Padepokan Seni Mangun Dharma Malang

0 85

Padepokan Seni Mangun Dharma

Padepokan Seni Mangun Dharma berada di Dusun Kemulan, Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Padepokan Seni Mangun Dharma menempati lokasi yang dekat dengan jalan raya, yaitu antara pasar Tumpang bagian belakang, menuju ke arah Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Desa Tulusbesar terletak di sebelah barat lereng kaki Gunung Semeru. Karena berada dekat dengan lereng Gunung Semeru sehingga sebagian besar wilayah Desa Tulusbesar merupakan bukit, lembah dan area pertanian. Rumah penduduknya berada di sekitar kanan kiri jalan. Desa Tulusbesar terletak ke arah timur dari Kota Malang. Ada tiga akses jalan untuk menuju ke Desa Tulusbesar yaitu dari arah utara dari arah Blimbing ke timur, akses kedua dari arah Sawojajar ke timur dan ketiga dari arah Gadang ke arah selatan melalui Tajinan ke arah timur.

Di Desa Tulusbesar ini dikenal sebagai desa budaya karena kaya akan budaya Jawa yang turun temurun menjadi ciri khas Desa Tulusbesar. Kesenian yang dapat ditemui di Desa Tulusbesar di antaranya seni tari, kuda lumping, wayang, bantengan, terbang jidor dan lainnya. Dengan banyaknya jenis kesenian itu maka didirikanlah sebuah padepokan seni bernama Mangun Dharma atau Wijaya Kusuma. Padepokan Seni ini secara resmi didirikan pada tanggal 26 Agustus 1989 oleh Muhammad Soleh Adi Pramono dan masyarakat Desa Tulusbesar. Sampai saat ini Padepokan Seni Mangun Dharma masih aktif, dan banyak kegiatan yang dilakukan di antaranya latihan tari topeng, gamelan, dan lain-lain.

Padepokan yang terletak di sisi jalan raya Desa Tulusbesar. Lokasi area padepokan cukup luas yakni berukuran sekitar 40 x 40 m. Area bagian tengah dekat dengan jalan raya, dibangun sebuah rumah berbentuk joglo berlantai dua. Joglo ini digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus sebagai tempat pemajangan koleksi dan benda produk dari padepokan sendiri.

Rumah tinggal berbentuk joglo tersebut dibagi-bagi menjadi ruang-ruang dengan dinding papan kayu. Pembagian ruang, antara lain ruang depan, berfungsi sebagai ruang tamu, juga berfungsi sebagai tempat pemajangan karya. Di samping itu juga dipajang beberapa buah jenis tokoh wayang kulit, kemudian sebuah ukiran kayu yang berbentuk dewi Sri. Ruang keluarga terletak di lantai dua, berikut kamar tidur, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan di bagian belakang rumah dipergunakan sebagai garasi mobil dan sepeda motor.

Area bagian selatan rumah tempat tinggal, dibangun juga sebuah tempat pertunjukan dengan ukuran 8 x 12 m, yang berkapasitas 20 orang. Apabila tidak ada pertunjukan, tempat tersebut dipergunakan sebagai tempat latihan karawitan (tersedia dua buah set karawitan) dan pelatihan dalang wayang kulit. Area di sebelah selatannya juga dibangun tempat yang berukuran 8 x 12 m, sebagai ruang pameran dan latihan tari. Di sebelah barat kedua bangunan itu, dibangun pula sebuah panggung terbuka yang sewaktu-waktu digunakan sebagai tempat pertunjukan dan tempat latihan tari. Area di sebelah selatan dan barat yang lebih tinggi, terdapat bangunan semi permanen yang berfungsi sebagai ruang rias dan gudang. Sisa area lainnya, dipergunakan sebagai taman.

Nama Mangun Dharma menurut cerita rakyat setempat berasal dari seorang yang menentang penjajahan Belanda. Konon pada jaman dahulu ada seorang yang bernama Mbah Mangun Dharmo yang menentang penjajahan Belanda. Mangun Dharma (Darmo) adalah seorang senopati yang hidup pada masa Sultan Agung. Senopati tersebut mendapat tugas yang berkaitan dengan hutan di wilayah timur yang sekarang bernama Gunung Buring, yang kemudian menjadi cikal bakal Kabupaten Malang. Saat terjadi pertempuran, kakinya tertembus peluru sampai wates belung, artinya tembus sampai ke tulang. Sampai sekarang istilah kata wates belung, menjadi nama desa Wates dan Belung, kedua desa tersebut berada di Kecamatan Poncokusumo.

Dengan kaki yang terluka ia melarikan diri ke arah utara, hingga sampai di Desa Binangun, Tumpang. Di sini ia meninggalkan selimut kain panjang (kemul jarik) yang berlumuran darah. Atas inisiatif penduduk desa yaitu Mbok Randha Kuning, selimut kain panjang tersebut dikubur yang seakan-akan merupakan makam Senopati Mangun Darmo (Mangun Yudho). Akhirnya sampai sekarang tempat tersebut diberi nama Dusun Kemulan. Sejalan dengan itu, nama Senopati Mangun Dharmo dipakai sebagai nama padepokan seni yang bernama Padepokan Mangun Dharma agar nama itu tetap dikenal, dengan melalui aktivitas dalam seni tradisi Malangan.

Padepokan ini di bawah asuhan Ki Soleh Adi Pramono sangat berbeda dengan umumnya padepokan-padepokan lainnya. Jika biasanya suatu padepokan hanya mengembangkan satu kesenian atau hanya untuk lokasi pementasan, tidak demikian dengan Padepokan Mangun Dharma ini. Padepokan ini terdaftar dan diakui oleh Direktorat Kebudayaan Internasional sebagai Mangun Dharma Art Center. Sedikitnya terdapat enam jenis kesenian yang bisa didalami dan dikembangkan oleh setiap penyuka seni.

Bidang utama kegiatan di Padepokan Seni Mangun Dharma selama diprioritaskan dalam seni tradisi Malangan antara lain ilmu pedalangan, seni tari, karawitan, macapat, kerajinan topeng, tatah sungging wayang kulit dan batik. Di samping itu diadakan program-program kegiatan yang dilakukan baik kegiatan rutin, pertunjukan dan festival. Bahkan diajarkan juga seni lukis, jaran kepang, dan pahat ukir wayang bahkan tari kontemporer. Ki Soleh mengajarkan pedalangan, kerajinan wayang kulit, seni tari, dan kerajinan topeng. Dulu pelajaran membatik diberikan oleh Karen Elizabeth.

Secara khusus itu pula dari masing-masing jenis dibuatkan pendidikan reguler untuk mereka yang ingin mendalami. Mulai wayang topeng, dari sekitar 200-220 grup (aliran) pembuat topeng di Kabupaten Malang, pada padepokan ini justru membuat pementasan dari wayang-wayang topeng itu. Untuk pendidikan regulernya, peserta diajak menjadi dalang agar bisa menjalankan peran dari sejumlah lakon yang ada. Termasuk di dalamnya menyertakan panji dari tren yang selama ini diminati masyarakat.

Banyak lakon yang bisa ditampilkan dari wayang topeng ini. Mulai dari cerita sejarah seperti Brawijaya sampai pada Menak Jinggo. Sementara untuk cerita-cerita lain, terdapat Ramayana atau Mahabharata. Bahkan, kisah islami seperti Menak Agung itu pun terdapat di dalam cerita wayang topeng. Kesenian lain yang bisa digali, yakni seni tari daerah Malangan. Disebut Malangan karena kesenian ini hanya bisa didapati di daerah Malang saja. Kesenian tersebut, biasanya ditampilkan pada acara yang sifatnya sakral dan memiliki gerak koreografi, tata busana dan iringan yang sedikit melemah.

Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian-kesenian yang ada itu kemudian dipadatkan tanpa mengurangi inti dari yang ditampilkan. Sehingga, dari tontonan yang awalnya butuh waktu lama dan terkesan akan membuat jenuh, kini dibuat menjadi lebih enak ditonton. Dari yang awalnya lebih untuk acara ritual kini menjadi seni pertunjukan. Beberapa kesenian tari ini yaitu Tari Beskalan Putri, Beskalan Putra, Tari Ruwatan Srimpi Limo, Tari Jaran Monelan sampai Tari Jaran Dor. Sejumlah tarian itu, kini masih bisa dijumpai di tengah masyarakat meski bukan pada prosesi sakral. Karena setiap kesenian biasanya ada yang menonton, seiring itu pula dibuatkan tarian tandaan dan tarub. Tarian ini dimaksudkan untuk mengajak penonton ikut menari di penghujung acara. Tujuannya tidak lain untuk turut melestarikan kesenian.

Mereka yang tertarik untuk mendalami dalang pun akan diajarkan secara gamblang di padepokan tersebut. Bahkan, tidak hanya sebatas memainkan wayang, tetapi turut memadukan langsung karawitan. Sementara untuk karawitan pun tidak ketinggalan menjadi salah satu jenis seni yang diajarkan. Semua jenis kesenian terdaftar kapan pelaksanaannya. Karenanya, seperti siswa yang akan belajar, guru kesenian, wisatawan mancanegara yang datang sudah memiliki jadwalnya. Termasuk, seperti belajar macapat dan kerajinan wayang kulit hingga topeng.

Yang menarik dari sejumlah kesenian yang dikembangkan itu, mereka yang terlibat langsung diajak hingga pada inti kesenian yang digeluti. Seperti dalang atau pelaku wayang topeng, biasanya akan dijelaskan mengenai wajah tokoh atau lakon dan perwatakannya. Termasuk diajarkan cara membuat dari topeng tokoh itu. Di padepokan ini, tidak hanya belajar gerak atau irama. Namun, mengajarkan gerak, irama dan rasa. Sehingga apa yang didapat benar-benar tahu dan mengetahui.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/4281/padepokan-seni-mangun-dharma/
Comments
Loading...