragmen yang ditemukan di Kagenengan, sebuah daerah yang agak lebih tinggi itu mengindikasikan pemukiman itu dihuni oleh kelompok masyarakat kelas atas.

Patok batu kuno di dekat Masjid Darussalam ini kini keadaannya sudah pernah dicat mungkin untuk kepentingan penghiasan jalan desa yang lazim dilakukan saat perayaan kemerdekaan. Tulisan Jawa Kuno yang terpahat di salah satu sisinya pun semakin sulit dibaca.

Seperti desa kuno pada umumnya, dulunya Sumobito juga merupakan hutan belantara hingga akhirnya berubah menjadi pemukiman di zaman modern. Hutan belantara Sumobito, dipercaya sebagai salah satu jalur darat jalan masuk ibukota yang ada di Madyopuro dan menghubungkan rute Majapahit dan Daha di Kediri sebagai daerah bawahan.

Menturo atau Mentoro merupakan sebuah desa yang berada di kawasan Kecamatan Sumobito. Patok Batu Menturo, masih berada dalam satu kecamatan Sumobito bersama Desa Tugu dan Desa Badas yang juga memiliki tugu batu kuno yang tersebar di beberapa titik. Lokasinya yang dekat dengan Badas, memunculkan dugaan bahwa patok batu ini merupakan salah satu jalur masuk menuju Kota Raja Wilwatikta.

Sumobito, memang diyakini sebagai tapal batas ibukota sisi barat laut yang ditandai oleh adanya yoni naga raja seperti tiga titik lainnya. Sayangnya, di titik barat laut yang jatuh di Desa badas, tidak terdapat penanda apapun. Yoni naga raja yang biasa dianggap sebagai tapal batas kota telah ‘hilang’. Simak Misteri Tapal Batas Kota Badas Yang Hilang.

Di Kecamatan Sumobito tak jauh dari Desa Badas, juga terdapat Desa Madyopuro yang disinyalir kuat sebagai titik ibukota Majapahit berada. Kota Raja Majapahit kala itu memang disebut Madyopuro, dan syukurlah nama desa itu belum berubah hingga zaman modern.

Memang bila dikaji lebih lanjut dari tulisan Negarakertagama, ibukota Majapahit digambarkan sebagai kota yang megah dan terlindung dari parit-parit. Seperti yang disebutkan oleh Kitab Negarakertagama Pupuh VIII:1 yang membahas keajaiban kota :

“Tersebut keajaiban kota: tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari pura Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda terus-menerus meronda, jaga paseban.”

Parit yang dimaksud adalah sungai, dimana kata bersabuk mengindikasikan terdapat lebih dari satu sungai yang mengelilingi kota. Sabuk parit menandakan ibukota terlindung di balik sungai dan istana kerajaan aman berada di dalamnya.

Para tamu kerajaan biasanya berlayar dari Sungai Brantas seperti dalam kisah Tragedi Lapangan Bubat, dimana rombongan Kerajaan Pajajaran datang dari Tanah Pasundan dengan berlayar melalui Sungai Brantas. Saat tiba di Kerajaan Majapahit, rombongan kecil yang membawa Dyah Pitaloka Citraresmi untuk dinikahkan denga Prabu Hayam Wuruk tidak langsung memasuki istana kerajaan, melainkan menunggu di Lapangan Bubat dengan membangun perkemahan.

Meski akhirnya terjadi pertempuran yang tidak diinginkan, peristiwa tragedi Perang Bubat ini menunjukkan umumnya para tamu kerajaan tidak langsung masuk ke istana dan masih menunggu di ‘alun-alun’ kota karena letak istana yang masih tersembunyi, terlepas dari adanya negosiasi yang dilakukan petinggi Kerajaan Pajajaran untuk ‘memenangkan’ perang urat syaraf politik dua kerajaan kala itu.

Uniknya, ‘parit-parit’ ini tidak ditemukan di Trowulan. Hanya Jombang, satu-satunya kota di Jawa Timur dengan Mojoagung-nya yang memiliki bentang alam dengan sungai yang bercabang-cabang dan bermuara satu sama lain seperti sebuah benteng alami, yang mengindikasikan lokasi Ibukota Kerajaan Majapahit yang sebenarnya.

Tim Laskar Mdang sebagai kelompok pecinta sejarah Majapahit asal Jombang telah melakukan bedah Kitab Negarakertagama dengan menelusuri jalur-jalur sungai yang membentengi istana kerajaan. Tim arkeolog lokal Jombang inilah yang melakukan penemuan-penemuan penting mengenai berbagai sejarah mengenai Sang Wilwatikta hanya berdasarkan penguasaan wilayah lokal nJombangan dan pengetahuan berdasarkan catatan dalam Negarakertagama.

Dari kisah-kisah yang dituliskan Negarakertagama, Tim Laskar Mdang melakukan napak tilas dengan menelusuri jalur-jalur yang disebutkan. Daerah-daerah yang tersisa, umumnya masih mempertahankan nama kunonya, sehingga memudahkan penelusuran. Daerah yang namanya berubah biasanya tak berubah banyak, sehingga masih bisa dikenali.

Dari gambaran Pak Nurhadi Rangkuti, Menturo memang salah satu jalan menuju Majapahit, selain seribu jalan yang lain yang bisa dirunut ulang. Sungai yang hilang hanya salah satu bukti bahwa ibukota Majapahit memang dikelilingi oleh parit-parit, yang dikuatkan oleh penelusuruan Laskar Mdang.

Kesimpulan bahwa Mentoro dulunya merupakan salah satu pemukiman kelas atas makin menguat, didukung penemuan Laskar Mdang yang menemukan bahwa ibukota Sang Wilwatikta memang tak jauh dari Menturo. Sumobito sebagai tapal batas barat laut masih perlu digali lebih banyak lagi untuk memecahkan misteri Yoni Naga Raja Badas yang hilang, beserta istana kerajaan yang masih tersembunyi.

Patok Menturo di Dusun Mentoro hanyalah salah satu benang merah yang menyingkap misteri dimana ibukotra Kerajaan Majapahit bertahta. Istana kerajaan yang letaknya masih menjadi misteri merupakan tugas sekaligus amanah yang harus diemban warga Kota Santri untuk menjaga kelestariannya, dan menguak misterinya.

Source http://jombangcityguide.blogspot.com http://jombangcityguide.blogspot.com/2018/09/patok-menturo-jejak-sungai-yang-hilang.html
Comments
Loading...