Museum Sarwo Edhie Wibowo Papua

0 17

Museum Sarwo Edhie Wibowo

Gedung museum ini dibangun atas prakarsa Pangdam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI Erfi Triassunu. Pembangunan museum Sarwo Edhie Wibowo bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada para pejuang Trikora khususnya dan didedikasikan kepada para Pangdam XVII/Cenderawasih terdahulu, dan kontribusinya dalam mempertahankan eksistensi NKRI di tanah Papua dan pengabdian luhur pada masyarakat Papua ini. Di samping untuk memberikan gambaran perjuangan Trikora dan mengisi kemerdekaan di tanah Papua.

Bangunan ini sengaja dibuat dengan gaya bangunan khas Papua. Gedung Museum Sarwo Edhie Wibowo berbentuk bangunan yang mewakili dua suku pegunungan dan pantai, jenis bangunan permanen dengan luas bangunan 250 meter persegi.

Pendirian Museum Sarwo Edhie Wibowo ini juga atas dasar pemahaman yang kuat bahwa Kodam XVII/Cenderawasih lahir dari kancah perjuangan bangsa Indonesia, perjuangan seluruh rakyat yang didorong oleh perasaan senasib sepenanggungan dan sikap rela berkorban, adanya kepercayaan diri yang kuat, semangat pantang menyerah untuk mengintegrasikan seluruh wilayah nasional dari Sabang sampai Merauke. Inilah sepenggal sejarah yang melatarbelakangi lahirnya Kodam XVII/Cenderawasih, yang selanjutnya menjadi inspirasi berdirinya Museum Sarwo Edhie Wibowo.

Pada saat itu, dalam suasana konflik dengan Belanda atas penyelesaian pengembalian Irian Barat, Presiden RI Bung Karno mengumandangkan  Tri Komado Rakyat yang disingkat TRIKORA di Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1961. Tri Komando Rakyat ini mendapat respon dan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat Irian Barat.

Untuk mewujudkan Tri Komando Rakyat tersebut, pada bulan Februari 1962 dibentuk Komando Mandala pembebasan Irian Barat dengan Panglima Mayjen TNI Soeharto.

Pada tanggal 8 Agustus 1962, Panglima Angkatan Darat membentuk Kodam XVII Irian Barat dengan Surat Keputusan Pangad Nomor: KPTS 1052/8/1962 dengan nama lengkapnya Komando Daerah Militer Irian Barat. Selanjutnya tanggal 15 Agustus 1962 berlangsung perundingan secara bilateral pemerintah Republik Indonesia dengan Belanda di New York yang menghasilkan penandatanganan Persetujuan Indonesia-Nederland mengenai:

  1. Gencatan senjata dilakukan di Irian Barat
  2. Belanda akan menyerahkan Irian Barat kepada Republik Indonesia melalui PBB

Sebagai tindak lanjut persetujuan New York tersebut, maka PBB membentuk pemerintahan transisi di Irian Barat, yaitu UNTEA (United Nation Temporary Executive Authority). Untuk menyiapkan pengalihan tanggung jawab keamanan dari UNTEA, Pemerintah Republik Indonesia membentuk satuan tugas yang disebut Kontingen Indonesia Irian Barat (KOTINDO) yang secara taktis di bawah UNTEA yang kemudian menjadi inti Kodan XVII/Irian Barat. Pada tanggal 1 Mei 1963, UNTEA menyerahkan Irian Barat kepada Pemerintah Republik Indonesia, dan selanjutnya pada tanggal 17 Mei 1963 Kodam XVII/Irian Barat dirubah menjadi Kodam XVII/Cenderawasih, yang segera melaksanakan fungsinya baik sebagai kekuatan pertahanan keamanan maupun sebagai kekuatan social masyarakat. Atas dasar fakta sejarah ini, maka pada tanggal 17 Mei 1963 ditetapkan sebagai hari jadi Kodam XVII/Cenderawasih.

Itulah catatan sejarah yang menjadi latar belakang pendirian museum ini. Perlu diketahui, persiapan pendirian museum dimulai pada tanggal 7 April 2011 dengan peletakan batu pertamanya oleh Pangdam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI Erfi Triassunu. Gedung ini diresmikan sebagai museum pada tangga 30 November 2011 dan didedikasikan khusus untuk Sarwo Edhie Wibowo sebagai Pangdam XVII/Cenderawasih yang ke-4 (1968-1970) serta seluruh Pangdam XVII/Cenderawasih yang terdahulu dan kepada para pejuang Trikora. Lokasi gedung museum terletak sekitar 3 Km dari pusat kota Jayapura.

Source http://kekunaan.blogspot.com http://kekunaan.blogspot.com/2012/08/museum-sarwo-edhie-wibowo.html
Comments
Loading...