Museum Zoologi Frater Vianney Malang

0 8

Museum Zoologi Frater Vianney

Di Indonesia tidak banyak Museum Zoologi. Selain Museum Zoologi di Bogor, di Malang juga terdapat sebuah Museum Zoologi yang memiliki koleksi biota kelautan terlengkap di Indonesia. Museum yang satu ini memang tidak begitu populer bahkan oleh masyarakat Malang sendiri, karena kemungkinan tidak banyak yang tahu. Museum ini berada dalam satu kompleks dengan Provinsialat Frater BHK (Bunda Hati Kudus), Novisiat Frater BHK, Kantor Pusat Yayasan Pendidikan Mardi Wiyata, dan makam Frater BHK. Tidak sulit untuk menemukan lokasi museum ini. Dari Kota Malang berjarak sekitar 15 km ke arah barat. Sampai di pertigaan Dau, jaraknya sekitar 10 km lagi dan tidak terlalu jauh dari Candi Badut. Letaknya persis di tepi jalan Raya Karangwidoro 7, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Kompleks seluas 3,5 hektar ini dikelilingi berbagai jenis pepohonan yang begitu hijau dan asri.

Pembangunan Museum Vianney ini diprakarsai oleh Frater M Clemens BHK yang sekarang menjadi Direktur museum ini. Dinamakan Museum Zoologi Frater Vianney karena sebagai penghormatan dan kenangan kepada gurunya, mendiang Frater Maria Vianney BHK. Frater Maria Vianney van Hoessel BHK adalah seorang biarawan berkebangsaan Belanda dari Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus yang sudah bertugas di Indonesia sejak tahun 1960-an. Beberapa tahun sebelum meninggal, Frater Vianney mendalami dunia kerang. Hobi ini yang kemudian dilanjutkan kepada Frater Clemens. Dunia kerang sempat didalami Fr. Clemens beberapa waktu sebelum kemudian terhenti.

Saat perpindahan kantor Dewan Provinsi dari Surabaya ke Malang (1998) menimbulkan hobi lama Fr. Clemens pun bangkit lagi. Clemens berinisiatif agar koleksi ini bisa dijadikan sumber belajar dan yayasan mendukung menyediakan tempat dan pendanaan. Sejak tahun 1998 koleksi yang terpisah di Malang dan Flores berhasil dikumpulkan kembali kemudian mendapat tempat penyimpanan dan gedung yang memadai. Selama periode 1998-2000 ular dan kerang mulai dikoleksi dengan intensif. Akhirnya sejak 27 November 2004 Museum Zoologi ini resmi dibuka untuk umum. Museum ini sekaligus sebagai laboratorium atau tempat belajar para pelajar dan mahasiswa di seluruh Indonesia. Tidak hanya siswa-siswi sekolah-sekolah Frateran saja.

Koleksi museum itu adalah gabungan dari koleksi almarhum Frater Vianney dan ditambah koleksi Clemens sendiri. Ribuan koleksi itu meliputi seluruh famili hewan Mollusca (hewan avertebrata bertubuh lunak) yang meliputi 80 famili yang ada di Indonesia dan beberapa negara lain. Ada ratusan spesimen (bahan koleksi individu tunggal atau beberapa individu) yang sudah teridentifikasi dengan baik oleh kedua orang tersebut.

Sebuah gedung berdiri kokoh di kompleks yang sejuk dan penuh bunga ini. Sebuah papan tergantung di pintu masuk bertuliskan “Museum Vianney, Koleksi Ular, Kerang-kerang Laut, dsb. Kolektor: F.R.M. Clemens, BHK. Laat Ons in God Verzinken Zonder de Wereld te Verlaten, yang artinya Hendaklah kita tenggelam dalam Tuhan tanpa meninggalkan dunia.

Memasuki gedung ini, Anda akan disambut dengan sebuah aula yang luas. Masuk lebih ke dalam, akan ditemukan berbagai etalase yang berisi beragam hewan yang telah diawetkan. Mulai dari kerang-kerangan, reptil, siput, burung-burung, dan harimau. Di salah satu sudut ruang terdapat pusat informasi dan sekretariat. Museum Zoologi Frater Vianney BHK memiliki motto Science Ad Laborem, yang artinya ilmu pengetahuan yang diabdikan pada masyarakat. Dengan motto itu, tak heran jika museum ini menjadi pusat sumber belajar bagi seluruh elemen lapisan masyarakat.

Koleksi Museum Zoologi meliputi lebih dari 12 ribu kerang yang terdiri dari cangkang siput, kerang, dan moluska yang tersimpan rapi. Setiap jenis ditempatkan di wadahnya sendiri-sendiri. Agar memudahkan pengunjung, tiap wadah ditulis jenis kerang dalam bahasa Latin, tahun koleksi, dan asal penemuan. Ada delapan rak berukuran besar berada di dalam gedung berlantai dua itu. Koleksinya ada sekitar 80 famili hewan mollusca yang berasal dari Indonesia dan beberapa negara lain. Tidak banyak disadari bahwa keluarga kerang-kerangan ini adalah kelompok fauna penting dalam rantai makanan. Meski perannya dalam ekologi belum banyak diketahui, kerang bisa menjadi indikator pencemaran suatu kawasan perairan karena sangat tahan pencemaran. Jika kerang sudah mati, maka kondisi pencemaran sudah sangat buruk.

Museum Zoologi Vianney juga mempunyai sekitar 500 jenis binatang langka yang diawetkan. Koleksi bukan hanya siput dan kerang tetapi juga terdapat unggas, reptil, amfibi, singa, kepala rusa, dan mamalia, serangga dan berbagai hewan laut. Bahkan, terdapat jenis kerang langka dari Laut Flores, yakni Nautilus pumpilius dan ular berbisa Vipera russeli yang hanya bisa ditemukan di Pulau Flores. Dari kelas reptilia berupa ular awetan basah meliputi ular weling, ular cincin mas, ular hijau serta iguana. Awetan kering singa (Panthera leo) didapatkan dari sumbangan Keraton Ngayogyakarta. Tak hanya dari dalam negeri, binatang yang dipajangkan juga ada yang berasal dari luar negeri. Di antaranya adalah iguana dari Amerika Selatan.

Selain mengoleksi binatang yang diawetkan, museum ini juga memelihara binatang yang masih hidup. Koleksi hewan hidup tersebut antara lain burung kasuari, tikus putih, ular cobra, ular phyton, buaya, ular hijau, kura-kura, burung hantu, burung cenderawasih, dan musang. Ada 100 jenis ular di dunia, tapi yang sering ditemui hanya sekitar 40 jenis. Sedangkan di tempat ini ada 20 jenis ular. Untuk merawat koleksi, awetan diletakkan di tempat kering dan tertutup rapat. Untuk membersihkan debu biasanya dibersihkan dengan lap kering. Karena jika menggunakan lap basah akan membuat berjamur.

Museum Vianney saat ini telah bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur dan menerima titipan hewan untuk dirawat. Untuk pengelolaan Museum Vianney, Clemens dibantu empat orang karyawan, dengan biaya perawatan dari yayasan dan pengunjung. Pihak pengelola membedakan tarif berdasarkan jenjang sekolah.

Untuk pengunjung keluarga yang datang ke sini, pengelola membebaskan berapapun yang ingin disumbangkan, karena memang tujuan didirikan museum ini untuk belajar. Setiap tahun Museum Zoologi Frater Vianney ini dikunjungi ribuan pelajar dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Frater Clemens pun biasanya memandu sendiri para pengunjung tersebut. Bahkan, Frater Clemens mengajak anak-anak itu bermain-main dengan ular, tentunya ular yang tidak berbisa. Biasanya November pengunjung museum mulai ramai. Hanya saja, masih terbilang sedikit karena belum banyak yang mengenal keberadaan museum ini.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/3732/museum-zoologi-frater-vianney/
Comments
Loading...