Panggung Songgobuwono Surakarta

0 83

Panggung Songgobuwono

Pada sisi pelataran sebelah utara atau tepatnya di sebelah timur Kori Srimanganti Lor Karaton Surakarta berdiri sebuah menara yang tingginya ± 30 meter. Menara ini dikenal dengan nama Panggung Songgobuwono. Panggung Songgobuwono didirikan pada masa pemerintahan Paku Buwono III pada tahun 1708 Jawa atau 1782 Masehi.

Panggung dan Kori ini ibarat Lingga dan Yoni yang dalam Kejawen disebut sebagai “Purwaning Dumadi”, bahwa Kori Srimanganti ini merupakan jalan menuju kesempurnaan, yang sungguh-sungguh sukar dilalui, sebab Panggung dan Kori merupakan godaan yang terbesar. Adapun bangunan yang mengitari Panggung Songgobuwono adalah : sebelah utara terdapat Kori Kamandungan, sebelah timur terdapat bangunan Panti Pidono, sebelah selatan terdapat Sasono Sewoko, dan sebelah barat terdapat Panewon / Pacaosan.

Pada tahun 1954 terjadi kebakaran pada panggung Songgobuwono. Kebakaran ini menyebabkan habisnya atap panggung. Kemudian pada tahun itu pula atap panggung diperbaiki. Atap panggung sebelum terbakar berbentuk limasan (kerucut) dengan alas berbentuk bujur sangkar (segi empat) dari bahan sirap. Setelah dipugar bentuknya diganti dengan bentuk limasan yang alasnya segi delapan, bahan atap tetap menggunakan sirap kemudian puncaknya diberi hiasan “Candra Sengkala”.

Panggung Songgobuwono berbentuk “Hasta Wolu” atau segi delapan dan terdiri dari empat tingkat. Tingkat paling atas disebut “Tudung Saji”. Ruangan ini digunakan sebagai :

  • Tempat untuk bermeditasi bagi Raja Susuhunan, karena letaknya yang tinggi, ruangan ini memberikan suasana yang hening dan tenteram.
  • Tempat meraga sukma bagi Raja Susuhunan untuk mengadakan pertemuan dengan ratu makhluk halus dari laut selatan, yaitu Nyai Roro Kidul.
  • Tempat untuk mengawasi keadaan atau pemandangan di sekeliling kraton.

Pada puncak menara terdapat sebuah lambang yang menggambarkan manusia mengendarai seekor naga. Lambang tersebut diterjemahkan sebagai “Naga Muluk Tinitihan Jalma”, yaitu merupakan sengkalan tahun di mana bangunan menara tersebut didirikan. Naga = 8, Muluk = 0, Titihan = 7, Jalma = 1. Dengan demikian berarti angka tahun 1708 tahun Jawa.

Panggung Songgobuwono sekaligus mempunyai pengertian mengenai angka berdirinya, yaitu : Panggung : 8,  Song : 9, Go : 1, Buwono : 1. Dengan demikian bunyi pengertian itu adalah angka tahun 1198 tahun Hijriyah.

Di sisi selatan Panggung Songgobuwono terdapat pepohonan sawo kecik yang rimbun, dengan demikian sirkulasi udara di sekitar bangunan terasa sejuk apabila musim penghujan, sedangkan musim kemarau terasa panas. Adapun ketinggian lantai halaman dari permukaan air laut 92.24 m.

Panggung Songgobuwono merupakan bangunan yang paling tinggi dibanding bangunan-bangunan lain di kompleks Karaton Kasunanan Surakarta. Bangunan Panggung Songgobuwono ini mempunyai 5 (lima) lantai. Hubungan antar lantai dihubungkan dengan tangga yang terbuat dari bahan kayu jati. Dinding lantai 1 dan 2 terbuat dari  tembok yang relatif tebal. Lantai tingkat 3 dan 4 berdinding tembok lebih tipis, dan lantai tingkat 5 merupakan atap. Teras tingkat 3 pada tiap-tiap sudut ditopang oleh saka yang diberi penghubung antara saka sekaligus aling-aling / pagar.

Lantai tingkat 4 pada terasnya di tiap-tiap sudut terdapat saka sebagai penopang atap teras dan antara saka ke saka lain terdapat penghubung untuk pagar. Lantai tingkat 5 sudah terletak pada atap di mana pada ke empat arah mata angin terdapat jendela.  Sebagai penopang atap di tengah-tengah terdapat sebuah saka guru dan penutup atap terbuat dari sirap.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/bangunan-songgobuwono/
Comments
Loading...