Pasar Oro-oro Dowo, Pasar Peninggalan Belanda Yang Direvitalisasi

0 230

Pasar Oro-oro Dowo, Pasar Peninggalan Belanda Yang Direvitalisasi

Pasar yang berlokasi di Jl. Guntur 20 ini merupakan pasar tradisional yang bersih yang kerap menjadi percontohan.

Kebersihan Pasar Oro-oro Dowo bisa jadi karena banyak pembeli yang berasal dari kalangan menengah ke atas yang juga merupakan warga sekitar. Kebersihan itu pula yang mengantarkan pasar tersebut mendapatkan berbagai penghargaan.

Dari sisi sejarah, Pasar Oro-oro Dowo merupakan salah satu pasar tertua yang dibangun oleh Belanda. Bedak atau kios yang berada di sana dibangun sekitar tahun 1932 bersamaan dengan Pasar Bunulrejo dan Pasar Kebalen.

Sebenarnya soal siapa yang paling cepat, Pasar Pecinan atau Pasar Besar sudah ada lebih dahulu di Malang jauh sebelumnya dan di tahun 1920 Pemerintah Kolonial Belanda juga melakukan renovasi. Tetapi Pasar Oro-oro Dowo adalah yang pertama dibangun oleh Belanda. Kemudian di tahun 1970, Pemerintah Kota Malang kemudian melakukan renovasi dan penambahan bangunan tanpa melakukan perubahan di bangunan utama.

Dengan sisi sejarah yang begitu kental, Pasar Oro-oro Dowo kerap menjadi destinasi bagi turis asal Belanda. Meskipun kedatangan mereka hanya sekedar melihat bangunan sembari bernostalgia karena tidak ada barang khusus semacam souvenir yang dijual. Namun, terkadang harga murah bahan pokok yang ditawarkan layaknya pasar tradisional yang lain membuat mereka juga membeli dagangan yang ada disana. Maklum, beberapa turis juga merupakan backpacker yang tentu ingin membeli barang murah.

Saat masuk ke dalam pasar, anda akan mudah mencari jenis barang yang diinginkan. Karena pengelola pasar sudah membagi bagian yang ada di dalamnya dengan tulisan-tulisan yang mudah dilihat. Jika lapar, maka kuliner khas pasar seperti rawon, soto hingga jajanan siap memanjakan perut anda.

“Dulu, pasar ini menjadi tempat belanja orang-orang Belanda yang tinggal di Kota Malang. Makanya, sampai sekarang Pasar Oro-oro Dowo masih menjadi pilihan tempat belanja bagi masyarakat menengah ke atas. Kondisi pasar juga tetap dijaga bersih termasuk kualitas barang dagangan juga dijaga,” kata Sampun, pengelola Pasar Oro-oro Dowo.

Dirinya menjelaskan, ada tiga prinsip yang sampai sekarang dipegang pedagang Pasar Oro-oro Dowo. Pertama, soal kebersihan pasar, lalu kualitas barang dagangan, dan tata krama atau sopan santun pedagang saat melayani pembeli.

Saat ini sejak September 2015 lalu, Pemkot Malang melakukan revitalisasi Pasar Oro-oro Dowo dengan tujuan menjadikan pasar ini sebagai percontohan. Akibat revitalisasi ini, 180-an pedagang direlokasi sementara waktu dengan menempati kios darurat yang berada di Jalan Guntur dan Jalan Muria. Kabarnya, anggaran pembangunan pasar sebesar Rp7 milyar yang berasal dari bantuan pemerintah pusat.

Rencananya awal Januari 2016, bangunan pasar seluas 28×54 siap untuk ditempati. Rencananya, tidak ada perubahan bentuk pasar selain bagian dalamnya itu sendiri. Namun tetap menarik bagaimana bentuk pasar tertua yang ada di Malang ini setelah dipermak. Karena kabarnya juga akan dilengkapi dengan kios souvenir khas Malang.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2016/01/02/pasar-oro-oro-dowo-pasar-peninggalan-belanda-yang-di-revitalisasi/
Comments
Loading...