Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Magelang

0 869

Lokasi Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Museum ini terletak di Jalan Diponegoro No. 1 Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi museum ini berada di dalam kompleks Kantor Bakorwil II Kedu dan Surakarta atau eks Karesidenan Kedu.

Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia merupakan museum umum milik Pemerintah Pusat, museum ini dikelola oleh BPK Perwakilan Provinsi Jawa Tengah pada unit kerja Sub Bagian Umum.

Ide awal untuk membangun museum BPK ini sebetulnya sudah ada sejak kepemimpinan BPK dipegang oleh M. Yusuf, namun baru terealisasi pada masa kepemimpinan J.B. Sumarlin. Dipilihnya Kota Magelang untuk lokasi museum ini karena kota ini mempunyai nilai sejarah bagi lahirnya BPK. Seperti diketahui bahwa setelah pemerintah menerbitkan Penetapan Pemerintah 1946 No. 11/OEM tertanggal 28 Desember 1946, maka BPK secara resmi didirikan pada Januari 1947.

Pada hari yang sama, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan R. Soerasno sebagai Ketua BPK, Dr. Aboetari sebagai Anggota, dan Djunaedi sebagai Sekretaris BPK. Ketiganya mulai bekerja per 1 Januari 1947 bersamaan dengan pendirian BPK tersebut.

Sejarah Kantor Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK)

Awalnya, Kantor BPK menempati bekas Gedung ANIEM (Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteits Maatschappij). Gedung ANIEM adalah bekas kantor perusahaan listrik umum Hindia Belanda, yang sekarang telah berubah menjadi sekolah yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan Kristen Pantekosta di Jalan Tentara Pelajar No. 64 Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah.

Tak berselang lama di gedung tersebut, Kantor BPK dipindahkan ke Gedung Bea Cukai Magelang yang berada di Jalan Diponegoro No. 36, yang masih satu kompleks dengan eks Karesidenan Kedu. Kemudian setelah Agresi Militer I Belanda, Kantor BPK kembali berpindah tempat. Kantor yang kemudian menjadi Kantor BPK berada di bangunan sayap sebelah kiri di Gedung Karesidenan Kedu. Pada saat itu, BPK hanya menempati dua ruangan.

Tak lama dari sana, Kantor BPK kembali dipindahkan ke Gedung Klooster yang terletak di Jalan Ahmad Yani No. 20 Kelurahan Panjang, Kecamatan Magelang Tengah. Klooster dalam bahasa Indonesia berarti biara, atau tempat para suster misionaris belajar dan bertempat tinggal. Gedung tersebut sekarang pengelolaannya diserahkan kepada Yayasan Pendidikan Tarakanita Magelang.

BPK berkantor di Magelang ini tak lama. Pada September 1947, BPK membuka kantor cabangnya di Yogyakarta. Tak berselang lama pula, Pemerintah pada 6 November 1947 menerbitkan Penetapan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1948 tentang Kedudukan BPK. Berdasarkan Penentapan Pemerintah tersebut, kedudukan BPK Pusat dipindahkan ke Yogyakarta. Mengingat, pada saat itu, seluruh kementerian dan kantor-kantor pemerintahan penting lainnya telah berada di Yogyakarta. Sekarang, BPK Pusat menetap di Jakarta.

Bangunan Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Musuem BPK

Museum BPK menempati ruangan yang memiliki panjang 29,95 meter dan lebar 19,5 meter. Ruangan-ruangan tersebut berada di bangunan sayap kiri kompleks Karesidenan Kedu. Jika dilihat dari lokasi alun-alun Kota Magelang, posisinya berada di sebelah kanan kompleks eks Karesidenan Kedu. Tepat setelah memasuki gapura Bakorwil II Kedu dan Surakarta.

Museum BPK ini sama seperti museum-museum kebanyakan, memiliki beberapa ruang pameran untuk memajang koleksi-koleksi yang dimiliki.

Ruang Pamer 1

Ruang Pamer 1 berada di bagian depan, memiliki ukuran panjang 16, 3 meter dan lebar 6 meter. Di ruang ini ditampilkan koleksi foto dan lukisan batik. Koleksi foto yang dipasang pada ruang ini, mengenai sejarah perjalanan BPK sendiri, pada waktu BPK berkantor di magelang, Yogyakarta, Bogor sampai berkantor di Jakarta.

Lukisan batik yang dipasang lumayang besar. Lukisan batik ini dibuat oleh Koeswadji (almarhum) pada tahun 1980 atas ide Ketua BPK periode 1973-1983, Umar Wirahadikusumah. Lukisan tersebut mempunyai makn filosofi yang terjabarkan dalam segmen-segmen yang tersirat dalam lukisan tersebut. Lukisan tersebut menggambarkan filosofi Pelaksanaan Tugas Pokok BPK dan mengilhami motto BPK: Tri Dharma Arthasantosha.

Ruang Pamer 2

Ruang ini berukuruan 8 x 6,05 meter. Ruang ini menampilkan meja dan kursi Ketua BPK pada waktu berkantor di Karesidenan Kedu tahun 1947, mesin ketik yang terletak di atas meja, pesawat telepon dan kamera. Jumlah semuanya ada 14 item. Baik meja, kursi, almari, mesin ketik dan pesawat telepon diletakkan seperti ketika BPK berkantor di ruangan ini.

Ruang Pamer 3

Ruang ini berukuran 6,05 x 4,35meter. Di ruang ini ditampilkan patung Ketua BPK pertama R. Soerasno, tanda pangkat, dan bendera-bendera daerah (pattaka). Pattaka yang ada di museum ini merupakan simbol yang menunjukkan luas wilayah pemeriksaan BPK.

Ruang Audio Visual

Dalam ruang audio visual , para pengunjung akan disuguhi tontonan sejarah BPK dan perjalanan BPK secara audio visual. Audio visual merupakan penjelasan koleksi-koleksi di museum ini. Audio visual digunakan agar masyarakat mengetahui BPK secara utuh. Tidak hanya barang-barang koleksi yang ada di sini saja tetapi juga BPK itu apa, tugasnya seperti apa, dan lain-lain.

Source Museum BPK Magelang
Comments
Loading...