Panti asuhan Don Bosco

0 40

Panti asuhan Don Bosco

Berada di Jl. Tidar nomor 115, Surabaya, panti asuhan Don Bosco merupakan satu diantara bangunan cagar budaya yang menjadi saksi pertempuran 10 November 1945 yang dicatat sejarah sebagai pertempuran terdahsyat sepanjang sejarah dunia.

Gedung bersejarah yang kemudian dikelola oleh Yayasan Don Bosco sejak tahun 1937 tersebut punya cerita panjang dan menarik. Mulai dari sebagai markas Belanda hingga gudang senjata terlengkap yang dimiliki oleh bala tentara Jepang ketika itu.

“Kalau markas tentara Belanda memang tercatat dalam beberapa buku tentang sejarah pertempuran 10 November 1945. Kemudian menjadi gudang senjata tentara Jepang. Beberapa sisa senjata, laras pendek maupun panjang ketika itu memang masih ada,” terang Louis Wignya Karyana Sekretaris Panti Asuhan Don Bosco.

Louis kemudian mengajak suarasurabaya.net menyusuri lorong bangunan tua tersebut menuju bagian belakang kompleks panti asuhan menuju sebuah tanah lapang. “Disini dulu ada beberapa ruangan. Dalam ruangan itu ada sisa-sisa senjata. Sekarang sudah jadi lapangan,” kata Louis.

Sisa-sisa senjata yang sudah menjadi barang rongsokan itu kemudian tidak ketahuan rimbanya. Bahkan Louis sendiri tidak mengetahui kemana barang-barang itu. “Kurang tahu kemana kemudian rongsokan-rongsokan itu. Yang pasti raib,” kata Louis.

Ditambahkan Louis, ketika akan membuat alat permainan perosotan untuk anak-anak Taman Kanak-kanak yang lokasinya berada di bagian belakang bangunan induk dekat kapel dikompleks Don Bosco itu, pekerja menemukan sejumlah topi baja, dan barang lainnya terbuat dari besi.

“Ada topi baja tentara, mesin jahit dan barang-barang lainnya terbuat dari besi. Itu dibagian belakang bangunan utama, dekat dengan kapel yang ada dibelakang sana, dan penggalian akhirnya kami hentikan,” tambah Louis.

Saat kami kembali keruang tengah yang luas, sekitar 8 meter kali 10 meter, dibalik pintu utama bangunan panti asuhan Don Bosco itu, Louis kembali bercerita bahwa di bagian depan panti asuhan memang pernah dilakukan rencana pembangunan. Tetapi batal dilakukan.

Ketika dilakukan penggalian pada bagian depan bangunan tersebut ditemukan semacam ruangan dibawah tanah yang ukurannya tidak terlalu lebar. Bangunan itu berdinding tebal sekitar 50 cm, berbentuk kotak tanpa atap.

“Sepertinya bangunan berbentuk kotak mirip pos penjagaan itu panjang dan saling terhubung. Tetapi kami tidak bisa memastikan, bagaimana bentuk bangunan yang dilengkapi dengan kerangka besi tersebut. Kami juga menemukan semacam lempengan baja yang sama sekali tidak berkarat,” sambung Louis.

Apakah itu bagian dari gudang senjata?? Louis tidak membenarkan tetapi juga tidak membantah. Karena bisa jadi bangunan peninggalan Belanda tersebut memang menjadi gudang senjata lantaran lokasinya yang sangat strategis.

Posisi bangunan kompleks Don Bosco berada tidak jauh dari pelabuhan Ujung, di Tanjung Perak kala itu dan berada di batas kota. “Kalau melihat posisi strategis yang seperti itu, bisa jadi bangunan ini memang gudang senjata,” lanjut Louis.

Saat ini bangunan bagian depan kompleks panti asuhan Don Bosco berubah menjadi taman, dan ditanami sejumlah tanaman-tanaman peneduh.

“Kalau benar di depan lokasi ini adalah gudang senjata tentara Jepang, bisa jadi sepanjang lahan ini, mulai dari ujung pos penjagaan hingga ujung kompleks bangunan ini adalah gudang senjata,” tegas Louis yang menjadi pengurus panti asuhan sejak tahun 1958 itu.

Sementara Heri Lentho pemerhati sejarah Surabaya kepada suarasurabaya.net pernah menyampaikan bahwa berdasarkan catatan sejarah sebelum pertempuran 10 November 1945 terjadi, pemuda dan pejuang di Surabaya melakukan penyerangan terhadap bangunan di jl. Tidar tersebut.

“Karena disanalah kabarnya disimpan senjata-senjata rampasan Jepang dari Belanda serta milik Jepang sendiri yang ingin kembali menguasai Indonesia. Jadi diperkirakan jumlahnya cukup besar, dan dengan modal senjata rampasan itu juga perlawanan pejuang dan pemuda Surabaya membuat Sekutu kalah,” terang Heri Lentho.

Senada dengan itu, Ari Setiawan anggota komunitas Rooderbrough Soerabaia membenarkan bahwa di bangunan Don Bosco itulah para pejuang dan Arek-arek Suroboyo merampas senjata tentara Jepang.

“Dan senjata-senjata yang diperoleh itu, ternyata macam-macam jenisnya. Ada yang peninggalan tentara Belanda tetapi tidak sedikit sisa tentara Jepang. Dan oleh karena itu sejarah mencatat pertempuran 10 November 1945 itu pertempuran terberat dan terdahsyat. Bahkan Jenderal Mallaby juga tewas,” tukas Ari Setiawan.

Sayangnya, bangunan yang hingga saat ini masih sangat terawat itu tidak banyak diketahui generasi muda, terkait sejarah dan kisah heroik yang menyertainya.

Source http://m.suarasurabaya.net http://m.suarasurabaya.net/app/kelanakota/detail/2016/180091-Bangunan-Don-Bosco-di-Jl.-Tidar-Sisa-Sejarah-10-November-1945
Comments
Loading...