Pabrik Rokok Faroka

0 212

Pabrik Rokok Faroka

Rokok Faroka adalah rokok yang cukup dikenal pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda. Rokok putih tersebut dibuat di pabrik rokok Faroka yang cukup canggih di masanya.

Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, pabrik rokok Faroka berdiri di lahan sebesar 32.000 meter persegi di kawasan Industri di zaman Belanda. Sekarang kawasan tersebut bernama Jl Peltu Sujono (daerah dekat Comboran). Perusahaan Faroka bernama NV (Naamloze Vennootschap) Faroka. NV adalah nama Belanda untuk PT pada zaman sekarang. NV menjalankan usaha dengan modal berupa lembaran saham. Di saat itu pemilik saham terbesar adalah pengusaha eropa karena Faroka didirikan oleh perusahaan Belgia.

Dikutip dari buku Malang Tempo Doeloe karya Dukut Widodo. Dikisahkan jika saat memasuki lokasi pabrik tersebut yang terlihat menonjol adalah gudang tembakaunya yang sangat besar. Gudang itu dirancang sedemikian rupa dengan menggunakan plafon eternit ganda, sehingga hawa di tempat itu tetap dingin dan mutu dari tembakau yang disimpan di situ tetap terjaga.

Dalam ruangan yang disebut dengan melange-zaal, orang bisa melihat berbagai jenis tembakau. Satu melange-zaal digunakan untuk menyimpan satu jenis tembakau yang dipakai untuk satu merk rokok saja. Di melange-zaal juga terdapat monsterkamer, atau kamar master, yaitu sebuah kamar yang menyimpan contoh tembakau atau master dari tembakau yang bakal masuk di gudang. Pabrik rokok Faroka selain menggunakan tembakau dari Indonesia juga mengimpor jenis tembakau dari Amerika, Tiongkok, hingga Makedonia dengan rasa yang tentu berbeda-beda.

Di melange-zaal terdapat pegawai yang tugasnya mencampur adonan tembakau. Jabatan pegawai ini disebut melangeur, sebuah jabatan yang sangat bergengsi yang hanya dimiliki oleh orang-orang pilihan saja.

Di lokasi pabrik Faroka juga terdapat afdeeling-afdeeling (bagian-bagian) lain. Dikisahkan jika afdeeling-afdeeling ini sangat bersih dan tertata rapi. Seluruh pegawainya memakai seragam berwarna putih bersih.

“Kaloe orang meliat laen-laen afdeeling dari ini fabriek, orang nanti menampak karesikan jang soesah sekali ditjari bandingannja. Semoea penggawe jang moesti bikin sigaret memakae pakean jang bersamaan satu pada lain dan warnanja poetih. Ini ada perloe sekali, kapan inget sigaret poen masoek itoengan barang makanan,” demikian bunyi sebuah laporan kunjungan NV Faroka yang dibuat pada tahun 1939.

Jubin (lantai) pabrikpun nampak bersih sekali, sehingga diibaratkan kalau Anda duduk di lantainya pun tidak usah khawatir pakaian akan kotor.

Dari sisi produktivitas, tiap jam pabrik rokok Faroka memproduksi 60.000 batang rokok dengan menggunakan peralatan mesin yang modern. Semuanya dikerjakan mesin, termasuk pemasangan banderol. Sementara tenaga manusia digunakan hanya untuk menata saja.

“Hingga bole dibilang dari tembako sampe kertas sigaretnja tida kena kepegang tangan. Semoeanja dikerdjakan dengen masin,” lanjut laporan itu.

Kecanggihan pabrik rokok Faroka tentu saja berbeda dengan Pabrik rokok Bentoel yang berdiri setelahnya. Pabrik Bentoel (hingga sekarang) pembuatan rokoknya melalui tenaga manual buruh pabrik. Sehingga bisa dibilang Faroka adalah perusahaan yang cukup mapan di zaman itu. Tentu hal ini tidak mengherankan mengingat berdirinya Faroka karena disokong oleh perusahaan NV Tobacofina dari Belgia.

Tanggal 7 Maret 1942 saat Jepang menduduki Malang. Seluruh bangsa Eropa kecuali Jerman yang tinggal di Malang dimasukkan ke dalam kamp interniran atau tahanan Jepang. Para top manajemen dari pabrik rokok Faroka ini juga mengalami nasib yang sama. Pabrik ini pun akhirnya berhenti beberapa saat sampai Jepang mengaktifkan kembali.

Tahun 1945 saat Jepang kalah melawan Sekutu. Faroka diambil alih oleh Pemerintah Indonesia, dari hasil negoisasinya dengan Belanda kemudian pabrik ini kemudian dikelola kembali oleh NV Tobacofina pada tahun 1949.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2016/06/18/tentang-kehebatan-pabrik-rokok-faroka/
Comments
Loading...