Pasar Besar Tempo Doeloe Malang

0 89

Pasar Besar Tempo Doeloe

Di dalam tipologi penataan kota kolonial sebelum tahun 1900, daerah pasar dan toko kecil terletak tidak jauh dari alun-alun. Di Malang, pasar dan toko-toko kecil terletak di sebelah selatan alun-alun di daerah Chineeschestraat (sekarang Jalan Pasar Besar). Oleh sebab itu pasar di daerah itu kemudian terkenal dengan sebutan Pasar Pecinan. Pasar ini sudah ada jauh sebelum tahun 1900 dan baru pada tahun 1914 pasar trersebut diambil alih oleh pemerintah kota.

Pada saat Kota Malang berdiri pada tahun 1914, belum ada pasar milik Kabupaten maupun Gemeente. Sepanjang diketahui, satu-satunya pasar adalah pasar milik swasta di Pecinan. Sebelumnya ada pemikiran dari pihak Dewan Wilayah yang berkedudukan di Pasuruan untuk membangun pasar baru milik pemerintah di dekat Jalan Kayutangan (sekarang Jl. Basuki Rahmad), di sebelah kiri Sungai Brantas (kira-kira sekarang daerah sekitar Alun-alun Tugu). Dari pusat kota (Alun-alun Lama), daerah tersebut pada waktu itu hanya bisa dicapai lewat jembatan kecil yang sulit sehingga rencana tersebut akhirnya batal. Banyak anggota dewan waktu itu berpendapat bahwa sebaiknya pasar dibangun di daerah Pecinan.

Pendapat ini terutama didukung oleh golongan Cina dan Arab, yang menyanggupi untuk memberikan sumbangan sebesar f. 20.000 apabila rencana tersebut diwujudkan. Sumbangan tersebut ditolak oleh dewan, tetapi mereka diminta untuk melepaskan tanahnya. Sebagian tanah di tempat itu memang merupakan tanah hak milik perorangan. Tanah itu mestinya akan diperlukan untuk memperluas kompleks pasar yang akan dibangun dan memindah kampung yang akan tergusur oleh perluasan pasar tersebut. Akhirnya pasar Pecinan tersebut diserahkan kepada Gemeente.

Pada tahun 1914-1917 memang telah dilakukan beberapa perbaikan di bagian tertentu tetapi biaya untuk membangun pasar tersebut secara keseluruhan belum tersedia. Baru pada tahun 1919, setelah terkumpul biaya sebesar f. 548.000, mulai dilakukan perbaikan yang berarti di pasar tersebut. Selama tahun 1920-1924, pembangunan pasar Pecinan, yang sudah menjadi milik kota, berhasil merampungkan 20 los yang terbuat dari beton. Untuk mencegah kebakaran, selain los yang terbuat dari beton, maka jarak antara satu los dengan yang lainnya dibuat 2 meter.

Namun karena pasar berkembang lebih cepat dari pembangunannya maka jarak antar los akhirnya ditutup dengan seng untuk menambah ruang usaha. Kesan keseluruhannya kemudian menjadi kacau, karena selain gelap, sirkulasi udara pun menjadi berkurang. Pada tahun 1930 masalah ruang pasar Pecinan sudah sedemikian gawatnya karena perdagangan yang terus berkembang, sementara area pasar tidak bertambah luas. Keadaan tersebut memaksa pemerintah kota untuk memikirkan keberadaan pasar-pasar kampung sebagai jalan keluarnya. Pada tahun 1932 dan 1934 telah dibangun pasar kampung di Bunulrejo, Kebalen, Oro-oro Dowo, Embong Brantas, dan Lowokwaru.

Pada tahun 1935 pasar Pecinan diperbaiki lagi. Perbaikan pertama di los ikan dan daging, yang mempunyai daya tarik terbesar bagi lalat. Interior tempat penjualannya yang terdiri dari meja dan tempat duduk dibuat dari kayu, yang bisa dilipat apabila lantainya dibersihkan. Lantainya terbuat dari batu alam dan sanitasi air dibuat sedemikian rupa sehingga lancar.

Los daging yang baru ditutup rapat dengan kaca dan diberi pintu masuk dan keluar otomatis. Penjualan dilakukan dalam ruang yang tertutup, berbeda dengan yang lama, di mana pembeli tetap berada di luar los dan daging yang dibelinya diberikan lewat loket. Meja penjualan dibuat per blok sehingga memudahkan penggantian. Lantainya terbuat dari tegel kuning, dindingnya dilapisi porselen. Sedangkan di atas meja-meja penjualan bergantungan haak-haak. Dengan rancangan los daging yang baru ini, gangguan lalat sebagian besar dapat diatasi.

Los daging yang lama diubah menjadi restoran. Selain itu, los buah-buahan dan sayuran juga diperbaiki. Untuk mengatasi masalah penjaja makanan yang selalu berkeliling pasar maka disediakan pusat warung. Pusat warung ini terdiri atas sejumlah meja makan persegi yang diapit dengan dua buah bangku. Di bawah mejanya terdapat tempat mencuci dan alat pembersih lainnya. Di tengah kompleks warung tersebut terdapat tempat penyimpanan mirip gudang yang digunakan untuk menyimpan perangkat makanan setelah warung ditutup. Keseluruhannya berada di lantai yang lebih rendah.

Keperluan sanitasi diberikan perhatian khusus. Pada tahun 1940 dibangun pula tempat penjualan bumbu masak dan keperluan dapur, berupa bedak-bedak dari kayu yang ternyata cocok dengan kebutuhan para penjual. Konstruksinya mudah dibersihkan dengan air. Juga dibuat konstruksi khusus untuk kandang ayam dan sangkar burung, di mana kompleksnya berlantai rendah.

Pada tahun 1941 masih dilakukan perbaikan los-los. Yang terakhir adalah untuk kantor, mandi, cuci dan kakus (MCK). Juga tidak lupa dibuat los-los untuk barang kelontong, kue, tukang emas, pakaian, barang bekas, dan sebagainya. Tempat penitipan sepeda juga dipersiapkan. Untuk batas antara pasar dengan jalan kemudian dibangun 12 bedak yang bisa disewakan. Selain itu, gerbang pintu masuknya juga diperbaiki. Di samping itu untuk memperlancar angkutan, pada tahun 1937 dibangun pula sebuah stasiun bus dan oplet di belakang pasar Pecinan (sekarang sudah tidak ada).

Pada tahun 1932 diputuskan untuk membangun pasar sore di pasar Pecinan dan juga pasar malam. Selain itu pada 1934 juga dibangun pasar grosir di Pecinan, tetapi usaha ini kemudian gagal total dan semenjak itu ide untuk membangun pasar grosir ditinggalkan. Pada tahun-tahun terakhir perluasan pasar di Gemeente Malang terbatas pada pendirian pasar bunga di Alun-alun Lama.

Pada tahun 1940 didirikan percobaan pasar di daerah Talon. Dalam perkembangan selanjutnya pasar Kebalen dan Oro-oro Dowo juga diperluas, sedangkan pasar Lowokwaru, karena kurang diminati orang ditutup. Rencana perluasan daerah kota pada tahun 1935 menyebabkan. adanya pertambahan pasar sejak Januari 1940, yaitu di Blimbing dan sebuah pasar desa di Dinoyo. Pasar Blimbing ini juga dilengkapi dengan pasar ternak.

Sayang sekali, Pasar Pecinan yang penuh riwayat dan kisah perancangan yang panjang ini sekarang sudah dibongkar dan musnah. Saat ini telah diganti dengan bangunan baru, tanpa ada pemikiran untuk merenovasinya. Satu lagi bangunan kolonial di Kota Malang yang musnah.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/3563/pasar-besar-tempo-doeloe/
Comments
Loading...