Pasareyandalem Kyai Ageng Henis Laweyan

0 26

Pasareyandalem Kyai Ageng Henis Laweyan

Pasareyan ini terletak di Jalan Liris, Kampung Belukan RT. 04 RW. 04 Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi pasareyan ini berada di belakang Masjid Laweyan, atau sebelah barat daya Jembatan Laweyan.

Kata pasareyan diambil dari bahasa Jawa yang artinya kuburan atau makam. Namun, ketika kata pasareyan itu digandengkan dengan kata dalem maka pengertiannya menunjukkan bahwa kuburan atau makam tersebut bukanlah sembarang makam pada umumnya. Karena dalam penggunaan bahasa Jawa yang memakai gandengan dengan kata dalem, umumnya merupakan penggunaan bahasa Jawa yang berasal dari kedaton atau kraton. Hal ini disebabkan karena yang bersemayam di makam tersebut masih ada kaitannya dengan trah kraton. Jadi, yang dimaksud dengan Pasareyandalem Kyai Ageng Henis itu menunjuk kepada makam Kyai Ageng Henis.

Kyai Ageng Henis, atau terkadang disebut juga Ki Ageng Enis (ada pula yang menyebutnya Kyai Ngenis, adalah putra Ki Ageng Sela (keturunan langsung Bhre Kertabhumi yang bergelar Brawijaya V, raja terakhir Majapahit) dengan Nyai Bicak yang merupakan putri Ki Ageng Ngerang (Sunan Ngerang I, keturunan dari Maulana Maghribi II).

Kyai Ageng Henis mempunyai putra Ki Ageng Pemanahan yang berputra Sutawijaya, yang akhirnya menjadi Panembahan Senopati, yakni pendiri Kerajaan Mataram Islam. Ketika menjadi punggawa di Kadipaten Pajang, Ki Ageng Henis dianugerahi tanah perdikan Laweyan, hingga ia dianggap sebagai cikal bakal masyarakat Laweyan. Penduduk setempat menganggap Kyai Ageng Henis adalah orang sakti (linuwih), karena ia keturunan Ki Ageng Sela yang terkenal bisa ‘menangkap’ petir.

Kyai Ageng Henis ini juga mempunyai julukan Kyai Ageng Laweyan atau Manggala Pinituwaning semasa Jaka Tingkir berkuasa menjadi Adipati Pajang. Ki Ageng Henis, memang dianggap sebagai salah seorang leluhur Raja-raja Mataram yang merupakan keturunan Brawijaya V, yang tentu memperoleh gelar kehormatan nama “Ki Ageng”, karena memiliki arti sebagai tokoh besar keagamaan dan pemerintahan yang dihormati dan memiliki kelebihan, kemampuan dan sifat-sifat kepemimpinan masyarakat.

Kyai Ageng Henis dulunya beragama Hindu Jawa, namun semenjak singgahnya Sunan Kalijaga di daerah ini ketika hendak menuju Kadipaten Pajang, Kyai Ageng Henis pun kemudian masuk Islam. Setelah menyatakan masuk Islam dan menjadi murid Sunan Kalijaga. Ki Ageng Henis (nama sebelum memeluk agama Islam) itu akhirnya dididik dengan agama Islam dan ilmu yang tinggi oleh Sunan Kalijaga. Pada akhirnya Ki Ageng Henis menjadi orang yang waskita. Bahkan Ki Ageng Henis menjadi ulama yang derajatnya menyerupai wali.
Kemudian Ki Ageng Henis yang mendapat sebutan sebagai Kyai Ageng Henis mendapat tugas dari Sunan Kalijaga untuk mensyiarkan agama Islam di tlatah Pajang. Dalam berdakwah, Kyai Ageng Henis menerapkan cara-cara seperti yang dilakukan oleh gurunya, Sunan Kalijaga, yang membumi tanpa kesan menggurui, dengan damai, masuk akal dan penuh welas asih sangat mengena di hati masyarakat yang pada saat itu banyak memeluk agama Hindu.

Dari cara inilah akhirnya mengantarkan Kyai Ageng Henis dapat menjalin persahabatan dengan Ki Ageng Beluk, seorang pendeta agama Hindu di Laweyan yang cukup berpengaruh, yang di kemudian waktu membuahkan hasil yang tidak disangka-sangka. Dengan suka rela Ki Ageng Beluk menasbihkan diri masuk Islam dan menyerahkan pura miliknya pada Kyai Ageng Henis untuk diubah menjadi sebuah masjid (sekarang bernama Masjid Laweyan).

Masjid yang akhirnya menjadi sentra dakwah dan seiring berjalannya waktu dari masjid tersebut berdirilah pesantren yang mempunyai santri lumayan banyak. Saking banyaknya santri yang menimba ilmu kepada Kyai Ageng Henis, pesantren tersebut selalu menanak nasi untuk keperluan makan para santrinya, hingga menimbulkan ‘beluk’ atau asap dari dapur pesantren. Oleh karena itu kemudian daerah itu dikenal dengan Kampung Belukan.

Kyai Ageng Henis adalah tokoh negarawan sekaligus ulama yang mempunyai integritas tinggi yang mempunyai pemikiran maju ke depan. Ia tidak hanya berpikir mengenai akherat saja, namun diseimbangkan dengan kehidupan dunia. Para santri yang jumlahnya semakin banyak tidak hanya melulu diajarkan mengenai ilmu agama, namun juga kegiatan yang akhirnya akan memberikan kemapanan dari segi ekonomi keluarganya. Di Laweyan, selain berdakwah, Kyai Ageng Henis juga mengajarkan bagaimana cara membatik.
Setelah Kyai Ageng Henis meninggal pada tahun 1503, ia dimakamkan di belakang Masjid Laweyan di mana ada kompleks makam kerabat Kadipaten/Kraton Pajang yang beberapa tokoh dan petinggi kerajaan dikebumikan di sana. Sepeninggal Kyai Ageng Henis, cucunya yang bernama Sutawijaya atau yang biasa disebut Raden Ngabehi Loring Pasar menempati rumahnya. Cucu inilah yang akhirnya menjadi raja pertama di Kerajaan Mataram.

Source http://kekunaan.blogspot.com http://kekunaan.blogspot.com/2018/07/pasareyandalem-kyai-ageng-henis-laweyan.html
Comments
Loading...